Bab 1: Membaca Santren sebagai Objek Antropologi
Jika kita berdiri di depan sebuah santren, apa sebenarnya yang sedang kita lihat?
Jawaban paling cepat mungkin: tempat orang belajar agama. Jawaban itu benar, tetapi belum cukup. Santren bukan hanya bangunan. Ia juga bukan hanya kegiatan mengaji. Di dalam santren ada hubungan antara guru dan murid, cara masyarakat menghormati ilmu, pola sedekah, aturan adab, ingatan tentang pendiri, jaringan keluarga, bahasa lokal, kitab, doa, jadwal harian, dan harapan sosial tentang seperti apa seorang Muslim Sasak yang baik. Dengan kata lain, santren adalah institusi sosial-keagamaan.
Istilah institusi berarti pola kehidupan yang berlangsung berulang, diakui oleh banyak orang, dan mengatur tindakan sosial. Keluarga adalah institusi karena orang mengetahui siapa yang disebut ayah, ibu, anak, paman, dan bagaimana mereka seharusnya saling memperlakukan. Pasar adalah institusi karena orang memahami aturan membeli, menjual, menawar, berutang, dan membayar. Santren juga demikian. Orang mengetahui siapa yang dianggap guru, siapa yang disebut murid, kapan pengajian dilakukan, bagaimana adab duduk di hadapan guru, kitab apa yang dipelajari, dan mengapa masyarakat perlu membantu keberlangsungan tempat itu.
Dalam antropologi, santren dapat dibaca sebagai tempat di mana agama, budaya, kekuasaan, ekonomi, dan sejarah bertemu. Clifford Geertz menyebut kebudayaan sebagai jaringan makna yang dipintal manusia sendiri, dan tugas antropologi adalah menafsirkan jaringan makna itu melalui apa yang ia sebut thick description, yaitu deskripsi yang tidak hanya mencatat tindakan, tetapi juga menjelaskan makna sosial tindakan tersebut (Geertz, 1973). Bila seseorang melihat murid mencium tangan guru, deskripsi tipis hanya mengatakan, “murid mencium tangan guru.” Deskripsi tebal bertanya lebih jauh: apa makna tindakan itu? Apakah ia tanda hormat? Apakah ia bagian dari adab belajar? Apakah ia menegaskan otoritas keilmuan? Apakah semua murid melakukannya dengan cara yang sama? Apakah perempuan dan laki-laki melakukannya dalam ruang yang sama atau berbeda?
Bab ini mengajak kita mulai membaca santren dengan cara seperti itu: perlahan, teliti, dan tidak tergesa-gesa menyimpulkan.
Santren sebagai istilah lokal dan kategori analitis
Dalam buku ini, santren dipahami sebagai istilah yang menunjuk pada lembaga Islam tradisional dalam masyarakat Sasak. Ia berkaitan dengan pengajaran agama, pembentukan adab, hubungan guru-murid, dan kehidupan sosial komunitas Muslim setempat. Istilah ini perlu dipahami dengan hati-hati karena kata-kata lokal sering memiliki sejarah penggunaan yang beragam. Di satu desa, orang mungkin memakai kata santren untuk merujuk pada tempat mengaji yang sederhana. Di tempat lain, istilah itu mungkin berdekatan dengan pesantren, madrasah, atau pondok. Karena itu, peneliti tidak boleh memaksakan satu definisi dari luar sebelum mendengar bagaimana masyarakat sendiri memakainya.
Di sini kita perlu mengenal dua istilah antropologi: emik dan etik. Istilah emik merujuk pada cara orang dalam suatu komunitas memahami dan menamai dunia mereka sendiri. Istilah etik merujuk pada kategori analitis yang dipakai peneliti untuk membandingkan, menjelaskan, atau menyusun argumen akademik. Jika warga desa menyebut suatu tempat sebagai “santren”, itu adalah kategori emik. Ketika peneliti menyebutnya sebagai “institusi sosial-keagamaan”, itu adalah kategori etik. Keduanya penting. Tanpa kategori emik, peneliti mudah salah memahami makna lokal. Tanpa kategori etik, peneliti sulit membangun analisis yang dapat dibaca secara akademik.
