Bab 1: Cara Kerja Hangeul
Ketika pertama kali melihat tulisan Korea, banyak pembelajar merasa bahwa Hangeul tampak seperti “gambar-gambar kecil” yang harus dihafal satu per satu. Kesan itu wajar, tetapi kurang tepat. Hangeul bukan kumpulan gambar acak. Hangeul adalah sistem tulisan yang memiliki aturan penyusunan huruf, aturan pembentukan suku kata, dan hubungan yang cukup teratur antara lambang tertulis dan bunyi bahasa Korea.
Dalam bab ini, kita belum akan mengejar banyak kosakata. Tujuan kita lebih mendasar: memahami cara kerja mesin Hangeul. Jika mesin ini sudah jelas, bab-bab berikutnya akan terasa jauh lebih ringan. Anda akan melihat bahwa bentuk seperti 가, 고, 한, dan 국 bukan simbol tunggal yang harus ditebak, melainkan blok yang dapat diurai dan dibaca secara sistematis.
1.1 Apa itu Hangeul?
Hangeul adalah sistem tulisan utama untuk bahasa Korea modern. Sistem tulisan berarti seperangkat lambang yang dipakai untuk menuliskan bahasa. Bahasa adalah bunyi dan makna yang digunakan manusia untuk berkomunikasi; tulisan adalah cara merekam bahasa itu dalam bentuk visual. Dalam bahasa Indonesia, kita menulis dengan alfabet Latin, misalnya a, b, c, d. Dalam bahasa Korea, kita menulis dengan Hangeul, misalnya ㄱ, ㄴ, ㅏ, ㅗ, dan bentuk gabungannya seperti 가, 나, 고, 한.
Secara historis, Hangeul dikaitkan dengan Raja Sejong dan karya abad ke-15 yang dikenal sebagai Hunminjeongeum, “bunyi yang benar untuk mengajar rakyat”. Sistem ini dipromulgasikan pada tahun 1446, dan penjelasan desainnya menjadi salah satu alasan Hangeul sering dibahas sebagai sistem tulisan yang dirancang secara sadar, bukan berkembang sepenuhnya secara bertahap seperti banyak sistem tulisan lain (Kim-Renaud, 1997; Lee & Ramsey, 2000).
Hal penting bagi pembaca pemula adalah ini: Hangeul menuliskan bunyi bahasa Korea melalui huruf-huruf yang digabung menjadi blok suku kata. Jadi, Hangeul bekerja pada dua tingkat sekaligus.
Pertama, ada tingkat huruf. Contohnya:
ㄱㄴㅁㅏㅗ
Kedua, ada tingkat blok suku kata. Contohnya:
가나모한국
Blok seperti 가 tampak seperti satu bentuk utuh, tetapi sebenarnya terdiri dari huruf-huruf kecil di dalamnya. 가 tersusun dari ㄱ dan ㅏ. Dengan kata lain, saat membaca Hangeul, kita tidak menghafal 가 sebagai gambar baru yang terpisah dari ㄱ dan ㅏ; kita belajar menggabungkan bagian-bagiannya.
1.2 Huruf Hangeul disebut jamo
Huruf-huruf penyusun Hangeul disebut jamo. Istilah jamo merujuk pada unsur huruf dasar yang membentuk blok Hangeul. Dalam pembelajaran awal, kita bisa memahami jamo sebagai “huruf Hangeul”, yaitu bagian kecil seperti ㄱ, ㄴ, ㅏ, dan ㅗ.
Jamo terbagi menjadi dua kelompok besar:
- Konsonan, yaitu lambang bunyi yang biasanya membutuhkan vokal agar menjadi suku kata yang mudah diucapkan.
- Vokal, yaitu lambang bunyi yang dapat menjadi inti suku kata.
