Author @mujirin Verifier - Public
Back to 1 Verify Mark as read Debunk me Download PDF Locked

Bab 4: Fi’il: Kata Kerja dan Waktu

Pada Bab 2, kita sudah mengenal tiga keranjang kata dalam bahasa Arab:

isim, fi’il, dan huruf.

Pada Bab 3, kita melihat lebih dekat keranjang isim. Isim dapat berupa nama orang, benda, tempat, atau sifat.

Sekarang kita akan membuka keranjang kedua, yaitu fi’il.

Bayangkan kegiatanmu sehari-hari.

Pagi hari kamu bangun.
Lalu kamu makan.
Di sekolah kamu membaca dan menulis.
Setelah itu kamu bermain.
Malam hari kamu tidur.

Kata-kata seperti bangun, makan, membaca, menulis, bermain, dan tidur adalah kata kerja. Dalam bahasa Arab, kata kerja disebut fi’il.

Dalam tata bahasa Arab, fi’il adalah kata yang menunjukkan perbuatan atau kejadian, dan biasanya membawa makna waktu, misalnya perbuatan yang sudah terjadi, sedang atau akan terjadi, atau perintah untuk melakukan sesuatu (Wright, 1896; Ryding, 2005).

Di bab ini, kita akan belajar tiga bentuk fi’il yang paling dasar:

  1. fi’il māḍī — kata kerja lampau,
  2. fi’il muḍāri‘ — kata kerja sedang atau akan,
  3. fi’il amr — kata kerja perintah.

Pelan-pelan saja. Kita akan belajar dengan contoh kegiatan sehari-hari.


1. Apa Itu Fi’il?

Fi’il adalah kata kerja dalam bahasa Arab.

Kata kerja adalah kata yang menunjukkan perbuatan atau kejadian.

Contoh dalam bahasa Indonesia:

  • makan,
  • minum,
  • membaca,
  • menulis,
  • pergi,
  • duduk,
  • tidur.

Dalam bahasa Arab:

أَكَلَ
akala
dia telah makan

شَرِبَ
syariba
dia telah minum

قَرَأَ
qara’a
dia telah membaca

كَتَبَ
kataba
dia telah menulis

ذَهَبَ
dzahaba
dia telah pergi

Semua kata di atas adalah fi’il, karena semuanya menunjukkan perbuatan.

Perhatikan bedanya dengan isim.

كِتَابٌ
kitābun
sebuah buku

Ini isim, karena menunjukkan benda.

كَتَبَ
kataba
dia telah menulis

Ini fi’il, karena menunjukkan perbuatan.

Jadi, kalau kamu bertemu kata Arab, coba bertanya:

“Apakah kata ini menunjukkan benda atau nama?”
Kalau iya, mungkin itu isim.

“Apakah kata ini menunjukkan pekerjaan atau perbuatan?”
Kalau iya, mungkin itu fi’il.


2. Fi’il dan Waktu

Dalam bahasa Indonesia, kita sering menambah kata untuk menunjukkan waktu.

Contoh:

  • Kemarin Ali menulis.
  • Sekarang Ali menulis.
  • Besok Ali akan menulis.
  • Wahai Ali, tulislah!

Kata dasarnya sama, yaitu menulis. Tetapi waktunya berbeda.

Dalam bahasa Arab, bentuk kata kerja dapat berubah untuk menunjukkan hubungan dengan waktu atau jenis kalimat. Secara dasar, tata bahasa Arab mengenal bentuk māḍī, muḍāri‘, dan amr untuk fi’il (Wright, 1896; Ryding, 2005).

Mari kita lihat dengan kata menulis.

كَتَبَ
kataba
dia telah menulis

يَكْتُبُ
yaktubu
dia sedang atau akan menulis

اُكْتُبْ
uktub
tulislah!

Ketiga kata itu masih satu keluarga makna: menulis. Tetapi bentuknya berbeda.


3. Fi’il Māḍī: Perbuatan yang Sudah Terjadi

Fi’il māḍī adalah fi’il yang biasanya menunjukkan perbuatan yang sudah terjadi. Dalam buku dasar, kita boleh mengingatnya sebagai kata kerja lampau.

Kata māḍī berarti “yang telah berlalu”.

Contoh:

كَتَبَ
kataba
dia telah menulis

Misalnya, kemarin Ali menulis di buku.

كَتَبَ عَلِيٌّ
kataba ‘Aliyyun
Ali telah menulis.

Contoh lain:

قَرَأَ
qara’a
dia telah membaca

قَرَأَ الطَّالِبُ
qara’a aṭ-ṭālibu
Murid itu telah membaca.

Contoh lagi:

جَلَسَ
jalasa
dia telah duduk

جَلَسَ الوَلَدُ
jalasa al-waladu
Anak laki-laki itu telah duduk.

