Bab 1: Peta Aksara Jawa dan Cara Kerjanya
Sebelum menghafal dua puluh aksara dasar, kita perlu memahami “peta”-nya lebih dahulu. Peta ini menjawab pertanyaan sederhana tetapi sangat penting: ketika mata melihat Aksara Jawa, apa yang sebenarnya harus dibaca? Apakah kita membaca huruf demi huruf seperti dalam alfabet Latin? Apakah setiap bentuk selalu berdiri sendiri? Mengapa satu aksara dapat berbunyi ka, bukan hanya k?
Bab ini menjadi jembatan antara kebiasaan membaca huruf Latin dan cara kerja hanacaraka. Setelah bab ini, Anda belum dituntut hafal semua bentuk aksara. Yang lebih penting: Anda mulai mengerti aturan dasar yang membuat bentuk-bentuk itu dapat dibaca.
Aksara Jawa adalah salah satu sistem tulisan yang berasal dari tradisi aksara Brahmi, yaitu rumpun besar sistem tulisan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dalam kajian sistem tulisan, sistem seperti ini sering disebut abugida: tanda dasarnya biasanya mewakili konsonan yang sudah membawa vokal bawaan, lalu vokal itu dapat diubah dengan tanda tambahan (Daniels dan Bright 1996). The Unicode Standard juga menggolongkan Aksara Jawa sebagai aksara Brahmi yang ditulis dari kiri ke kanan dan memiliki tanda-tanda vokal serta tanda lain untuk membentuk suku kata (The Unicode Consortium 2024).
Mari kita uraikan pelan-pelan.
1.1 Tulisan sebagai sistem tanda
Tulisan adalah cara menaruh bahasa ke dalam bentuk visual. Bahasa sendiri pertama-tama adalah bunyi dan makna. Ketika orang berkata maca, ada rangkaian bunyi yang didengar; ketika orang menulis maca, bunyi itu diwakili oleh tanda.
Dalam huruf Latin, kata maca terlihat seperti ini:
m a c a
Kita melihat empat huruf. Huruf m mewakili bunyi /m/, huruf a mewakili vokal /a/, huruf c dalam ejaan Jawa dan Indonesia biasanya mewakili bunyi /c/ seperti pada cari, lalu a lagi. Dengan kata lain, dalam alfabet Latin, konsonan dan vokal biasanya ditulis sebagai huruf terpisah.
Dalam Aksara Jawa, kata yang sama dapat ditulis:
ꦩꦕ
Bentuk itu tidak dibaca sebagai dua “huruf Latin”, melainkan sebagai dua aksara:
ꦩ = ma
ꦕ = ca
Jadi:
ꦩꦕ = ma-ca = maca
Di sini tampak perbedaan mendasar. Satu aksara dasar dalam hanacaraka tidak hanya mewakili konsonan kosong seperti m atau c. Aksara ꦩ sudah terbaca ma; aksara ꦕ sudah terbaca ca.
Inilah prinsip pertama Aksara Jawa:
Aksara dasar membawa vokal bawaan.
Vokal bawaan dalam pembelajaran dasar biasanya ditulis sebagai a. Maka ꦏ dibaca ka, ꦤ dibaca na, ꦫ dibaca ra, dan seterusnya.
1.2 Arah baca: dari kiri ke kanan
Aksara Jawa dibaca dari kiri ke kanan, seperti huruf Latin. Ini penting karena beberapa sistem tulisan dunia dibaca dari kanan ke kiri, misalnya Arab dan Ibrani, sedangkan beberapa tradisi lama Asia Timur pernah ditulis vertikal. Untuk Aksara Jawa modern, arah dasarnya adalah kiri ke kanan (The Unicode Consortium 2024).
Perhatikan contoh berikut:
ꦏꦕ
Kita mulai dari kiri:
ꦏ = ka
ꦕ = ca
Hasilnya:
ꦏꦕ = ka-ca = kaca
Jika urutannya dibalik:
ꦕꦏ
maka bacaannya menjadi:
ꦕ = ca
ꦏ = ka
ꦕꦏ = ca-ka
Artinya, urutan visual sangat menentukan. Jangan mulai dari kanan. Jangan pula mencari “huruf vokal” terpisah setelah setiap bentuk, karena dalam Aksara Jawa vokal a sudah melekat pada aksara dasar.