Perbedaan konsonan dan vokal juga ada dalam bahasa Indonesia. Dalam kata ba, bunyi b adalah konsonan dan bunyi a adalah vokal. Bunyi a dapat diucapkan sendiri dengan jelas, sedangkan b lebih alami diucapkan bersama vokal, misalnya ba, bi, atau bu.
Dalam Hangeul, contoh konsonan adalah:
ㄱㄴㄷㅁㅂ
Contoh vokal adalah:
ㅏㅓㅗㅜㅡㅣ
Nanti, pada Bab 2 dan Bab 3, kita akan mempelajari bunyi masing-masing huruf dengan lebih teliti. Untuk sekarang, yang paling penting adalah memahami bahwa blok Hangeul dibangun dari gabungan konsonan dan vokal.
Perhatikan contoh berikut:
| Jamo 1 | Jamo 2 | Blok | Cara berpikir awal |
|---|---|---|---|
ㄱ |
ㅏ |
가 |
ㄱ + ㅏ |
ㄴ |
ㅏ |
나 |
ㄴ + ㅏ |
ㅁ |
ㅗ |
모 |
ㅁ + ㅗ |
ㅇ |
ㅣ |
이 |
ㅇ + ㅣ |
Untuk saat ini, jangan khawatir jika Anda belum tahu bunyi tepat setiap huruf. Fokuslah pada pola: huruf-huruf kecil digabung menjadi satu blok suku kata.
1.3 Mengapa Hangeul sering disebut sistem tulisan yang ilmiah?
Kata “ilmiah” kadang digunakan terlalu longgar. Dalam buku ini, kita akan memakai kata itu secara hati-hati. Hangeul disebut memiliki rancangan yang ilmiah karena bentuk dan susunan hurufnya memperlihatkan hubungan sistematis dengan cara bunyi dihasilkan, khususnya pada konsonan. Penjelasan klasik tentang rancangan ini terdapat dalam tradisi Hunminjeongeum, dan kajian modern menunjukkan bahwa Hangeul memang memiliki prinsip desain fonetik yang kuat, yaitu memperhatikan hubungan antara lambang dan ciri artikulasi bunyi (Kim-Renaud, 1997; Lee & Ramsey, 2000).
Artikulasi berarti cara organ bicara menghasilkan bunyi. Organ bicara mencakup lidah, bibir, gigi, langit-langit mulut, dan tenggorokan. Misalnya, dalam bahasa Indonesia:
- bunyi
mdibuat dengan menutup kedua bibir; - bunyi
ndibuat dengan lidah menyentuh bagian belakang gigi atas atau daerah sekitarnya; - bunyi
kdibuat lebih ke belakang, di daerah langit-langit lunak.
Dalam Hangeul, beberapa bentuk konsonan dasar secara tradisional dijelaskan berkaitan dengan posisi organ bicara saat bunyi dibuat. Misalnya, bentuk ㄴ dikaitkan dengan posisi lidah untuk bunyi jenis /n/, dan ㅁ dikaitkan dengan bentuk mulut untuk bunyi jenis /m/ dalam penjelasan tradisional Hangeul (Kim-Renaud, 1997). Bagi pembelajar, hal ini membantu karena huruf Hangeul tidak sepenuhnya sewenang-wenang seperti tanda acak.
Namun, kita juga perlu berhati-hati. “Ilmiah” tidak berarti setiap huruf otomatis mudah dibaca tanpa latihan. “Ilmiah” juga tidak berarti pengucapan Korea sama persis dengan bahasa Indonesia. Hangeul memang sistematis, tetapi bahasa Korea tetap memiliki bunyi dan aturan pengucapan yang perlu dipelajari. Misalnya, beberapa bunyi Korea tidak memiliki padanan sempurna dalam bahasa Indonesia, dan beberapa konsonan berubah bunyi ketika berada di akhir suku kata atau saat bertemu bunyi lain. Hal-hal itu akan kita pelajari bertahap di bab-bab berikutnya.
Jadi, kesimpulan praktisnya adalah: Hangeul mudah dipelajari bukan karena tidak punya aturan, melainkan karena aturannya cukup teratur.
