Bab 3: Bunyi Dasar Bahasa Bugis
Pada Bab 2, kita belajar bahwa huruf dasar Lontara biasanya membawa bunyi vokal /a/. Karena itu, satu huruf Lontara sering langsung terasa seperti satu suku kata: ka, pa, ta, ma, la, dan seterusnya.
Sekarang kita berhenti sebentar dari bentuk huruf, lalu mendengarkan bunyinya.
Mengapa perlu begitu? Karena membaca aksara bukan hanya pekerjaan mata. Membaca juga pekerjaan telinga dan mulut. Mata melihat tanda, telinga membayangkan bunyi, lalu mulut dapat mengucapkannya. Jika bunyi dasarnya sudah akrab, nanti ketika melihat huruf Lontara, kamu tidak hanya menghafal bentuknya, tetapi juga “mendengar” suaranya di dalam pikiran.
Dalam bab ini, kita akan mengenal tiga hal:
- vokal, yaitu bunyi seperti a, i, u, e, o;
- konsonan, yaitu bunyi seperti k, p, t, m, l;
- suku kata, yaitu potongan bunyi kecil seperti ka, pa, ta, ma, dan la.
Bahasa Bugis adalah bahasa hidup yang dipakai oleh masyarakat Bugis, terutama di Sulawesi Selatan, dan memiliki sejarah budaya tulis yang panjang (Pelras, 1996). Seperti bahasa hidup lainnya, pengucapan dapat sedikit berbeda menurut daerah, keluarga, atau kebiasaan penutur. Buku ini memakai cara baca awal yang umum untuk membantu pemula membaca Lontara dengan pelan dan teratur.
Bunyi, huruf, dan lambang /.../
Sebelum masuk ke vokal dan konsonan, perhatikan cara buku ini menulis bunyi.
Jika kita menulis:
ka
itu adalah tulisan Latin biasa.
Tetapi jika kita menulis:
/ka/
tanda garis miring /.../ berarti “yang sedang dibicarakan adalah bunyinya”. Jadi /ka/ berarti bunyi ka, bukan bentuk huruf tertentu.
Contoh:
- k adalah huruf Latin.
- ᨀ adalah huruf Lontara.
- /ka/ adalah bunyi yang dapat diucapkan.
Dalam ilmu bahasa, pembedaan seperti ini penting karena huruf dan bunyi tidak selalu sama. Satu bunyi dapat ditulis dengan aksara yang berbeda. Misalnya bunyi /ba/ dapat ditulis dengan huruf Latin sebagai ba, dan dalam Lontara sebagai ᨅ. Lontara termasuk sistem tulisan yang huruf dasarnya membawa vokal bawaan, sehingga sering dibahas bersama sistem abugida atau alphasyllabary dalam kajian sistem tulisan (Daniels & Bright, 1996).
Untuk sekarang, cukup ingat:
Bunyi adalah suara. Huruf adalah tanda untuk menuliskan suara.
Vokal: bunyi yang mengalir terbuka
Vokal adalah bunyi yang diucapkan dengan aliran udara relatif terbuka dari mulut. Ketika mengucapkan vokal, udara tidak ditahan kuat oleh bibir, lidah, atau gigi.
Cobalah ucapkan pelan-pelan:
a — i — u — e — o
Saat mengucapkan a, mulut terbuka cukup lebar.
Saat mengucapkan i, bibir agak melebar dan lidah naik ke depan.
Saat mengucapkan u, bibir membulat.
Saat mengucapkan e, posisi mulut berada di antara i dan a.
Saat mengucapkan o, bibir membulat, tetapi mulut lebih terbuka daripada u.
Dalam pembelajaran Lontara Bugis, kita akan sering memakai vokal berikut:
| Vokal | Contoh cara mendengar | Latihan ucap |
|---|---|---|
| a | seperti a dalam aku | ka, pa, ta |
| i | seperti i dalam ikan | ki, pi, ti |
| u | seperti u dalam ular | ku, pu, tu |
| e | seperti e dalam enak bagi banyak penutur Indonesia | ke, pe, te |
| o | seperti o dalam obat | ko, po, to |
| ə / pepet | seperti e lemah dalam besar atau telur pada banyak ragam Indonesia | kə, pə, tə |
Vokal terakhir sering disebut pepet. Pepet adalah bunyi e lemah, seperti bunyi awal pada kata Indonesia besar jika diucapkan bəsar. Dalam buku ini, jika perlu membedakan, pepet dapat ditulis dengan lambang ə.