1.3 Aksara, huruf, dan suku kata
Dalam percakapan sehari-hari, orang sering menyebut semua tanda tulis sebagai “huruf”. Kita biasa berkata “huruf Jawa” atau “huruf hanacaraka”. Ungkapan itu dapat dimengerti, tetapi dalam buku ini kita akan lebih sering memakai istilah aksara.
Mengapa?
Karena unit dasar Aksara Jawa tidak bekerja persis seperti huruf Latin. Dalam alfabet Latin, k biasanya hanya konsonan /k/. Untuk menulis ka, kita menulis dua huruf:
k + a = ka
Dalam Aksara Jawa, ka ditulis dengan satu aksara dasar:
ꦏ = ka
Unit seperti ka, na, ma, ra adalah suku kata terbuka. Suku kata terbuka adalah suku kata yang berakhir dengan vokal. Contoh dalam Latin:
ka
na
ma
ra
ca
Semua contoh itu berakhir dengan vokal a. Karena Aksara Jawa dasar membawa vokal a, maka aksara dasar sangat cocok untuk menulis suku kata terbuka semacam ini.
Perhatikan:
ꦏ = ka
ꦤ = na
ꦩ = ma
ꦫ = ra
ꦕ = ca
Jika digabung:
ꦏꦤ = ka-na
ꦩꦫ = ma-ra
ꦫꦕ = ra-ca
Pada tahap awal, biasakan memecah bacaan menjadi potongan suku kata. Jangan langsung menebak kata. Lihat aksara pertama, baca vokal bawaannya, lalu lanjutkan aksara berikutnya.
1.4 Aksara Jawa sebagai abugida
Sekarang kita definisikan istilah penting: abugida.
Abugida adalah sistem tulisan yang tanda dasarnya biasanya mewakili konsonan dengan vokal bawaan. Jika vokal itu berubah, tulisan menambahkan tanda tertentu. Jika vokalnya dimatikan, tulisan memakai mekanisme lain. Istilah ini dipakai dalam kajian sistem tulisan untuk membedakan sistem seperti Aksara Jawa, Devanagari, Bali, dan beberapa aksara Brahmi lain dari alfabet murni seperti Latin atau Yunani (Daniels dan Bright 1996).
Dalam alfabet Latin:
ka = k + a
ki = k + i
ku = k + u
ke = k + e
ko = k + o
Setiap vokal ditulis sebagai huruf tersendiri.
Dalam Aksara Jawa, bentuk dasarnya adalah:
ꦏ = ka
Untuk mengubah ka menjadi ki, ku, ke, atau ko, Aksara Jawa memakai sandhangan swara, yaitu tanda tambahan yang mengubah vokal bawaan. Kita belum akan menghafalnya sekarang; itu akan menjadi isi Bab 3. Namun peta besarnya perlu diketahui sejak awal.
Misalnya secara garis besar:
ꦏ = ka
ꦏꦶ = ki
ꦏꦸ = ku
ꦏꦺ = ke
ꦏꦺꦴ = ko
ꦏꦼ = kê
Pada contoh di atas, aksara dasarnya tetap ꦏ. Yang berubah adalah tanda tambahannya. Jadi, pembaca hanacaraka harus melatih mata untuk melihat dua lapis informasi:
- Aksara dasar: memberi konsonan dan vokal bawaan
a. - Tanda tambahan: mengubah atau menutup bunyi aksara dasar.
Prinsip ini akan muncul terus-menerus sepanjang buku.
1.5 Vokal bawaan: “a” yang tidak selalu ditulis terpisah
Istilah vokal bawaan berarti vokal yang sudah ikut terbaca pada aksara dasar walaupun tidak ada tanda vokal yang ditulis terpisah.
Contoh:
ꦱ = sa
Pada bentuk ꦱ, tidak ada tanda khusus untuk a. Namun pembaca tetap membacanya sa, bukan hanya s.
Contoh lain:
ꦭ = la
ꦥ = pa
ꦢ = da
ꦒ = ga
Masing-masing sudah membawa bunyi a.
Ini berbeda dari kebiasaan Latin. Jika kita melihat huruf s, kita tidak otomatis membacanya sa; kita menunggu huruf berikutnya. Dalam Aksara Jawa, aksara dasar memang sudah lengkap sebagai suku kata terbuka.