Contohnya begini. Seorang peneliti datang ke sebuah desa Sasak dan mendengar warga berkata, “Anak itu dulu belajar di santren Tuan Guru Haji X.” Peneliti tidak boleh langsung menganggap santren itu sama persis dengan pesantren besar di Jawa yang memiliki asrama, kurikulum formal, ribuan santri, dan jenjang pendidikan resmi. Ia perlu bertanya: apakah murid tinggal di sana? Apakah ada jadwal tetap? Apakah kitab kuning dipelajari? Apakah santren itu terkait dengan masjid, rumah guru, atau yayasan? Apakah masyarakat menyebut muridnya “santri”, “murid”, atau istilah lain? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membantu peneliti menghormati istilah lokal sekaligus menyusun pemahaman akademik.
Dalam studi tentang pesantren di Indonesia, para peneliti telah menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Islam tradisional tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar teks agama, tetapi juga sebagai pusat otoritas moral, jaringan sosial, dan reproduksi tradisi keilmuan. Zamakhsyari Dhofier, misalnya, menekankan pentingnya relasi kiai, santri, masjid, pondok, dan kitab klasik dalam dunia pesantren Jawa (Dhofier, 1982). Martin van Bruinessen juga menunjukkan bahwa kitab kuning dan jaringan ulama memainkan peran penting dalam pembentukan tradisi Islam pesantren di Indonesia (van Bruinessen, 1995). Namun, santren Sasak tidak boleh hanya disalin dari model Jawa. Perbandingan dengan pesantren berguna, tetapi kekhasan lokal Sasak tetap harus diteliti dari dalam konteksnya sendiri.
Mengapa santren perlu dibaca secara antropologis?
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia melalui kebudayaan, relasi sosial, praktik sehari-hari, dan makna yang hidup dalam komunitas. Antropologi tidak puas hanya dengan bertanya, “Apa ajarannya?” Ia juga bertanya, “Bagaimana ajaran itu dijalani?” “Siapa yang mengajarkannya?” “Bagaimana orang belajar menjadi bagian dari komunitas itu?” “Apa yang berubah ketika kondisi ekonomi, politik, atau teknologi berubah?”
Bronislaw Malinowski, salah satu tokoh penting antropologi modern, menekankan pentingnya kerja lapangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat yang diteliti (Malinowski, 1922). Dalam penelitian santren, prinsip ini berarti peneliti tidak cukup hanya membaca dokumen pendirian lembaga atau daftar kitab. Ia perlu mengamati pengajian, mendengar percakapan warga, memperhatikan ruang belajar, memahami hubungan antara guru dan keluarga murid, serta mencatat bagaimana masyarakat memberi makna pada keberadaan santren.
Misalnya, dalam sebuah pengajian malam, peneliti mungkin melihat murid duduk melingkar di serambi masjid. Guru membaca kitab, menerjemahkan, lalu memberi penjelasan dalam bahasa yang dipahami murid. Di luar serambi, beberapa warga menyiapkan kopi. Anak-anak kecil berlarian di halaman. Seorang bapak datang membawa beras sebagai sedekah. Jika dibaca secara antropologis, peristiwa itu bukan hanya proses belajar. Ia juga menunjukkan hubungan antara ilmu, ruang, sedekah, otoritas, keluarga, dan kehidupan desa.
Santren menjadi objek antropologi karena ia memperlihatkan beberapa lapisan penting.
Pertama, santren adalah ruang pendidikan. Di sana orang belajar membaca Al-Qur’an, memahami fikih, mengenal akhlak, menghafal doa, dan mempelajari kitab. Tetapi pendidikan di santren bukan hanya pemindahan informasi dari guru ke murid. Pendidikan juga membentuk cara duduk, cara berbicara, cara menghormati guru, cara berpakaian, dan cara menilai tindakan baik atau buruk.
Kedua, santren adalah ruang otoritas. Otoritas berarti kemampuan seseorang atau lembaga untuk diakui sebagai sumber arahan yang sah. Seorang tuan guru dihormati bukan hanya karena ia tahu banyak, tetapi karena masyarakat mengakui ilmunya, kesalehannya, silsilah belajarnya, dan perannya dalam kehidupan sosial. Otoritas ini tidak muncul secara otomatis. Ia dibentuk melalui proses panjang: belajar kepada guru lain, mengajar murid, memimpin ritual, menyelesaikan persoalan warga, dan menjaga reputasi moral.