Jangan khawatir jika lambang ə masih baru. Lambang itu hanya alat bantu. Yang penting adalah telingamu mulai dapat membedakan:
ke dan kə
pe dan pə
te dan tə
Pada bab berikutnya, kita akan melihat bagaimana tanda vokal Lontara mengubah huruf dasar ka menjadi ki, ku, ke, ko, dan bunyi lainnya.
Konsonan: bunyi yang memakai hambatan
Konsonan adalah bunyi yang diucapkan dengan hambatan atau penyempitan aliran udara. Hambatan itu dapat terjadi di bibir, gigi, langit-langit mulut, atau bagian belakang mulut.
Cobalah ucapkan:
p — t — k
Pada p, kedua bibir menutup sebentar.
Pada t, ujung lidah menyentuh bagian dekat gigi atas.
Pada k, bagian belakang lidah naik ke arah langit-langit belakang.
Sekarang ucapkan:
m — n — ng
Pada m, bibir menutup, tetapi udara keluar melalui hidung.
Pada n, ujung lidah menyentuh bagian depan mulut, dan udara keluar melalui hidung.
Pada ng, bagian belakang lidah naik, dan udara juga keluar melalui hidung.
Bunyi seperti m, n, ny, ng disebut bunyi sengau atau nasal, karena udara mengalir melalui hidung. Kata “nasal” berasal dari gagasan tentang hidung. Kamu dapat merasakannya dengan menutup hidung saat mengucapkan mmmm. Bunyi itu akan sulit keluar dengan normal.
Suku kata: ketukan kecil dalam kata
Suku kata adalah bagian bunyi yang terasa seperti satu ketukan saat kita mengucapkan kata.
Contoh dalam bahasa Indonesia:
batu dapat dipotong menjadi:
ba-tu
Ada dua suku kata: ba dan tu.
Dalam Lontara, huruf dasar sangat sering cocok dengan pola suku kata sederhana seperti ini:
konsonan + vokal a
Contoh:
k + a = ka
p + a = pa
t + a = ta
m + a = ma
l + a = la
Inilah sebabnya Bab 2 menekankan bahwa huruf dasar Lontara biasanya berbunyi dengan vokal /a/. Huruf dasar Lontara tidak dibaca hanya k, tetapi ka; tidak hanya p, tetapi pa.
Mari latihan dengan lima suku kata awal:
| Suku kata | Cara membaca |
|---|---|
| ka | ucapkan pendek dan jelas: ka |
| pa | bibir menutup sebentar: pa |
| ta | ujung lidah bekerja di depan: ta |
| ma | bibir menutup, udara lewat hidung: ma |
| la | lidah menyentuh ringan, lalu udara keluar: la |
Latihan kecil:
Bacalah perlahan:
ka — pa — ta — ma — la
Sekarang baca mundur:
la — ma — ta — pa — ka
Lalu baca berpasangan:
ka-pa
ta-ma
ma-la
pa-ta
la-ka
Tidak semua rangkaian latihan ini harus menjadi kata bermakna. Tujuannya adalah melatih telinga dan mulut agar akrab dengan bunyi.
Bunyi yang mirip: p dan b
Beberapa bunyi terasa mirip karena tempat mengucapkannya sama. Misalnya p dan b.
Ucapkan:
pa — ba
pa — ba
pa — ba
Pada p dan b, kedua bibir sama-sama menutup sebentar. Perbedaannya ada pada getaran suara.
Cobalah letakkan tangan di tenggorokan.
Ucapkan pa.
Lalu ucapkan ba.