Bandingkan:
| Latin | Cara membentuk | Aksara Jawa | Cara membaca |
|---|---|---|---|
ka |
k + a |
ꦏ |
ka |
na |
n + a |
ꦤ |
na |
ma |
m + a |
ꦩ |
ma |
ca |
c + a |
ꦕ |
ca |
Tabel ini kelihatan sederhana, tetapi ia adalah kunci. Banyak kesalahan awal muncul karena pembaca memperlakukan Aksara Jawa seolah-olah ia alfabet Latin. Misalnya, pemula kadang melihat ꦩꦕ lalu mencari tanda untuk vokal a. Padahal vokal a sudah ada dalam ꦩ dan ꦕ.
1.6 Bunyi, alih aksara, dan pelafalan
Ada tiga hal yang perlu dibedakan sejak awal: aksara, alih aksara, dan pelafalan.
Aksara adalah bentuk tulis dalam sistem Aksara Jawa, misalnya:
ꦏ
Alih aksara atau transliterasi adalah pemindahan bentuk tulisan dari satu sistem aksara ke sistem aksara lain. Dalam buku ini, ꦏ akan dialihaksarakan sebagai:
ka
Pelafalan adalah cara bunyi itu benar-benar diucapkan oleh penutur. Dalam bahasa Jawa, pelafalan dapat dipengaruhi dialek, ragam bahasa, dan posisi bunyi dalam kata. Karena itu, tulisan Latin a dalam alih aksara tidak selalu menjelaskan seluruh rincian fonetik. Pada tahap membaca aksara, kita memakai a sebagai tanda transliterasi praktis untuk vokal bawaan.
Contoh:
ꦏꦕ
Alih aksaranya:
kaca
Bacaan suku katanya:
ka-ca
Dalam praktik pelafalan Jawa, mutu vokal dapat bervariasi menurut ragam dan lingkungan bunyi. Namun untuk tujuan bab ini, yang perlu dipegang adalah: ꦏ memberi ka, ꦕ memberi ca, sehingga ꦏꦕ dibaca sebagai kaca.
Jadi, ketika belajar membaca hanacaraka, jangan mencampuradukkan tiga tugas berikut:
- mengenali bentuk aksara,
- mengubahnya ke Latin,
- mengucapkannya sesuai ragam Jawa tertentu.
Ketiganya berhubungan, tetapi tidak identik.
1.7 Kata dalam Aksara Jawa: membaca dari suku kata
Karena aksara dasar membawa vokal, strategi awal yang paling aman adalah membaca berdasarkan suku kata.
Lihat contoh:
ꦭꦫ
Pecah menjadi:
ꦭ = la
ꦫ = ra
Maka:
ꦭꦫ = la-ra = lara
Contoh lain:
ꦤꦒ
Pecah menjadi:
ꦤ = na
ꦒ = ga
Maka:
ꦤꦒ = na-ga = naga
Contoh berikut:
ꦱꦩ
Pecah menjadi:
ꦱ = sa
ꦩ = ma
Maka:
ꦱꦩ = sa-ma = sama
Pada tahap ini kita sengaja memilih kata atau rangkaian yang terdiri atas suku kata terbuka. Nanti, ketika kata mengandung vokal selain a, konsonan akhir, atau gugus konsonan, kita membutuhkan perangkat tambahan: sandhangan dan pasangan.
1.8 Mengapa tidak cukup menghafal “ha-na-ca-ra-ka”?
Nama “hanacaraka” biasanya diambil dari urutan awal dua puluh aksara dasar:
ha na ca ra ka
Urutan lengkapnya akan dipelajari dalam Bab 2. Namun perlu ditekankan: menghafal urutan saja belum cukup untuk membaca.
Seseorang bisa saja hafal:
ha na ca ra ka
da ta sa wa la
pa dha ja ya nya
ma ga ba tha nga
Tetapi ketika melihat teks, ia masih bingung karena belum memahami hal-hal berikut:
- setiap aksara dasar membawa vokal
a; - vokal itu dapat diubah dengan sandhangan;
- vokal itu dapat dimatikan dengan pasangan atau tanda pemati;
- beberapa tanda ditulis di atas, di bawah, sebelum, atau sesudah aksara dasar;
- satu kata dapat terdiri atas beberapa aksara dan tanda yang saling menempel.
Membaca hanacaraka berarti mengenali sistem, bukan hanya daftar bentuk. Hafalan bentuk adalah bahan mentah; aturan bacalah yang mengubahnya menjadi kemampuan membaca.