1.4 Huruf berbeda dari suku kata
Salah satu kunci membaca Hangeul adalah membedakan huruf dan suku kata.
Huruf adalah lambang kecil yang mewakili unsur bunyi. Dalam alfabet Latin, b, a, dan k adalah huruf. Dalam Hangeul, ㄱ, ㄴ, ㅏ, dan ㅗ adalah huruf atau jamo.
Suku kata adalah satuan bunyi yang biasanya terasa sebagai satu ketukan pengucapan. Dalam bahasa Indonesia, kata buku memiliki dua suku kata: bu-ku. Kata makan memiliki dua suku kata: ma-kan. Setiap suku kata umumnya memiliki vokal sebagai pusatnya.
Dalam Hangeul, satu suku kata biasanya ditulis sebagai satu blok suku kata. Misalnya:
가adalah satu blok suku kata.나adalah satu blok suku kata.한국terdiri dari dua blok suku kata:한+국.
Mari kita uraikan:
| Tulisan | Jumlah blok suku kata | Pemecahan |
|---|---|---|
가 |
1 | 가 |
나 |
1 | 나 |
한국 |
2 | 한 + 국 |
사람 |
2 | 사 + 람 |
어머니 |
3 | 어 + 머 + 니 |
Pada tahap awal, biasakan mata Anda melihat Hangeul sebagai deretan blok. Jangan langsung melihat seluruh kata sebagai satu bentuk besar. Pecah menjadi blok suku kata terlebih dahulu.
Contoh:
한국어
Pecah menjadi:
한 + 국 + 어
Dengan cara ini, kata yang awalnya tampak padat menjadi lebih mudah dibaca. Kita belum perlu membahas arti kata tersebut di sini. Yang penting adalah kemampuan melihat struktur tulisannya.
1.5 Hangeul bersifat alfabetis, tetapi ditata dalam blok suku kata
Ini bagian yang sering membingungkan pembelajar baru. Hangeul bukan alfabet linear seperti alfabet Latin. Dalam alfabet Latin, kita menulis huruf satu per satu ke samping:
b + a = ba
k + u = ku
Jika bahasa Korea ditulis secara linear dengan cara yang sama, mungkin ㄱ dan ㅏ akan ditulis berurutan begitu saja. Tetapi Hangeul tidak menampilkan suku kata seperti itu. Hangeul menyusun huruf-hurufnya ke dalam satu kotak visual atau blok suku kata:
ㄱ + ㅏ = 가
ㄴ + ㅏ = 나
ㅁ + ㅗ = 모
Karena itu, Hangeul sering dijelaskan sebagai sistem alfabetis yang huruf-hurufnya disusun secara suku kata. Dalam kajian sistem tulisan, perbedaan antara lambang bunyi individual dan cara lambang itu disusun secara visual merupakan hal penting; Hangeul menarik karena hurufnya mewakili unsur bunyi, tetapi tata letaknya membentuk blok suku kata (Sampson, 1985; Coulmas, 2003).
Mari bandingkan dengan bahasa Indonesia:
n + a = na
m + a = ma
Dalam alfabet Latin, hasilnya tetap dua huruf berjajar: na, ma.
Dalam Hangeul:
ㄴ + ㅏ = 나
ㅁ + ㅏ = 마
Hasilnya bukan dua huruf berjajar secara terpisah, melainkan satu blok. Inilah kebiasaan visual pertama yang harus dibangun: setiap blok perlu dibaca dengan mengurai bagian-bagiannya.
1.6 Bentuk dasar blok: awal dan inti
Sebuah blok suku kata Hangeul minimal memiliki dua bagian:
- Konsonan awal, yaitu konsonan yang muncul di awal blok.
- Vokal inti, yaitu vokal yang menjadi pusat suku kata.