Dalam contoh-contoh dasar seperti كَتَبَ, قَرَأَ, dan جَلَسَ, fi’il māḍī untuk “dia laki-laki” sering berakhir dengan bunyi -a.

Perhatikan:

كَتَبَ — kataba
قَرَأَ — qara’a
جَلَسَ — jalasa

Tetapi jangan hanya menghafal bunyi akhirnya. Yang lebih penting adalah memahami maknanya: perbuatan itu sudah terjadi.


4. Contoh Fi’il Māḍī dalam Kegiatan Sehari-hari

Mari kita bayangkan hari kemarin.

Kemarin kamu makan.

أَكَلَ الوَلَدُ
akala al-waladu
Anak laki-laki itu telah makan.

Kemarin Fatimah minum.

شَرِبَتْ فَاطِمَةُ
syaribat Fāṭimatu
Fatimah telah minum.

Kemarin guru masuk kelas.

دَخَلَ المُعَلِّمُ
dakhala al-mu‘allimu
Guru laki-laki itu telah masuk.

Kemarin murid membaca.

قَرَأَ الطَّالِبُ
qara’a aṭ-ṭālibu
Murid laki-laki itu telah membaca.

Pada contoh شَرِبَتْ فَاطِمَةُ, ada tambahan تْ di akhir fi’il:

شَرِبَتْ
syaribat
dia perempuan telah minum

Tambahan ini menunjukkan bahwa pelakunya perempuan. Bahasa Arab memang sering menyesuaikan bentuk fi’il dengan pelakunya. Untuk sekarang, cukup kenali dulu bahwa bentuk fi’il bisa berubah.


5. Fi’il Muḍāri‘: Perbuatan yang Sedang atau Akan Terjadi

Sekarang kita pindah dari kemarin ke hari ini atau besok.

Fi’il muḍāri‘ adalah fi’il yang sering digunakan untuk perbuatan yang sedang terjadi, biasa terjadi, atau akan terjadi, sesuai konteks kalimatnya. Dalam pelajaran dasar, fi’il muḍāri‘ sering dikenalkan sebagai kata kerja “sedang” atau “akan” (Ryding, 2005).

Contoh:

يَكْتُبُ
yaktubu
dia sedang atau akan menulis

Jika konteksnya sekarang:

يَكْتُبُ عَلِيٌّ
yaktubu ‘Aliyyun
Ali sedang menulis.

Jika konteksnya besok, maknanya bisa menjadi:

Ali akan menulis.

Bahasa Arab juga memiliki cara lain untuk memperjelas makna “akan”, misalnya dengan tambahan tertentu. Tetapi untuk pelajaran dasar, cukup pahami bahwa يَكْتُبُ bisa berarti “sedang menulis” atau “akan menulis”, tergantung kalimatnya.

Contoh lain:

يَقْرَأُ
yaqra’u
dia sedang atau akan membaca

يَجْلِسُ
yajlisu
dia sedang atau akan duduk

يَذْهَبُ
yadzhabu
dia sedang atau akan pergi

Perhatikan awal katanya:

يَكْتُبُ
يَقْرَأُ
يَجْلِسُ
يَذْهَبُ

Semuanya dimulai dengan huruf يـ.

Untuk contoh dasar “dia laki-laki sedang/akan melakukan”, fi’il muḍāri‘ sering dimulai dengan يـ.


6. Tanda Awal pada Fi’il Muḍāri‘

Fi’il muḍāri‘ dapat memiliki huruf tambahan di awal. Dalam tata bahasa Arab, bentuk muḍāri‘ memakai awalan tertentu untuk menunjukkan pelaku, seperti “aku”, “kami”, “dia”, atau “kamu” (Wright, 1896; Ryding, 2005).

Lihat contoh dari kata menulis.

أَكْتُبُ
aktubu
aku menulis

نَكْتُبُ
naktubu
kami/kita menulis

يَكْتُبُ
yaktubu
dia laki-laki menulis

تَكْتُبُ
taktubu
kamu menulis / dia perempuan menulis

Jangan bingung dulu. Kita belum perlu menghafal semuanya sekaligus.

Untuk sekarang, ingat saja:

  • أَ di awal dapat berhubungan dengan aku,
  • نَ di awal dapat berhubungan dengan kami/kita,
  • يَ di awal dapat berhubungan dengan dia laki-laki,
  • تَ di awal dapat berhubungan dengan kamu atau dia perempuan, tergantung kalimat.

Contoh kalimat:

أَنَا أَكْتُبُ
anā aktubu
Aku menulis.

نَحْنُ نَكْتُبُ
naḥnu naktubu
Kami menulis.

هُوَ يَكْتُبُ
huwa yaktubu
Dia laki-laki menulis.

أَنْتَ تَكْتُبُ
anta taktubu
Kamu laki-laki menulis.