Ketiga, santren adalah ruang tradisi. Tradisi sering disalahpahami sebagai sesuatu yang tua, tetap, dan tidak berubah. Dalam ilmu sosial, tradisi lebih tepat dipahami sebagai praktik dan makna yang diwariskan, diulang, diperdebatkan, dan disesuaikan dari waktu ke waktu. Eric Hobsbawm dan Terence Ranger menunjukkan bahwa banyak tradisi yang tampak tua sebenarnya dibentuk, ditata ulang, atau diberi makna baru dalam konteks sejarah tertentu (Hobsbawm & Ranger, 1983). Ini tidak berarti tradisi itu palsu. Artinya, tradisi hidup karena terus dipraktikkan, diingat, dan dinegosiasikan.
Keempat, santren adalah ruang sosial-ekonomi. Ia membutuhkan makanan, bangunan, kitab, tanah, waktu, tenaga, dan dukungan warga. Sedekah, wakaf, kerja gotong royong, bantuan keluarga guru, atau hasil pertanian dapat menjadi bagian dari ekonomi santren. Karena itu, meneliti santren juga berarti meneliti bagaimana masyarakat mengatur pemberian, kewajiban moral, dan keberlanjutan lembaga.
Kelima, santren adalah ruang identitas. Identitas berarti cara seseorang atau kelompok memahami siapa dirinya. Dalam konteks ini, santren dapat membentuk identitas Muslim Sasak: bagaimana seseorang menjadi Muslim yang baik, bagaimana ia menghormati adat, bagaimana ia membedakan praktik yang dianggap sah dan tidak sah, serta bagaimana ia memposisikan diri di hadapan perubahan modern.
Santren dalam masyarakat Sasak
Masyarakat Sasak adalah kelompok etnolinguistik utama di Pulau Lombok. Kajian tentang masyarakat Sasak sering menyoroti hubungan antara Islam, adat, stratifikasi sosial, dan perubahan keagamaan. Sven Cederroth, dalam penelitiannya tentang komunitas Sasak di Lombok, menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan Sasak tidak dapat dipahami hanya sebagai doktrin formal, karena ia terhubung dengan leluhur, ritual lokal, dan perubahan orientasi keagamaan menuju pusat-pusat Islam yang lebih luas (Cederroth, 1981). Erni Budiwanti juga membahas ketegangan dan interaksi antara kategori Wetu Telu dan Waktu Lima dalam Islam Sasak, yang menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan di Lombok memiliki sejarah negosiasi antara adat, praktik lokal, dan pembaruan Islam (Budiwanti, 2000).
Penting untuk membaca temuan-temuan seperti itu secara hati-hati. Tujuannya bukan membekukan masyarakat Sasak dalam gambaran lama, seolah-olah semua orang Sasak selalu hidup dalam oposisi Wetu Telu dan Waktu Lima. Masyarakat berubah. Desa berubah. Pendidikan berubah. Organisasi keagamaan, migrasi, media sosial, dan pendidikan tinggi ikut mengubah cara orang memahami Islam. Namun, karya-karya tersebut membantu kita melihat satu hal penting: Islam Sasak memiliki sejarah sosial yang kompleks. Santren harus ditempatkan dalam kompleksitas itu.
Contohnya, sebuah santren mungkin berdiri di desa yang memiliki tradisi adat kuat. Pada saat yang sama, santren itu mengajarkan fikih Syafi‘i, membaca kitab kuning, dan menghubungkan murid dengan jaringan tuan guru di Lombok atau luar Lombok. Di sini tidak cukup mengatakan bahwa santren “melawan adat” atau “menjaga adat”. Dalam banyak kasus, santren mungkin melakukan keduanya sekaligus: mengoreksi sebagian praktik adat, mempertahankan sebagian tata sosial lokal, dan memberi tafsir baru atas ritual komunitas.