Pada banyak penutur, ba terasa lebih “bergetar” karena pita suara ikut bergetar sejak awal bunyi. Pita suara adalah bagian di dalam tenggorokan yang dapat bergetar ketika kita menghasilkan suara. Bunyi seperti b, d, g biasanya disebut bersuara karena memakai getaran pita suara. Bunyi seperti p, t, k biasanya disebut tak bersuara karena getaran itu tidak sekuat atau tidak muncul pada awal bunyinya.
Pasangan latihan:
| Tak bersuara | Bersuara |
|---|---|
| pa | ba |
| ta | da |
| ka | ga |
Baca pelan:
pa — ba — pa — ba
ta — da — ta — da
ka — ga — ka — ga
Tujuannya bukan berbicara cepat. Tujuannya adalah mendengar bedanya.
Bunyi yang mirip: t dan d
Sekarang perhatikan t dan d.
Ucapkan:
ta — da
Keduanya memakai lidah bagian depan. Lidah menyentuh daerah di belakang gigi atas atau dekat gusi atas. Perbedaannya, d biasanya lebih bersuara daripada t.
Latihan:
ta — da
ti — di
tu — du
te — de
to — do
Jika kamu sudah biasa berbahasa Indonesia, pasangan ini mungkin terasa mudah. Tetapi tetap perlu dilatih, karena ketika membaca Lontara nanti, kamu harus menghubungkan bentuk huruf dengan bunyi secara tepat.
Bunyi yang mirip: k dan g
Sekarang ucapkan:
ka — ga
Pada k dan g, bagian belakang lidah bekerja. Lidah naik ke arah langit-langit belakang. Perbedaannya mirip dengan p/b dan t/d: g biasanya lebih bersuara daripada k.
Latihan:
ka — ga
ki — gi
ku — gu
ke — ge
ko — go
Kemudian baca campuran:
ka — ga — pa — ba — ta — da
Jika kamu salah, tidak apa-apa. Kesalahan kecil adalah bagian normal dari belajar bunyi.
Bunyi sengau: m, n, ny, dan ng
Bahasa Bugis, seperti bahasa Indonesia, memiliki bunyi sengau. Bunyi sengau penting karena beberapa huruf Lontara mewakili bunyi seperti ma, na, nya, dan nga.
Mari kita rasakan satu per satu.
m
Ucapkan:
ma
Kedua bibir menutup. Udara keluar lewat hidung. Contoh latihan:
ma — mi — mu — me — mo
n
Ucapkan:
na
Lidah menyentuh bagian depan mulut. Udara keluar lewat hidung. Latihan:
na — ni — nu — ne — no
ny
Ucapkan:
nya
Bunyi ny seperti dalam kata Indonesia nyamuk atau nyanyi. Latihan:
nya — nyi — nyu — nye — nyo
Perhatikan bahwa ny bukan gabungan dua suku kata n-ya. Dalam latihan ini, nya dibaca sebagai satu suku kata.
ng
Ucapkan:
nga
Bunyi ng seperti pada akhir kata Indonesia makan? Bukan. Kata makan berakhir dengan n, bukan ng.
Bunyi ng seperti pada kata Indonesia:
nganga
mengapa
tangan pada bagian akhir -ng
Latihan:
nga — ngi — ngu — nge — ngo
Bagi sebagian penutur bahasa Indonesia, ng di awal suku kata mungkin terasa agak sulit. Latih pelan-pelan:
nga
nga-a
nga
Jangan menambahkan bunyi e di depan. Usahakan bukan enga, tetapi langsung nga.
Bunyi gabungan rapat: ngka, mpa, nca, dan nra
Dalam daftar huruf Lontara Bugis, ada beberapa huruf yang mewakili bunyi gabungan rapat, misalnya:
ngka
mpa
nca
nra
Bunyi seperti ini dimulai dengan unsur sengau, lalu langsung masuk ke bunyi berikutnya. Untuk pemula, bayangkan bunyi itu seperti dua bagian yang sangat rapat, bukan dua suku kata panjang.
Contoh:
ngka jangan dibaca e-ng-ka.
Bacalah rapat: ngka.
mpa jangan dibaca em-pa.
