Pendahuluan
Selamat datang di Nahwu Sharaf Ceria.
Buku ini dibuat untuk kamu yang ingin mulai belajar nahwu dan sharaf dari dasar. Mungkin kamu pernah mendengar kata “nahwu shorof”, “nahwu sorof”, atau “nahwu sharaf”. Cara menulisnya dalam huruf Latin bisa berbeda-beda, tetapi maksud belajarnya sama: kita ingin memahami bagaimana kata Arab dibentuk dan bagaimana kata-kata itu disusun menjadi kalimat.
Bayangkan bahasa seperti rumah. Rumah tersusun dari batu bata, pintu, jendela, dan atap. Bahasa juga begitu. Bahasa tersusun dari huruf, kata, dan kalimat. Jika kita mengenal hurufnya, kita bisa membaca kata. Jika kita memahami kata, kita bisa membaca kalimat. Jika kita memahami kalimat, kita bisa menangkap makna dengan lebih baik.
Dalam buku ini, kita akan berjalan pelan-pelan dari bagian paling kecil menuju bagian yang lebih besar.
Pertama, kita akan mengenal huruf Arab. Huruf Arab ditulis dari kanan ke kiri. Misalnya kata:
كِتَابٌ
Kata itu dibaca kitābun, artinya “sebuah buku”. Nanti kita akan belajar bahwa tanda kecil di atas atau di bawah huruf, seperti fathah, kasrah, dan dhammah, membantu kita membaca bunyi dengan benar.
Setelah itu, kita akan belajar kata. Dalam tata bahasa Arab klasik, kata biasanya dibagi menjadi tiga kelompok besar: isim, fi’il, dan huruf (Wright, 1896). Kita belum perlu takut dengan istilahnya. Kita pahami satu per satu.
Isim adalah kata yang menunjukkan nama, benda, sifat, atau sesuatu yang dapat dibicarakan. Contohnya:
بَيْتٌ
baytun
artinya: “sebuah rumah”
Fi’il adalah kata kerja, yaitu kata yang menunjukkan perbuatan atau kejadian. Contohnya:
كَتَبَ
kataba
artinya: “dia telah menulis”
Huruf dalam pelajaran nahwu bukan hanya huruf seperti alif, ba, ta. Di sini, huruf berarti kata kecil yang membantu menghubungkan makna. Contohnya:
فِي
fī
artinya: “di dalam”
Kalau kita gabungkan, kita bisa membuat kalimat sederhana:
الْوَلَدُ فِي الْبَيْتِ
al-waladu fī al-bayti
artinya: “Anak laki-laki itu berada di rumah.”
Kalimat seperti ini nanti akan kita pelajari dengan tenang. Tidak perlu langsung hafal semuanya sekarang.
Sekarang mari kita kenal dua teman penting dalam buku ini: nahwu dan sharaf.
Nahwu adalah ilmu yang membantu kita memahami susunan kata dalam kalimat Arab. Dengan nahwu, kita bertanya, “Kata ini tugasnya apa dalam kalimat?” Misalnya dalam kalimat:
جَلَسَ الطِّفْلُ
jalasa aṭ-ṭiflu
artinya: “Anak itu duduk.”
Kata جَلَسَ berarti “duduk” atau “telah duduk”. Kata الطِّفْلُ berarti “anak itu”. Dalam nahwu, kita belajar bahwa الطِّفْلُ adalah pelaku, yaitu yang melakukan perbuatan duduk.
Sharaf adalah ilmu yang membantu kita memahami perubahan bentuk kata. Banyak kata Arab dibangun dari akar kata dan pola tertentu; cara ini merupakan ciri penting dalam tata bahasa Arab (Ryding, 2005). Misalnya dari akar huruf ك ت ب yang berhubungan dengan makna “menulis”, kita dapat menemukan beberapa bentuk:
كَتَبَ
kataba
artinya: “dia telah menulis”
يَكْتُبُ
yaktubu
artinya: “dia sedang/akan menulis”
كَاتِبٌ
kātibun
artinya: “penulis”
Dari contoh itu, kita melihat bahwa bentuk kata berubah, tetapi masih ada hubungan makna. Inilah salah satu hal menarik dalam sharaf. Seperti biji yang tumbuh menjadi pohon, satu akar kata bisa menghasilkan banyak kata.
Namun, buku ini tidak akan memaksa kamu langsung menghafal banyak aturan. Kita akan belajar seperti menaiki tangga. Satu anak tangga dulu, lalu anak tangga berikutnya.
Di Bab 1, kita mulai dari huruf, harakat, sukun, tanwin, dan tasydid. Ini seperti belajar mengenal bunyi dan tanda baca.
Di Bab 2, kita belajar jenis kata: isim, fi’il, dan huruf. Ini seperti belajar membedakan benda, perbuatan, dan kata penghubung.
Di Bab 3, kita mengenal isim lebih dekat. Kita akan belajar kata untuk laki-laki dan perempuan, satu, dua, dan banyak, juga penggunaan ال atau alif-lam.
Di Bab 4, kita masuk ke fi’il. Kita akan melihat kata kerja untuk masa lampau, sedang atau akan, dan perintah.
Di Bab 5, kita mulai mengenal sharaf dasar. Kita akan melihat bagaimana bentuk kata berubah dengan pola yang sederhana.
Di Bab 6 dan Bab 7, kita belajar membuat kalimat. Ada kalimat yang dimulai dengan isim, dan ada kalimat yang dimulai dengan fi’il.
Di Bab 8, kita mengenal tanda akhir kata, seperti dhammah, fathah, dan kasrah dalam kalimat. Kita akan mempelajarinya pelan-pelan, tanpa dibuat rumit.
Di Bab 9, kita menggabungkan semuanya. Tujuannya agar kamu bisa membaca dan membuat kalimat Arab sederhana dengan lebih percaya diri.
Sebelum lanjut, ada satu hal penting: belajar nahwu sharaf bukan lomba cepat. Lebih baik paham sedikit tetapi kuat, daripada membaca banyak tetapi bingung. Jika kamu menemukan kata baru, berhenti sebentar. Ucapkan pelan-pelan. Lihat contohnya. Coba buat contoh lain.
Misalnya kamu belajar kata:
مَدْرَسَةٌ
madrasatun
artinya: “sekolah”
Coba masukkan ke kalimat:
هٰذِهِ مَدْرَسَةٌ
hādzihi madrasatun
artinya: “Ini sebuah sekolah.”
Dengan cara seperti ini, kata tidak hanya dihafal, tetapi juga dipakai.
Buku ini akan menjadi teman latihanmu. Kamu boleh membaca dengan suara pelan. Kamu boleh mengulang. Kamu boleh salah ketika mencoba. Dalam belajar bahasa, salah adalah bagian dari perjalanan. Yang penting adalah mau memperbaiki dan mencoba lagi.
Mari kita mulai perjalanan ini dengan hati yang ringan.
Sedikit demi sedikit, huruf akan menjadi kata.
Kata akan menjadi kalimat.
Kalimat akan menjadi makna.
Dan makna akan membuat bahasa Arab terasa lebih dekat.
References
Ryding, Karin C. (2005). A Reference Grammar of Modern Standard Arabic. Cambridge University Press.
Wright, William. (1896). A Grammar of the Arabic Language. 3rd ed. Cambridge University Press.