Misalnya, dalam upacara kematian, masyarakat mungkin memiliki kebiasaan berkumpul, membaca doa, memberi makan tamu, dan mengingat almarhum. Seorang guru santren dapat mendukung unsur doa dan solidaritas sosial, tetapi mengkritik unsur yang dianggap berlebihan secara biaya atau tidak sesuai dengan pemahaman agama tertentu. Di sini santren menjadi tempat negosiasi: bukan hanya tempat menyampaikan aturan, tetapi juga tempat masyarakat belajar menata kembali hubungan antara agama, adat, dan kebutuhan sosial.
Mengapa genealogi penting?
Kata genealogi pada mulanya berarti penelusuran garis keturunan. Dalam kehidupan sehari-hari, genealogi dapat berarti silsilah keluarga: siapa anak siapa, siapa cucu siapa, dan dari mana sebuah keluarga berasal. Dalam studi sosial, genealogi diperluas menjadi penelusuran asal-usul, hubungan, perubahan, dan kondisi yang membuat suatu praktik atau institusi terbentuk.
Michel Foucault memakai genealogi untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang tampak wajar pada masa kini sering memiliki sejarah yang berlapis, penuh pertarungan, dan tidak selalu berasal dari satu sumber tunggal (Foucault, 1977). Pendekatan ini berguna untuk membaca santren karena santren tidak muncul begitu saja. Ia terbentuk melalui hubungan guru-murid, perpindahan pengetahuan, dukungan masyarakat, perubahan politik, kebijakan negara, adat lokal, jaringan ulama, dan kebutuhan pendidikan.
Genealogi santren tidak sama dengan mencari “asal mula paling murni”. Jika kita bertanya, “Santren pertama berasal dari mana?” kita mungkin tergoda mencari satu tokoh pendiri, satu tahun, atau satu peristiwa. Informasi semacam itu penting, tetapi belum cukup. Pertanyaan genealogis yang lebih kaya adalah: bagaimana seseorang diakui sebagai pendiri? Siapa gurunya? Dari mana kitab dan metode belajarnya? Mengapa masyarakat mempercayai lembaga itu? Apa yang berubah setelah pendiri wafat? Bagaimana santren bertahan ketika negara memperkenalkan sekolah formal? Bagaimana santren menanggapi organisasi keagamaan, modernisasi, atau dakwah digital?
Contohnya, sebuah santren mungkin diceritakan berdiri karena seorang tuan guru pulang dari belajar di luar desa. Ia mulai mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an di rumahnya. Lama-kelamaan murid bertambah. Warga membangun tempat mengaji. Setelah itu, sebagian murid tinggal di sekitar rumah guru. Generasi berikutnya menambah pelajaran fikih, bahasa Arab, dan kitab. Kemudian santren mendaftarkan diri sebagai yayasan agar dapat berhubungan dengan administrasi negara. Jika kita hanya mencatat “santren berdiri tahun 1975”, kita kehilangan proses sosial yang membuat tahun itu bermakna.
Genealogi juga membantu kita memahami bahwa perubahan tidak selalu berarti putus dari tradisi. Ketika santren mulai memakai pengeras suara, membuat grup WhatsApp alumni, atau mengadakan kelas formal, perubahan itu bisa menjadi cara baru untuk mempertahankan fungsi lama: mengajar, menghubungkan murid, dan menjaga otoritas keagamaan. Sebaliknya, sesuatu yang tampak tradisional mungkin sebenarnya hasil penataan baru. Karena itu, genealogi melatih kita untuk tidak cepat menyebut suatu praktik “asli”, “baru”, “murni”, atau “menyimpang” tanpa memeriksa sejarahnya.
Antropologi, sejarah, dan studi Islam: tiga cara membaca
Santren dapat dikaji dari banyak disiplin. Tiga pendekatan yang paling dekat adalah antropologi, sejarah, dan studi Islam. Ketiganya sering bertemu, tetapi masing-masing memiliki tekanan yang berbeda.
Antropologi bertanya bagaimana santren dijalani, dimaknai, dan dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari. Antropolog memperhatikan praktik, relasi sosial, bahasa tubuh, ruang, emosi, simbol, dan pengalaman. Jika seorang guru mengajar kitab fikih, antropolog tidak hanya bertanya isi kitabnya, tetapi juga bagaimana murid duduk, bagaimana guru menerjemahkan, bagaimana otoritas dibangun, siapa yang boleh bertanya, dan bagaimana pelajaran itu memengaruhi kehidupan warga.