Dalam istilah sederhana, pola ini bisa disebut KV, yaitu Konsonan + Vokal. Dalam linguistik, pola ini sering ditulis sebagai CV, dari bahasa Inggris consonant dan vowel. Kita akan memakai istilah CV karena istilah ini umum digunakan dalam pembahasan struktur suku kata.
Contoh pola CV:
ㄱ + ㅏ = 가
ㄴ + ㅏ = 나
ㅁ + ㅗ = 모
ㅂ + ㅜ = 부
Blok-blok ini memiliki dua unsur: satu konsonan awal dan satu vokal.
Namun, ada hal penting: dalam bahasa Korea, suku kata yang dimulai dengan bunyi vokal tetap ditulis dengan posisi konsonan awal. Jika tidak ada bunyi konsonan di awal, Hangeul memakai ㅇ sebagai konsonan kosong di posisi awal. Artinya, ㅇ ditulis untuk melengkapi bentuk blok, tetapi tidak dibunyikan sebagai konsonan awal.
Contoh:
ㅇ + ㅏ = 아
ㅇ + ㅣ = 이
ㅇ + ㅗ = 오
Pada posisi awal, ㅇ membantu membentuk blok. Jadi, 아 bukan dibaca dengan bunyi “ng” di awal. Dalam posisi awal, ㅇ kosong atau tidak berbunyi. Peran ㅇ ini akan kita pelajari lebih rinci pada Bab 3. Untuk sekarang, ingat saja: blok Hangeul membutuhkan posisi awal, dan jika suku kata dimulai dengan vokal, posisi itu diisi oleh ㅇ.
1.7 Arah penyusunan di dalam blok
Sekarang kita masuk ke cara membaca bentuk visual blok. Setiap blok Hangeul disusun dalam ruang persegi imajiner. Huruf-huruf di dalamnya tidak selalu diletakkan dengan pola yang sama. Letak vokal menentukan bentuk blok.
Ada dua kelompok bentuk yang perlu Anda kenali sejak awal:
- Blok dengan vokal vertikal, seperti
ㅏ,ㅓ,ㅣ. - Blok dengan vokal horizontal, seperti
ㅗ,ㅜ,ㅡ.
Vokal vertikal tampak memanjang dari atas ke bawah. Contoh:
ㅏ ㅓ ㅣ
Jika vokalnya vertikal, konsonan awal biasanya berada di kiri, dan vokal berada di kanan.
Contoh:
ㄱ + ㅏ = 가
ㄴ + ㅓ = 너
ㅁ + ㅣ = 미
Perhatikan arah pandangnya:
가 = ㄱ di kiri + ㅏ di kanan
너 = ㄴ di kiri + ㅓ di kanan
미 = ㅁ di kiri + ㅣ di kanan
Vokal horizontal tampak melebar dari kiri ke kanan. Contoh:
ㅗ ㅜ ㅡ
Jika vokalnya horizontal, konsonan awal biasanya berada di atas, dan vokal berada di bawah.
Contoh:
ㄱ + ㅗ = 고
ㄴ + ㅜ = 누
ㅁ + ㅡ = 므
Perhatikan arah pandangnya:
고 = ㄱ di atas + ㅗ di bawah
누 = ㄴ di atas + ㅜ di bawah
므 = ㅁ di atas + ㅡ di bawah
Inilah salah satu perbedaan besar antara membaca alfabet Latin dan membaca Hangeul. Dalam alfabet Latin, mata bergerak hampir selalu dari kiri ke kanan di dalam kata. Dalam Hangeul, mata tetap membaca teks modern dari kiri ke kanan, tetapi di dalam setiap blok mata perlu mengenali susunan internal: kadang kiri-kanan, kadang atas-bawah. Penulisan Korea modern umumnya menggunakan arah horizontal kiri ke kanan, walaupun secara historis tulisan Korea juga pernah digunakan dalam tata letak vertikal (Lee & Ramsey, 2000).