1.9 Sandhangan: tanda yang mengubah bacaan
Kata sandhangan secara harfiah dapat dipahami sebagai “perlengkapan” atau “tambahan”. Dalam Aksara Jawa, sandhangan adalah tanda yang ditempelkan pada aksara dasar untuk mengubah atau menambahkan bunyi.
Untuk sementara, cukup pahami gagasan umumnya.
Aksara dasar:
ꦏ = ka
Jika diberi tanda vokal tertentu, bacaannya berubah:
ꦏꦶ = ki
ꦏꦸ = ku
ꦏꦺ = ke
ꦏꦺꦴ = ko
ꦏꦼ = kê
Artinya, pembaca tidak boleh hanya melihat bentuk utama ꦏ; ia juga harus melihat tanda kecil di sekitarnya.
Dalam tulisan Latin, perubahan dari ka ke ki dilakukan dengan mengganti huruf vokal:
ka → ki
Dalam Aksara Jawa, perubahan itu dilakukan dengan menambahkan sandhangan pada aksara dasar:
ꦏ → ꦏꦶ
Bab 3 akan membahas sandhangan swara secara sistematis. Untuk saat ini, tanamkan satu prinsip:
Jika ada tanda tambahan di sekitar aksara, vokal bawaan mungkin berubah.
1.10 Pasangan: ketika vokal bawaan harus dimatikan
Sekarang kita masuk ke gagasan kedua yang sangat penting: pasangan.
Karena aksara dasar selalu membawa vokal a, muncul pertanyaan: bagaimana menulis konsonan mati? Misalnya bunyi k pada akhir kata anak, atau bunyi n sebelum konsonan lain.
Dalam alfabet Latin, konsonan mati mudah ditulis. Kita cukup menulis huruf konsonannya:
anak = a n a k
Huruf k di akhir tidak perlu membawa vokal.
Dalam Aksara Jawa, aksara dasar ꦏ terbaca ka. Jika kita menulis ꦏ begitu saja, pembaca akan membacanya ka, bukan k. Maka Aksara Jawa memerlukan mekanisme untuk mematikan vokal bawaan.
Salah satu mekanisme utamanya adalah pasangan, yaitu bentuk khusus aksara yang dipakai untuk menutup bunyi aksara sebelumnya atau menuliskan konsonan tanpa vokal bawaan di lingkungan tertentu. The Unicode Standard menjelaskan bahwa aksara Jawa memakai bentuk dasar, tanda vokal, dan bentuk pasangan/subjoined dalam perilaku penulisannya sebagai aksara Brahmi (The Unicode Consortium 2024).
Dalam buku ini, pasangan akan dibahas khusus pada Bab 4. Pada bab ini, cukup pahami alasan keberadaannya:
Pasangan ada karena aksara dasar tidak netral; ia sudah membawa vokal. Jika vokal itu tidak diinginkan, tulisan harus menandainya.
Ini salah satu perbedaan paling penting antara Latin dan hanacaraka. Dalam Latin, k dapat berdiri sebagai konsonan. Dalam Aksara Jawa, bentuk dasar ꦏ bukan k, melainkan ka.
1.11 Tanda pemati dan batas bacaan
Selain pasangan, Aksara Jawa juga memiliki tanda untuk mematikan vokal dalam keadaan tertentu. Salah satu tanda yang akan Anda temui nanti adalah pangkon. Fungsinya secara umum adalah menandai bahwa vokal bawaan pada aksara sebelumnya tidak dibaca.
Contoh konseptualnya begini:
ꦏ = ka
ꦏ꧀ = k
Pada contoh ꦏ꧀, tanda setelah aksara menunjukkan bahwa vokal bawaan a dimatikan. Kita belum membahas aturan pemakaiannya secara lengkap, karena itu bagian dari Bab 4 dan Bab 6. Namun sejak awal Anda perlu mengenali logikanya: jika tidak ada tanda pemati atau bentuk pasangan, aksara dasar dibaca dengan vokal bawaannya.
Maka, secara kasar:
ꦏ → ka
ꦏ꧀ → k
Sekali lagi, ini berbeda dari Latin. Dalam Latin, k adalah bentuk dasar. Dalam Aksara Jawa, ka adalah bentuk dasar; k adalah bentuk yang harus ditandai.