Sejarah bertanya kapan, bagaimana, dan dalam kondisi apa santren berkembang. Sejarawan mencari urutan waktu, perubahan peristiwa, arsip, dokumen, catatan lisan, silsilah, naskah, dan hubungan sebab-akibat. Jika meneliti santren yang sama, sejarawan mungkin bertanya: kapan pendiri mulai mengajar? Apa hubungan santren dengan perubahan pemerintahan desa? Apakah ada pengaruh kebijakan pendidikan kolonial atau negara Indonesia? Kapan kurikulum berubah? Siapa saja generasi penerusnya?
Studi Islam bertanya tentang ajaran, teks, norma, tradisi keilmuan, tafsir, fikih, teologi, tasawuf, dan sanad keilmuan. Sanad berarti rantai transmisi ilmu dari seorang guru kepada guru sebelumnya, terus ke belakang hingga mencapai sumber otoritatif tertentu. Dalam konteks pengajaran agama, sanad dapat menjadi dasar legitimasi: seorang guru dianggap layak mengajar karena ia pernah belajar kepada guru yang diakui. Jika meneliti santren, sarjana studi Islam mungkin bertanya: kitab apa yang dipakai? Mazhab fikih apa yang dominan? Bagaimana konsep tauhid diajarkan? Apakah ada tarekat? Bagaimana posisi hadis, tafsir, dan bahasa Arab dalam kurikulum?
Perbedaannya dapat dilihat melalui satu contoh sederhana: pengajian kitab fikih di malam Jumat.
Seorang antropolog akan mengamati suasana pengajian, posisi duduk, relasi guru-murid, keterlibatan warga, bahasa yang dipakai, dan makna sosial pengajian itu bagi komunitas. Seorang sejarawan akan menelusuri sejak kapan pengajian malam Jumat berlangsung, siapa yang memulainya, dan bagaimana ia berubah dari generasi ke generasi. Seorang sarjana studi Islam akan membaca isi kitab, menjelaskan konsep fikih yang diajarkan, dan menilai hubungannya dengan tradisi hukum Islam yang lebih luas.
Ketiga pendekatan itu tidak perlu dipertentangkan. Justru penelitian yang baik sering memadukannya. Namun, karena buku ini berada dalam bidang antropologi, perhatian utamanya adalah pada santren sebagai praktik sosial yang hidup: bagaimana ia dijalani oleh manusia nyata dalam ruang, waktu, dan hubungan sosial tertentu.
Islam sebagai tradisi yang hidup
Untuk membaca santren secara antropologis, kita juga perlu berhati-hati terhadap dua kesalahan umum.
Kesalahan pertama adalah melihat Islam hanya sebagai kumpulan teks. Teks memang penting. Al-Qur’an, hadis, kitab fikih, kitab akhlak, dan kitab tauhid adalah bagian utama dari pendidikan Islam. Namun, teks selalu dipelajari melalui guru, bahasa, metode, institusi, dan kebiasaan. Sebuah kitab yang sama dapat diajarkan dengan gaya yang berbeda di tempat yang berbeda.
Kesalahan kedua adalah melihat praktik masyarakat hanya sebagai “budaya lokal” yang terpisah dari Islam. Talal Asad mengusulkan agar Islam dipahami sebagai tradisi diskursif, yaitu tradisi yang berisi pembicaraan, argumen, otoritas, dan praktik tentang bagaimana menjadi Muslim yang benar dalam hubungan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan (Asad, 1986). Dengan pengertian ini, santren dapat dilihat sebagai tempat di mana tradisi Islam dibicarakan, diajarkan, dipraktikkan, dan diperdebatkan.
Misalnya, ketika seorang tuan guru menjelaskan apakah suatu ritual desa boleh dilakukan atau tidak, ia tidak sekadar menyampaikan opini pribadi. Ia mungkin merujuk pada ayat, hadis, kaidah fikih, pendapat ulama, pengalaman guru-gurunya, dan kondisi masyarakat. Murid dan warga kemudian menerima, menafsirkan, atau mungkin mempertanyakan penjelasan itu. Di sini Islam hidup sebagai tradisi diskursif: ada teks, otoritas, argumen, praktik, dan komunitas.