1.8 Membaca blok dari kiri ke kanan dan atas ke bawah
Aturan praktisnya adalah:
Dalam satu blok Hangeul, baca unsur yang berada di kiri atau atas terlebih dahulu, lalu lanjutkan ke kanan atau bawah.
Mari kita lihat beberapa contoh.
Untuk blok dengan vokal vertikal:
가
Uraiannya:
ㄱ + ㅏ
Cara membaca strukturnya:
- Lihat kiri:
ㄱ. - Lihat kanan:
ㅏ. - Gabungkan:
가.
Contoh lain:
너
Uraiannya:
ㄴ + ㅓ
Cara membaca strukturnya:
- Lihat kiri:
ㄴ. - Lihat kanan:
ㅓ. - Gabungkan:
너.
Untuk blok dengan vokal horizontal:
고
Uraiannya:
ㄱ + ㅗ
Cara membaca strukturnya:
- Lihat atas:
ㄱ. - Lihat bawah:
ㅗ. - Gabungkan:
고.
Contoh lain:
무
Uraiannya:
ㅁ + ㅜ
Cara membaca strukturnya:
- Lihat atas:
ㅁ. - Lihat bawah:
ㅜ. - Gabungkan:
무.
Pada tahap awal, membaca Hangeul sebaiknya dilakukan secara sadar seperti ini. Jangan terburu-buru ingin membaca cepat. Kecepatan akan datang setelah mata terbiasa mengenali pola.
1.9 Blok dengan konsonan akhir
Selain konsonan awal dan vokal, sebagian blok Hangeul memiliki konsonan akhir. Dalam pembelajaran Korea, konsonan akhir ini sering disebut batchim. Kata batchim secara harfiah dapat dipahami sebagai sesuatu yang “menopang” atau “menjadi alas”, karena posisinya berada di bagian bawah blok.
Contoh:
한
국
말
Mari kita uraikan satu per satu.
한 = ㅎ + ㅏ + ㄴ
Di sini:
ㅎadalah konsonan awal;ㅏadalah vokal;ㄴadalah konsonan akhir atau batchim.
Contoh kedua:
국 = ㄱ + ㅜ + ㄱ
Di sini:
ㄱpertama adalah konsonan awal;ㅜadalah vokal;ㄱterakhir di bawah adalah batchim.
Contoh ketiga:
말 = ㅁ + ㅏ + ㄹ
Di sini:
ㅁadalah konsonan awal;ㅏadalah vokal;ㄹadalah batchim.
Untuk membaca struktur blok dengan batchim, gunakan urutan umum berikut:
- Baca konsonan awal.
- Baca vokal.
- Baca konsonan akhir di bawah.
Contoh:
한 = ㅎ → ㅏ → ㄴ
국 = ㄱ → ㅜ → ㄱ
말 = ㅁ → ㅏ → ㄹ
Batchim sangat penting karena banyak kata Korea memiliki konsonan akhir. Namun, cara pengucapan batchim tidak selalu sama dengan cara pengucapan konsonan di awal suku kata. Misalnya, konsonan tertentu memiliki bunyi akhir yang lebih terbatas saat menjadi batchim. Aturan ini akan menjadi fokus Bab 5. Dalam bab ini, kita cukup mengenali posisinya: batchim berada di bawah dan dibaca setelah vokal.
1.10 Jangan tertipu bentuk blok: satu blok bukan satu huruf
Pembelajar pemula sering melakukan kesalahan berikut: menganggap 한 sebagai satu huruf besar. Padahal, 한 adalah satu blok suku kata yang terdiri dari tiga huruf:
ㅎ + ㅏ + ㄴ = 한
Kesalahan ini mirip dengan menganggap “kan” dalam bahasa Indonesia sebagai satu huruf. Padahal “kan” terdiri dari k, a, dan n. Bedanya, dalam tulisan Latin huruf-huruf itu ditulis berjajar:
k + a + n = kan
Dalam Hangeul, huruf-huruf itu disusun ke dalam satu blok:
ㅎ + ㅏ + ㄴ = 한
Perbedaan tampilan ini penting. Jika Anda melihat 한국, jangan pikir itu dua “huruf besar”. Lebih tepatnya:
한국 = 한 + 국
한 = ㅎ + ㅏ + ㄴ
국 = ㄱ + ㅜ + ㄱ
Jadi, 한국 terdiri dari dua blok suku kata, dan masing-masing blok terdiri dari beberapa jamo.
Kebiasaan mengurai seperti ini akan membuat Anda lebih tahan terhadap kebingungan. Ketika nanti bertemu kata yang panjang, Anda tidak perlu panik. Pecah saja menjadi blok, lalu pecah blok menjadi jamo.
1.11 Contoh membaca struktur kata pendek
Mari kita berlatih dengan beberapa kata pendek. Pada tahap ini, fokus kita bukan arti, melainkan struktur.
Contoh 1: 가구
Pecah menjadi blok:
가 + 구
Urai setiap blok:
가 = ㄱ + ㅏ
구 = ㄱ + ㅜ
Pola visual:
가: kiri-kanan, karenaㅏadalah vokal vertikal.구: atas-bawah, karenaㅜadalah vokal horizontal.
Jadi, mata Anda perlu fleksibel. Dalam satu kata, susunan blok bisa berbeda.
Contoh 2: 나라
Pecah menjadi blok:
나 + 라
Urai setiap blok:
나 = ㄴ + ㅏ
라 = ㄹ + ㅏ
Keduanya memakai vokal vertikal ㅏ, sehingga bentuknya kiri-kanan.
Contoh 3: 고기
Pecah menjadi blok:
고 + 기
Urai setiap blok:
고 = ㄱ + ㅗ
기 = ㄱ + ㅣ
Perhatikan perbedaannya:
고memakai vokal horizontalㅗ, jadiㄱberada di atas.기memakai vokal vertikalㅣ, jadiㄱberada di kiri.
Contoh 4: 한국
Pecah menjadi blok:
한 + 국
Urai setiap blok:
한 = ㅎ + ㅏ + ㄴ
국 = ㄱ + ㅜ + ㄱ
Keduanya memiliki batchim, yaitu konsonan akhir di bawah:
한memiliki batchimㄴ.국memiliki batchimㄱ.
Dalam bab ini, kita belum mengejar pengucapan alami penuh. Kita hanya membangun kebiasaan melihat struktur. Pengucapan yang lebih tepat akan datang setelah kita mempelajari nilai bunyi huruf dan aturan batchim.
1.12 Romanisasi hanya alat bantu, bukan tujuan
Saat belajar Hangeul, Anda mungkin menemukan romanisasi, yaitu penulisan bunyi Korea dengan huruf Latin. Misalnya, 한글 sering diromanisasi sebagai Hangeul atau Hangul. Romanisasi berguna sebagai jembatan awal, terutama ketika pembelajar belum mengenal huruf Korea. Namun, romanisasi tidak boleh menjadi sandaran utama.
Mengapa? Karena huruf Latin tidak selalu mampu mewakili bunyi Korea secara tepat bagi semua pembaca. Pembaca Indonesia, Inggris, atau Prancis dapat melihat huruf Latin yang sama tetapi membayangkan bunyi yang berbeda. Itulah salah satu alasan sistem romanisasi harus dipakai dengan hati-hati dalam pembelajaran bahasa. Kajian sistem tulisan menekankan bahwa hubungan antara lambang tertulis dan bunyi bergantung pada konvensi sistem tulisan tertentu, bukan pada bentuk huruf semata (Coulmas, 2003).
Contoh sederhana: jika Anda melihat romanisasi eo, Anda mungkin tergoda membacanya seperti gabungan e dan o dalam bahasa Indonesia. Padahal dalam romanisasi Korea, eo dipakai untuk mewakili vokal Korea tertentu, bukan dua vokal terpisah. Karena itu, buku ini akan memakai romanisasi seperlunya, tetapi tujuan utama kita adalah membaca Hangeul langsung.
Target kita bukan:
Hangeul → romanisasi → bunyi
Target kita adalah:
Hangeul → bunyi
Dengan kata lain, kita ingin melihat 가 dan langsung mengenalinya sebagai blok yang tersusun dari ㄱ dan ㅏ, bukan selalu menerjemahkannya dulu ke huruf Latin.
1.13 Latihan mengenali blok
Sekarang lakukan latihan ringan. Jangan terburu-buru membunyikan semuanya dengan sempurna. Tugas Anda adalah mengurai struktur.
Latihan A: Pecah menjadi blok suku kata
Pecah kata berikut menjadi blok-blok suku kata.
가나고기나무한국어머니
Jawaban:
가나=가+나고기=고+기나무=나+무한국=한+국어머니=어+머+니
Latihan B: Urai blok menjadi jamo
Urai blok berikut menjadi jamo penyusunnya.
가나고무한국
Jawaban:
가=ㄱ+ㅏ나=ㄴ+ㅏ고=ㄱ+ㅗ무=ㅁ+ㅜ한=ㅎ+ㅏ+ㄴ국=ㄱ+ㅜ+ㄱ
Latihan C: Tentukan pola visual
Tentukan apakah blok berikut memakai pola kiri-kanan, atas-bawah, atau memiliki batchim.
가고나무한국
Jawaban:
가: kiri-kanan고: atas-bawah나: kiri-kanan무: atas-bawah한: kiri-kanan dengan batchim di bawah국: atas-bawah dengan batchim di bawah
Latihan seperti ini terlihat sederhana, tetapi sangat penting. Membaca Hangeul dengan lancar dimulai dari kemampuan mengenali struktur blok secara otomatis.
1.14 Ringkasan bab
Hangeul adalah sistem tulisan untuk bahasa Korea. Ia menggunakan huruf-huruf yang disebut jamo, lalu menyusun jamo itu ke dalam blok suku kata. Inilah prinsip dasar yang harus dipegang sejak awal: bentuk seperti 가, 나, 고, dan 한 bukan huruf tunggal, melainkan blok yang dapat diurai.
Dalam satu blok, minimal ada konsonan awal dan vokal. Jika suku kata dimulai dengan bunyi vokal, posisi konsonan awal diisi oleh ㅇ yang tidak berbunyi di awal. Jika blok memiliki konsonan akhir, konsonan itu diletakkan di bawah dan disebut batchim.
Arah membaca di dalam blok mengikuti susunan visualnya. Untuk vokal vertikal seperti ㅏ, ㅓ, dan ㅣ, konsonan awal biasanya berada di kiri dan vokal di kanan. Untuk vokal horizontal seperti ㅗ, ㅜ, dan ㅡ, konsonan awal biasanya berada di atas dan vokal di bawah. Jika ada batchim, ia berada di bagian bawah dan dibaca setelah vokal.
Pada bab berikutnya, kita akan mulai memberi bunyi pada bentuk-bentuk ini. Kita akan mempelajari vokal dasar ㅏ, ㅓ, ㅗ, ㅜ, ㅡ, dan ㅣ, lalu melatih mata dan telinga agar dapat membedakan bunyi yang sering tertukar oleh penutur Indonesia.
References
Coulmas, Florian. 2003. Writing Systems: An Introduction to Their Linguistic Analysis. Cambridge: Cambridge University Press.
Kim-Renaud, Young-Key, ed. 1997. The Korean Alphabet: Its History and Structure. Honolulu: University of Hawai‘i Press.
Lee, Iksop, and S. Robert Ramsey. 2000. The Korean Language. Albany: State University of New York Press.
Sampson, Geoffrey. 1985. Writing Systems: A Linguistic Introduction. Stanford: Stanford University Press.