7. Fi’il Amr: Kata Perintah

Sekarang bayangkan guru berkata:

“Bacalah!”

“Aturlah barisan!”

“Tulislah!”

“Duduklah!”

Kata-kata seperti itu adalah perintah.

Dalam bahasa Arab, kata kerja perintah disebut fi’il amr. Amr berarti perintah. Fi’il amr digunakan ketika seseorang meminta atau menyuruh orang lain melakukan sesuatu (Wright, 1896; Ryding, 2005).

Contoh:

اِقْرَأْ
iqra’
bacalah!

اُكْتُبْ
uktub
tulislah!

اِجْلِسْ
ijlis
duduklah!

اِفْتَحْ
iftaḥ
bukalah!

اِذْهَبْ
idzhab
pergilah!

Perhatikan bahwa fi’il amr biasanya diucapkan kepada orang yang sedang diajak bicara.

Misalnya guru berkata kepada murid:

اِقْرَأْ يَا عَلِيُّ
iqra’ yā ‘Aliyyu
Bacalah, wahai Ali!

Ibu berkata kepada anak:

اِجْلِسْ يَا وَلَدُ
ijlis yā waladu
Duduklah, wahai anak laki-laki!

Ayah berkata:

اُكْتُبْ الدَّرْسَ
uktub ad-darsa
Tulislah pelajaran itu!

Fi’il amr bukan selalu berarti marah. Perintah bisa diucapkan dengan lembut, sopan, dan penuh kasih sayang.

Contoh dalam bahasa Indonesia:

“Tolong bacalah buku ini.”

Dalam bahasa Arab dasar:

اِقْرَأْ هٰذَا الكِتَابَ
iqra’ hādzā al-kitāba
Bacalah buku ini.


8. Tiga Bentuk dalam Satu Keluarga

Sekarang kita bandingkan tiga bentuk fi’il.

Makna dasar Fi’il Māḍī Fi’il Muḍāri‘ Fi’il Amr
menulis كَتَبَ
kataba
dia telah menulis
يَكْتُبُ
yaktubu
dia sedang/akan menulis
اُكْتُبْ
uktub
tulislah!
membaca قَرَأَ
qara’a
dia telah membaca
يَقْرَأُ
yaqra’u
dia sedang/akan membaca
اِقْرَأْ
iqra’
bacalah!
duduk جَلَسَ
jalasa
dia telah duduk
يَجْلِسُ
yajlisu
dia sedang/akan duduk
اِجْلِسْ
ijlis
duduklah!
pergi ذَهَبَ
dzahaba
dia telah pergi
يَذْهَبُ
yadzhabu
dia sedang/akan pergi
اِذْهَبْ
idzhab
pergilah!
membuka فَتَحَ
fataḥa
dia telah membuka
يَفْتَحُ
yaftaḥu
dia sedang/akan membuka
اِفْتَحْ
iftaḥ
bukalah!

Lihatlah pola maknanya.

كَتَبَ berarti sudah menulis.
يَكْتُبُ berarti sedang atau akan menulis.
اُكْتُبْ berarti perintah: tulislah.


9. Cerita Kecil: Ali dan Buku

Mari kita baca cerita pendek.

كَتَبَ عَلِيٌّ
kataba ‘Aliyyun
Ali telah menulis.

يَكْتُبُ عَلِيٌّ الآنَ
yaktubu ‘Aliyyun al-āna
Ali sedang menulis sekarang.

اُكْتُبْ يَا عَلِيُّ
uktub yā ‘Aliyyu
Tulislah, wahai Ali!

Dalam cerita itu, ada tiga fi’il:

كَتَبَ — sudah terjadi.
يَكْتُبُ — sedang terjadi.
اُكْتُبْ — perintah.

Sekarang cerita dengan membaca.

قَرَأَتْ فَاطِمَةُ
qara’at Fāṭimatu
Fatimah telah membaca.

تَقْرَأُ فَاطِمَةُ الآنَ
taqra’u Fāṭimatu al-āna
Fatimah sedang membaca sekarang.

اِقْرَئِي يَا فَاطِمَةُ
iqra’ī yā Fāṭimatu
Bacalah, wahai Fatimah!

Pada contoh terakhir, اِقْرَئِي digunakan untuk memerintah satu orang perempuan. Untuk satu orang laki-laki, bentuknya:

اِقْرَأْ
iqra’
bacalah!

Bahasa Arab memperhatikan siapa yang diajak bicara. Tetapi untuk tahap awal, kamu cukup mengenal bentuk dasar perintah seperti اِقْرَأْ, اُكْتُبْ, dan اِجْلِسْ.


10. Jangan Tertukar: Isim dan Fi’il

Kadang ada kata yang terlihat mirip, tetapi jenisnya berbeda.

Perhatikan:

كِتَابٌ
kitābun
buku

Ini isim, karena menunjukkan benda.

كَتَبَ
kataba
dia telah menulis

Ini fi’il, karena menunjukkan perbuatan.

Contoh lain:

قِرَاءَةٌ
qirā’atun
bacaan / kegiatan membaca

Ini isim.

قَرَأَ
qara’a
dia telah membaca

Ini fi’il.

Contoh lagi:

جُلُوسٌ
julūsun
duduk / kegiatan duduk

Ini isim.

جَلَسَ
jalasa
dia telah duduk

Ini fi’il.

Jadi, jangan hanya melihat arti umumnya. Tanyakan:

“Apakah kata ini menyebut benda atau nama kegiatan?”
Mungkin itu isim.

“Apakah kata ini melakukan perbuatan dalam waktu tertentu?”
Mungkin itu fi’il.


11. Cara Mudah Mengenali Fi’il

Untuk pemula, kita bisa memakai tiga pertanyaan.

Pertanyaan 1: Apakah Ada Perbuatan?

Contoh:

أَكَلَ
akala
dia telah makan

Ada perbuatan makan. Jadi ini fi’il.

بَيْتٌ
baytun
rumah

Tidak ada perbuatan. Ini isim.

Pertanyaan 2: Apakah Perbuatannya Sudah Terjadi?

Contoh:

شَرِبَ
syariba
dia telah minum

Ini fi’il māḍī, karena perbuatannya sudah terjadi.

Pertanyaan 3: Apakah Ini Perintah?

Contoh:

اِسْمَعْ
isma‘
dengarkanlah!

Ini fi’il amr, karena menyuruh seseorang mendengarkan.


12. Latihan Membaca

Bacalah pelan-pelan dari kanan ke kiri.

A. Bacalah dan Perhatikan Artinya

كَتَبَ
kataba
dia telah menulis

يَكْتُبُ
yaktubu
dia sedang/akan menulis

اُكْتُبْ
uktub
tulislah!

قَرَأَ
qara’a
dia telah membaca

يَقْرَأُ
yaqra’u
dia sedang/akan membaca

اِقْرَأْ
iqra’
bacalah!

جَلَسَ
jalasa
dia telah duduk

يَجْلِسُ
yajlisu
dia sedang/akan duduk

اِجْلِسْ
ijlis
duduklah!


13. Latihan Memilih

Tentukan apakah kata berikut termasuk māḍī, muḍāri‘, atau amr.

  1. فَتَحَ
  2. يَفْتَحُ
  3. اِفْتَحْ
  4. ذَهَبَ
  5. يَذْهَبُ
  6. اِذْهَبْ
  7. شَرِبَ
  8. يَشْرَبُ
  9. اِشْرَبْ

Coba kerjakan sendiri dulu sebelum melihat kunci.


14. Kunci Latihan

  1. فَتَحَ — māḍī — dia telah membuka
  2. يَفْتَحُ — muḍāri‘ — dia sedang/akan membuka
  3. اِفْتَحْ — amr — bukalah!
  4. ذَهَبَ — māḍī — dia telah pergi
  5. يَذْهَبُ — muḍāri‘ — dia sedang/akan pergi
  6. اِذْهَبْ — amr — pergilah!
  7. شَرِبَ — māḍī — dia telah minum
  8. يَشْرَبُ — muḍāri‘ — dia sedang/akan minum
  9. اِشْرَبْ — amr — minumlah!

15. Rangkuman Bab 4

Dalam bab ini, kita belajar bahwa fi’il adalah kata kerja.

Fi’il menunjukkan perbuatan, seperti:

  • menulis,
  • membaca,
  • duduk,
  • pergi,
  • makan,
  • minum.

Kita juga mengenal tiga bentuk dasar fi’il:

Fi’il māḍī menunjukkan perbuatan yang sudah terjadi.

Contoh:

كَتَبَ
kataba
dia telah menulis

Fi’il muḍāri‘ menunjukkan perbuatan yang sedang atau akan terjadi.

Contoh:

يَكْتُبُ
yaktubu
dia sedang/akan menulis

Fi’il amr menunjukkan perintah.

Contoh:

اُكْتُبْ
uktub
tulislah!

Ingat tiga kata kunci ini:

māḍī — sudah.
muḍāri‘ — sedang atau akan.
amr — perintah.

Pada bab berikutnya, kita akan mulai mengenal sharaf, yaitu ilmu yang membantu kita melihat perubahan bentuk kata. Kita akan melihat bahwa banyak kata Arab memiliki keluarga bentuk yang saling berkaitan.

References

Ryding, Karin C. A Reference Grammar of Modern Standard Arabic. Cambridge University Press, 2005.

Wright, W. A Grammar of the Arabic Language. 3rd ed., Cambridge University Press, 1896.

τ TheoryTrace