Pendekatan ini membantu kita menghindari anggapan bahwa agama dan budaya selalu berdiri sebagai dua kotak terpisah. Dalam kehidupan nyata, orang belajar agama melalui bahasa ibu, keluarga, adat sopan santun, kalender desa, ruang masjid, dan pengalaman sosial. Santren menjadi salah satu tempat penting di mana semua unsur itu bertemu.
Dari bangunan ke relasi sosial
Salah satu latihan awal dalam membaca santren secara antropologis adalah mengubah fokus dari benda ke hubungan. Benda tetap penting, tetapi maknanya muncul melalui relasi sosial.
Ambil contoh sebuah kitab kuning. Secara fisik, ia adalah buku berbahasa Arab, biasanya tanpa harakat lengkap, yang dipakai dalam pengajaran tradisional Islam. Dalam studi pesantren Indonesia, kitab kuning telah lama dipahami sebagai unsur penting dalam transmisi keilmuan Islam tradisional (van Bruinessen, 1995). Tetapi secara antropologis, kitab itu bukan hanya benda. Ia adalah pusat hubungan. Guru memiliki otoritas untuk membaca dan menjelaskan. Murid belajar cara memberi makna pada teks. Komunitas menghargai orang yang mampu memahami kitab. Alumni membawa pengetahuan itu ke desa lain. Kitab menjadi penghubung antara ruang lokal santren dan tradisi keilmuan Islam yang lebih luas.
Hal yang sama berlaku pada masjid, rumah guru, pondokan, halaman, mimbar, pengeras suara, pakaian, dan jadwal pengajian. Masjid bukan hanya bangunan ibadah; ia dapat menjadi pusat belajar, musyawarah, dan pengumuman sosial. Rumah guru bukan hanya tempat tinggal; ia bisa menjadi ruang konsultasi, tempat meminta doa, dan simbol kedekatan antara otoritas agama dan masyarakat. Halaman bukan hanya ruang kosong; ia bisa menjadi tempat murid menunggu, warga berkumpul, atau anak-anak belajar mengenal dunia santren sebelum menjadi murid tetap.
Dengan cara ini, antropologi mengajarkan bahwa santren tidak berdiri sendiri. Ia adalah simpul dalam jaringan sosial. Ada keluarga yang mengirim anaknya belajar. Ada guru yang menjaga reputasi. Ada warga yang memberi dukungan. Ada alumni yang membuka pengajian baru. Ada organisasi keagamaan yang memberi kerangka ideologis. Ada negara yang mengatur administrasi pendidikan. Ada teknologi digital yang memperluas dakwah. Semua hubungan itu membentuk kehidupan santren.
Membaca tanpa meromantisasi dan tanpa merendahkan
Mempelajari santren menuntut sikap seimbang. Kita perlu menghormati santren sebagai lembaga yang memiliki nilai, sejarah, dan peran sosial. Tetapi menghormati tidak berarti menutup mata terhadap konflik, ketimpangan, atau perubahan yang sulit. Sebaliknya, bersikap kritis tidak berarti merendahkan tradisi lokal.
Meromantisasi berarti menggambarkan santren seolah-olah selalu harmonis, suci, dan bebas dari masalah. Padahal, seperti institusi sosial lain, santren dapat mengalami konflik kepemimpinan, sengketa tanah wakaf, perbedaan pandangan keagamaan, masalah ekonomi, atau ketegangan antara generasi tua dan muda. Merendahkan berarti melihat santren sebagai lembaga “terbelakang” hanya karena ia berbeda dari sekolah modern. Pandangan seperti ini juga keliru, karena santren memiliki logika pendidikan, jaringan sosial, dan cara pembentukan moral yang perlu dipahami secara serius.
Peter Berger dan Thomas Luckmann menjelaskan bahwa kenyataan sosial dibentuk melalui proses pembiasaan, pelembagaan, dan legitimasi; apa yang tampak “wajar” dalam masyarakat sering merupakan hasil konstruksi sosial yang berlangsung lama (Berger & Luckmann, 1966). Dalam konteks santren, adab kepada guru, jadwal pengajian, penghormatan kepada pendiri, atau cara memberi sedekah mungkin terasa wajar bagi warga karena telah dilembagakan melalui pengulangan dan pengakuan bersama. Tugas peneliti adalah memahami bagaimana kewajaran itu terbentuk, bukan langsung memujinya atau mencelanya.