Bacalah rapat: mpa.
nca jangan dibaca en-ca.
Bacalah rapat: nca.
nra jangan dibaca en-ra.
Bacalah rapat: nra.
Latihan perlahan:
nga — ngka
ma — mpa
nya — nca
na — nra
Pada tahap awal, tidak perlu memaksa suara menjadi cepat. Yang penting kamu menyadari bahwa ngka, mpa, nca, dan nra adalah pola bunyi yang akan muncul sebagai huruf dasar tersendiri dalam pelajaran Lontara berikutnya.
Bunyi aliran: ya, ra, la, wa, sa, a, dan ha
Selain bunyi letupan seperti pa, ta, ka, dan bunyi sengau seperti ma, na, nga, kita juga akan bertemu bunyi lain yang lebih mengalir.
ya
ya diawali bunyi y, seperti dalam kata Indonesia yang.
Latihan:
ya — yi — yu — ye — yo
ra
ra memakai bunyi r. Cara mengucapkan r dapat berbeda-beda menurut penutur. Ada yang bergetar jelas, ada yang lebih ringan. Dalam belajar membaca awal, yang penting kamu mengenali bahwa ra berbeda dari la.
Latihan:
ra — la
ri — li
ru — lu
la
la memakai lidah bagian depan. Bunyi ini biasanya lebih mudah bagi penutur bahasa Indonesia.
Latihan:
la — li — lu — le — lo
wa
wa diawali bunyi w, seperti dalam kata Indonesia waktu.
Latihan:
wa — wi — wu — we — wo
sa
sa memakai aliran udara yang menyempit di depan mulut.
Latihan:
sa — si — su — se — so
a
Dalam Lontara ada juga huruf dasar untuk bunyi vokal awal a. Artinya, sebuah suku kata dapat dimulai langsung dengan vokal, tanpa konsonan di depannya.
Latihan:
a — i — u — e — o
Nanti kita akan belajar bahwa huruf dasar a juga dapat diberi tanda vokal untuk menghasilkan bunyi vokal lain.
ha
Bunyi ha memakai hembusan dari tenggorokan. Dalam pembelajaran Lontara modern, huruf ha tetap dikenalkan sebagai bagian dari daftar huruf yang perlu dibaca.
Latihan:
ha — hi — hu — he — ho
Mendengar suku kata: ka, pa, ta, ma, la
Sekarang kita kembali ke lima suku kata yang disebut dalam tujuan bab ini:
ka, pa, ta, ma, la
Mari kita dengarkan dari tempat mengucapkannya.
| Suku kata | Bagian mulut yang terasa bekerja | Petunjuk |
|---|---|---|
| ka | belakang lidah | terasa dari bagian belakang mulut |
| pa | dua bibir | bibir menutup lalu terbuka |
| ta | ujung lidah | lidah menyentuh bagian depan mulut |
| ma | dua bibir dan hidung | seperti pa, tetapi sengau |
| la | ujung lidah | lidah menyentuh ringan, bunyi mengalir |
Latihan 1: baca datar.
ka — pa — ta — ma — la
Latihan 2: baca dengan tepukan.
Tepuk sekali untuk setiap suku kata:
ka 👏
pa 👏
ta 👏
ma 👏
la 👏
Latihan 3: cari pasangan yang mirip.
pa — ma
Keduanya memakai bibir. Bedanya, ma sengau.
ta — la
Keduanya memakai lidah depan. Bedanya, ta seperti letupan pendek, sedangkan la lebih mengalir.
ka — ta
Keduanya tak bersuara, tetapi ka di belakang mulut, ta di depan mulut.
Dari suku kata ke kata pendek
Sekarang kita coba menggabungkan suku kata menjadi bentuk yang lebih panjang.
Baca perlahan:
ba-sa
Gabungkan:
basa
Dalam contoh yang sudah muncul sebelumnya, basa Ugi berarti “bahasa Bugis”. Dalam Lontara, contoh itu dapat ditulis:
ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ
Untuk saat ini, jangan fokus dulu pada semua bentuk hurufnya. Fokuslah pada pemecahan bunyinya:
ba-sa U-gi
Perhatikan bahwa membaca kata panjang sering lebih mudah jika kita memotongnya menjadi suku kata kecil. Ini strategi penting dalam membaca Lontara.
Contoh latihan bunyi:
ma-la → mala
pa-la → pala
ta-la → tala
ka-la → kala
Pada tahap ini, sebagian bentuk latihan mungkin hanya dipakai untuk melatih bunyi. Kita belum perlu menghafal arti semua kata. Arti kata akan kita pelajari lebih banyak pada Bab 12 tentang kosakata sehari-hari.
Jangan tergesa-gesa menebak dari huruf Latin
Karena kamu sudah terbiasa dengan huruf Latin, mungkin kamu ingin membaca semua bunyi Bugis seolah-olah sama persis dengan bahasa Indonesia. Kebiasaan itu membantu, tetapi tidak selalu cukup.
Ada tiga hal yang perlu diingat.
Pertama, beberapa bunyi memang mirip dengan bahasa Indonesia, misalnya ma, na, pa, ta, la. Ini membuat langkah awal terasa lebih mudah.
Kedua, beberapa bunyi perlu perhatian khusus, misalnya nga di awal suku kata, atau bunyi gabungan rapat seperti ngka dan mpa.
Ketiga, Lontara memiliki aturan tulis sendiri. Nanti, pada Bab 11, kita akan belajar bahwa Lontara tradisional tidak selalu menuliskan semua bunyi akhir seperti kebiasaan ejaan Latin. Karena itu, pembaca Lontara perlu memakai pengetahuan bunyi, kosakata, dan konteks.
Jadi, saat belajar membaca, lakukan tiga langkah sederhana:
- Lihat tanda.
- Ucapkan suku kata.
- Gabungkan menjadi kata.
Latihan akhir bab
Bacalah latihan berikut dengan suara pelan. Jika belajar bersama teman atau guru, minta mereka mendengarkan dan memperbaiki dengan lembut.
Latihan A: vokal
Baca:
a — i — u — e — o — ə
Lalu baca:
ka — ki — ku — ke — ko — kə
Latihan B: pasangan tak bersuara dan bersuara
Baca:
pa — ba
ta — da
ka — ga
Sekarang acak:
ba — pa — ga — ka — da — ta
Latihan C: bunyi sengau
Baca:
ma — na — nya — nga
Lalu baca:
mi — ni — nyi — ngi
mu — nu — nyu — ngu
Latihan D: bunyi gabungan rapat
Baca perlahan:
ngka — mpa — nca — nra
Lalu bandingkan:
nga — ngka
ma — mpa
nya — nca
na — nra
Latihan E: suku kata menjadi rangkaian
Baca per suku kata, lalu gabungkan:
ba-sa → basa
U-gi → Ugi
ba-sa U-gi → basa Ugi
Kemudian baca rangkaian latihan:
ka-pa
ta-ma
ma-la
pa-ta
la-ka
Ringkasan
Dalam bab ini, kamu belajar bahwa bunyi dasar sangat penting sebelum membaca huruf Lontara lebih jauh.
Kamu sudah mengenal:
- vokal, yaitu bunyi terbuka seperti a, i, u, e, o, dan pepet ə;
- konsonan, yaitu bunyi yang memakai hambatan, seperti p, t, k, m, n, l;
- suku kata, yaitu ketukan kecil seperti ka, pa, ta, ma, la;
- perbedaan bunyi mirip seperti p/b, t/d, dan k/g;
- bunyi sengau seperti m, n, ny, ng;
- bunyi gabungan rapat seperti ngka, mpa, nca, nra.
Pada Bab 4, kita akan kembali ke aksara Lontara. Kita akan melihat bagaimana tanda anak sureq mengubah bunyi huruf dasar. Dari ka, kita akan belajar membaca ki, ku, ke, ko, dan bentuk-bentuk lainnya.
References
Daniels, Peter T., & Bright, William, eds. (1996). The World’s Writing Systems. Oxford University Press.
Pelras, Christian. (1996). The Bugis. Blackwell.