1.12 Batas kata dan kebiasaan membaca
Pembaca Latin sangat bergantung pada spasi. Dalam kalimat Indonesia, kita terbiasa melihat batas kata dengan jelas:
aku maca buku
Dalam pembelajaran Aksara Jawa modern, teks sering diberi spasi agar lebih mudah dibaca. Namun dalam tradisi naskah dan edisi tertentu, tata tulis dapat berbeda; pembaca perlu memakai tanda baca, konteks, dan pengetahuan bahasa untuk menentukan batas kata. Karena itu, kemampuan membaca hanacaraka bukan hanya mengenali aksara, tetapi juga membangun dugaan yang masuk akal berdasarkan pola bahasa.
Misalnya, jika Anda melihat rangkaian aksara dasar:
ꦲꦏꦸꦩꦕ
Setelah belajar sandhangan, Anda akan membaca ini sebagai:
aku maca
Tetapi tanpa spasi, pembaca harus tahu bahwa rangkaian bunyi itu lebih masuk akal dipotong menjadi:
aku / maca
bukan:
akum / aca
Bab 8 dan Bab 9 akan melatih strategi seperti ini. Untuk sekarang, cukup ingat: membaca lancar tidak berhenti pada pengenalan bentuk; ia juga membutuhkan pengenalan pola kata.
1.13 Perbedaan pokok antara huruf Latin dan hanacaraka
Sekarang kita rangkum perbedaan mendasar secara konseptual.
Dalam huruf Latin:
k = konsonan
a = vokal
ka = k + a
Dalam Aksara Jawa:
ꦏ = ka
Dalam huruf Latin, vokal biasanya berdiri sebagai huruf tersendiri. Dalam Aksara Jawa, vokal a melekat pada aksara dasar, sedangkan vokal lain sering ditandai dengan sandhangan.
Dalam huruf Latin, konsonan mati dapat ditulis langsung:
k
n
r
Dalam Aksara Jawa, konsonan mati memerlukan tanda atau bentuk khusus karena aksara dasar membawa vokal:
ꦏ = ka
ꦏ꧀ = k
Dalam huruf Latin, pembaca biasanya bergerak dari huruf ke bunyi. Dalam Aksara Jawa, pembaca bergerak dari aksara dasar dan tanda-tandanya ke suku kata.
Dengan kata lain, unit bacaan awal dalam hanacaraka lebih dekat ke suku kata daripada huruf tunggal Latin.
1.14 Cara melihat satu aksara: bentuk utama dan lingkungan sekitarnya
Saat mulai membaca Aksara Jawa, latih mata dengan urutan berikut.
Pertama, lihat bentuk utama. Misalnya:
ꦩ
Kenali sebagai ma.
Kedua, periksa apakah ada tanda di atas, di bawah, sebelum, atau sesudahnya. Jika tidak ada, baca dengan vokal bawaan:
ꦩ = ma
Jika ada tanda, jangan terburu-buru. Tanda itu mungkin mengubah vokal, menambahkan bunyi akhir, atau mematikan vokal. Misalnya:
ꦩꦶ = mi
Di sini bentuk utamanya masih ꦩ, tetapi sandhangan mengubah ma menjadi mi.
Ketiga, lihat hubungan dengan aksara berikutnya. Dalam teks yang lebih kompleks, sebuah aksara dapat berhubungan dengan pasangan atau tanda lain. Karena itu, membaca hanacaraka selalu melibatkan perhatian pada bentuk dan posisi.
Prinsip praktisnya:
Jangan membaca aksara Jawa hanya sebagai bentuk tunggal. Bacalah bentuk utama bersama tanda-tanda di sekitarnya.
1.15 Latihan pemanasan: membaca suku kata terbuka
Latihan berikut belum menuntut Anda menguasai semua aksara. Tujuannya adalah membiasakan cara berpikir: satu aksara dasar = satu suku kata dengan vokal bawaan a.
Bacalah contoh berikut dari kiri ke kanan.
ꦏꦤ
Langkah:
ꦏ = ka
ꦤ = na
ꦏꦤ = ka-na
Bacaan:
kana
Contoh kedua:
ꦩꦕ
Langkah:
ꦩ = ma
ꦕ = ca
ꦩꦕ = ma-ca
Bacaan:
maca
Contoh ketiga:
ꦱꦫ
Langkah:
ꦱ = sa
ꦫ = ra
ꦱꦫ = sa-ra
Bacaan:
sara
Contoh keempat:
ꦭꦩ
Langkah:
ꦭ = la
ꦩ = ma
ꦭꦩ = la-ma
Bacaan:
lama
Saat berlatih, ucapkan perlahan:
ka-na
ma-ca
sa-ra
la-ma
Jangan langsung mengejar kecepatan. Kecepatan akan muncul setelah pengenalan bentuk menjadi otomatis.
1.16 Kesalahan awal yang perlu dihindari
Kesalahan pertama adalah membaca aksara dasar sebagai konsonan kosong. Misalnya, melihat:
ꦏꦤ
lalu menganggapnya k-n. Itu keliru untuk tahap dasar, karena:
ꦏ = ka
ꦤ = na
Maka bacaannya kana, bukan kn.
Kesalahan kedua adalah mengabaikan tanda kecil di sekitar aksara. Jika nanti Anda melihat:
ꦏ
dan:
ꦏꦶ
keduanya tidak sama. Yang pertama ka, yang kedua ki.
Kesalahan ketiga adalah mengira semua tulisan Jawa modern selalu mengikuti satu bentuk ejaan yang sepenuhnya seragam. Dalam kenyataan, pembaca dapat bertemu variasi gaya cetak, variasi penulisan, dan perbedaan kebiasaan antara bahan ajar, papan nama, karya sastra, serta naskah. Unicode menyediakan kerangka pengodean digital untuk aksara Jawa, termasuk blok Javanese U+A980–U+A9DF, tetapi pengodean digital tidak menghapus seluruh variasi tradisi penulisan dan tampilan font (The Unicode Consortium 2024).
Kesalahan keempat adalah terlalu cepat menebak kata. Dalam membaca aksara baru, tebakan memang membantu, tetapi tebakan harus dikendalikan oleh bentuk. Jika bentuknya ꦩꦕ, bacalah ma-ca; jangan menebak kata lain hanya karena tampak mirip.
1.17 Peta besar bab-bab berikutnya
Bab ini memberi peta. Bab-bab berikutnya akan mengisi peta itu dengan bentuk dan aturan yang lebih rinci.
Bab 2 akan memperkenalkan dua puluh aksara dasar, yaitu aksara nglegena. Di sana Anda akan mulai menghafal bentuk:
ꦲ ꦤ ꦕ ꦫ ꦏ
ꦢ ꦠ ꦱ ꦮ ꦭ
ꦥ ꦝ ꦗ ꦪ ꦚ
ꦩ ꦒ ꦧ ꦛ ꦔ
Bab 3 akan membahas sandhangan swara dan pengubah bunyi. Anda akan belajar bagaimana ka berubah menjadi ki, ku, ke, ko, dan bentuk vokal lain.
Bab 4 akan membahas pasangan dan cara mematikan vokal. Di sana Anda akan memahami bagaimana Aksara Jawa menulis konsonan akhir dan rangkaian konsonan.
Bab 5 sampai Bab 7 akan menambahkan tanda akhir, gugus konsonan, angka, tanda baca, aksara murda, aksara swara, dan aksara rekan. Bab 8 dan Bab 9 akan membawa semua itu ke strategi membaca kata, frasa, paragraf, dan teks asli.
Jadi, jangan merasa harus menguasai semuanya sekarang. Yang harus Anda bawa dari Bab 1 hanyalah fondasi berikut:
- Aksara Jawa dibaca dari kiri ke kanan.
- Aksara dasar membawa vokal bawaan
a. - Sistem ini berbeda dari alfabet Latin karena unit dasarnya lebih dekat ke suku kata.
- Vokal dapat diubah dengan sandhangan.
- Vokal bawaan dapat dimatikan dengan pasangan atau tanda tertentu.
- Membaca hanacaraka berarti melihat bentuk utama, tanda tambahan, dan hubungan antaraksara.
Jika enam gagasan ini sudah jelas, Anda siap masuk ke Bab 2: mengenal dua puluh aksara dasar.
References
Daniels, Peter T., dan William Bright, ed. 1996. The World’s Writing Systems. New York: Oxford University Press.
The Unicode Consortium. 2024. The Unicode Standard, Version 16.0.0. Mountain View, CA: The Unicode Consortium. https://www.unicode.org/versions/Unicode16.0.0/