Contoh sikap seimbang dapat dilihat dalam penelitian tentang disiplin murid. Seorang peneliti mungkin menemukan aturan ketat tentang waktu salat, pakaian, atau penggunaan telepon genggam. Ia tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa aturan itu menindas, tetapi juga tidak boleh langsung menganggapnya pasti baik. Ia perlu bertanya: siapa yang membuat aturan? Bagaimana murid memahaminya? Apakah aturan berlaku sama untuk semua? Apakah ada ruang negosiasi? Apa tujuan moralnya? Apa dampaknya bagi pengalaman belajar?
Pertanyaan dasar untuk bab-bab berikutnya
Bab ini adalah pintu masuk. Bab-bab berikutnya akan membahas konsep genealogi, masyarakat Sasak, islamisasi Lombok, perbandingan santren dan pesantren, ruang material santren, jaringan tuan guru, kurikulum, adat, kekuasaan, ekonomi, gender, ritual, konflik, metode penelitian, hingga digitalisasi. Namun semua pembahasan itu bertumpu pada satu gagasan awal: santren harus dibaca sebagai institusi hidup.
Untuk mulai membaca santren secara antropologis, simpan beberapa pertanyaan dasar berikut dalam pikiran.
Apa yang disebut santren oleh masyarakat setempat? Siapa yang berhak menamai dan menjelaskannya? Bagaimana hubungan guru dan murid dibangun? Apa saja praktik harian yang membentuk kehidupan santren? Bagaimana santren memperoleh dukungan ekonomi dan moral dari masyarakat? Bagaimana ia berhubungan dengan adat Sasak? Bagaimana ia berubah ketika bertemu sekolah formal, negara, organisasi Islam, migrasi, dan media digital? Bagaimana cerita asal-usul santren disampaikan, diingat, dan kadang diperdebatkan?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk dijawab secara cepat. Dalam antropologi, pertanyaan yang baik sering lebih berharga daripada jawaban yang tergesa-gesa. Ia membuka jalan untuk melihat lapisan-lapisan yang sebelumnya tersembunyi.
Santren, pada akhirnya, bukan hanya tempat orang belajar agama. Ia adalah ruang tempat masyarakat Sasak membentuk ingatan, otoritas, adab, ilmu, solidaritas, dan identitas Muslim. Membaca santren sebagai objek antropologi berarti belajar melihat semua lapisan itu sekaligus: teks dan tubuh, bangunan dan relasi, adat dan agama, masa lalu dan perubahan, guru dan masyarakat.
Dengan bekal ini, kita dapat melangkah ke bab berikutnya: memahami konsep dasar genealogi, tradisi, dan institusi agar penelusuran asal-usul santren tidak jatuh menjadi cerita linear yang terlalu sederhana.
References
Asad, Talal. 1986. The Idea of an Anthropology of Islam. Washington, DC: Center for Contemporary Arab Studies, Georgetown University.
Berger, Peter L., and Thomas Luckmann. 1966. The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge. Garden City, NY: Anchor Books.
Budiwanti, Erni. 2000. Islam Sasak: Wetu Telu versus Waktu Lima. Yogyakarta: LKiS.
Cederroth, Sven. 1981. The Spell of the Ancestors and the Power of Mekkah: A Sasak Community on Lombok. Göteborg: Acta Universitatis Gothoburgensis.
Dhofier, Zamakhsyari. 1982. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.
Foucault, Michel. 1977. “Nietzsche, Genealogy, History.” In Language, Counter-Memory, Practice: Selected Essays and Interviews, edited by Donald F. Bouchard, translated by Donald F. Bouchard and Sherry Simon, 139–164. Ithaca, NY: Cornell University Press.
Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Hobsbawm, Eric, and Terence Ranger, eds. 1983. The Invention of Tradition. Cambridge: Cambridge University Press.
Malinowski, Bronislaw. 1922. Argonauts of the Western Pacific. London: George Routledge & Sons.
van Bruinessen, Martin. 1995. Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan.