Pendahuluan
Ada tulisan yang lahir dari keinginan menjelaskan dunia. Ada tulisan yang lahir dari luka, kagum, malu, kehilangan, atau rasa syukur yang belum menemukan nama. Esai kebajikan berada di antara keduanya: ia berpikir, tetapi tidak dingin; ia merasa, tetapi tidak hanyut; ia ingin menyentuh pembaca, tetapi tidak memaksa pembaca berlutut di depan kesimpulan penulis.
Buku ini mengajak Anda belajar menulis esai sastra tentang hidup yang baik. “Hidup yang baik” di sini bukan berarti hidup yang selalu berhasil, selalu tenang, atau selalu tampak mulia di mata orang lain. Hidup yang baik adalah hidup yang terus diperiksa: bagaimana kita memilih ketika takut, bagaimana kita berbicara ketika marah, bagaimana kita tetap jujur ketika berbohong terasa lebih mudah, bagaimana kita mencintai tanpa menguasai, bagaimana kita menerima keterbatasan tanpa menyerah pada kepahitan.
Itulah wilayah kebajikan.
Dalam tradisi etika klasik, kebajikan bukan sekadar aturan luar, melainkan mutu watak yang dibentuk oleh kebiasaan, pilihan, dan latihan hidup. Aristoteles, misalnya, membahas kebajikan moral sebagai kecenderungan karakter yang tumbuh melalui pembiasaan tindakan, bukan sebagai pengetahuan abstrak semata (Aristotle, 1999). Seseorang tidak menjadi sabar hanya karena dapat mendefinisikan kesabaran. Ia menjadi sabar ketika, berkali-kali, ia belajar menahan diri di tengah kesempatan untuk melukai. Ia menjadi jujur ketika kebenaran tidak lagi sekadar prinsip yang indah, tetapi pilihan yang tetap diambil ketika ada harga yang harus dibayar.
Namun buku ini bukan buku etika sistematis. Buku ini adalah buku menulis.
Yang akan kita pelajari bukan cara menyusun daftar nasihat, melainkan cara mengubah pengalaman, pertanyaan, dan kepekaan batin menjadi esai yang hidup. Esai kebajikan tidak bertanya, “Apa nasihat yang dapat saya berikan kepada orang lain?” Pertanyaan yang lebih tepat ialah: “Apa yang sungguh-sungguh saya lihat, saya alami, saya ragukan, dan saya pahami sedikit demi sedikit tentang cara menjadi manusia?”
Esai sebagai ruang percobaan pikiran
Kata esai berasal dari tradisi yang erat dengan percobaan. Michel de Montaigne memakai judul Essais untuk tulisan-tulisannya, dan kata itu mengandung arti upaya, percobaan, atau pengujian diri melalui tulisan (Montaigne, 1991). Dalam pengertian ini, esai bukan kotak tertutup yang sejak awal sudah memegang jawaban akhir. Esai lebih mirip perjalanan: penulis berangkat dari sesuatu yang kecil, lalu mengikuti jalan pikiran sampai menemukan terang tertentu.
Misalnya, sebuah esai dapat dimulai dari hal sederhana: seseorang melihat seorang anak meminta maaf kepada ibunya di sebuah halte. Dari sana, penulis dapat merenungkan keberanian kecil yang diperlukan untuk mengakui kesalahan. Ia dapat bertanya: mengapa meminta maaf sering terasa lebih sulit daripada membela diri? Apakah harga diri selalu menentang kerendahan hati? Atau justru kerendahan hati adalah bentuk harga diri yang lebih matang?
Perhatikan bahwa bahan awalnya bukan peristiwa besar. Tidak ada perang, pengadilan, atau tragedi agung. Hanya halte, seorang anak, seorang ibu, dan kalimat maaf. Tetapi dalam tangan penulis yang peka, peristiwa kecil dapat menjadi pintu menuju pertanyaan besar.
Itulah salah satu keindahan esai: ia tidak menunggu hidup menjadi dramatis sebelum layak ditulis. Ia menemukan kedalaman pada yang sehari-hari.
Theodor W. Adorno menggambarkan esai sebagai bentuk yang tidak meniru sistem tertutup, melainkan bergerak secara bebas, mencoba mendekati objeknya dari berbagai sisi (Adorno, 1991). Dalam buku ini, kebebasan itu akan kita pahami secara praktis: esai boleh memulai dari kenangan, pertanyaan, adegan, kutipan, benda, percakapan, atau kegagalan pribadi. Yang penting bukan asal-usul bahannya, melainkan kejernihan cara penulis mengolahnya.
Kebajikan bukan khotbah
Salah satu bahaya terbesar ketika menulis tentang kebajikan adalah berubah menjadi pengkhotbah.
Khotbah, dalam arti sempit yang ingin kita hindari di sini, adalah tulisan yang terlalu cepat memberi perintah moral tanpa menghadirkan pengalaman, keraguan, dan kompleksitas manusia. Tulisan semacam itu berkata, “Kita harus jujur,” tetapi tidak bertanya mengapa orang takut jujur. Ia berkata, “Kita harus sabar,” tetapi tidak memperlihatkan panasnya penghinaan, lelahnya menunggu, atau sulitnya menahan kata-kata yang ingin meledak. Ia berkata, “Kita harus rendah hati,” tetapi nadanya sendiri meninggi di atas pembaca.
Esai kebajikan berbeda. Ia tidak meniadakan nilai moral, tetapi juga tidak memiskinkan manusia menjadi contoh hitam-putih. Ia tahu bahwa kejujuran kadang bertemu rasa takut, kasih kadang bertemu kecemburuan, keberanian kadang bercampur kesombongan, dan kesabaran kadang sulit dibedakan dari kepasrahan yang tidak sehat.
Contohnya, jika Anda menulis tentang kejujuran, Anda dapat memulai bukan dari kalimat “Kejujuran adalah hal yang penting,” melainkan dari adegan:
Malam itu saya hampir mengatakan bahwa saya sudah membaca pesan itu sejak sore. Padahal saya belum membalas bukan karena sibuk, melainkan karena tidak ingin menghadapi percakapan yang saya tahu akan membuat saya tampak bersalah.
Adegan ini lebih hidup daripada nasihat umum. Pembaca tidak langsung diberi kesimpulan. Ia diajak memasuki momen batin: penundaan, rasa bersalah, keinginan menyelamatkan wajah, dan kesempatan untuk berkata benar. Dari sana, penulis dapat merenungkan kejujuran sebagai sesuatu yang tidak hanya terjadi di ruang sidang atau peristiwa besar, tetapi juga dalam jeda kecil sebelum kita memilih satu kalimat.
Sastra: cara membuat gagasan bernapas
Karena buku ini berada dalam wilayah sastra, kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan “sastra” dalam konteks penulisan esai. Sastra bukan sekadar bahasa yang berbunga-bunga. Sastra adalah cara memakai bahasa agar pengalaman manusia hadir dengan bentuk, suara, suasana, dan kedalaman.
Tulisan yang sastrawi tidak harus sulit. Justru, salah satu tanda kematangan prosa adalah kemampuannya membuat hal rumit menjadi terasa jernih tanpa menjadi dangkal. Sebuah kalimat dapat puitis karena tepat, bukan karena penuh hiasan.
Bandingkan dua kalimat berikut:
Kesabaran merupakan kebajikan yang penting dalam kehidupan manusia.
Kalimat itu benar, tetapi masih umum. Sekarang perhatikan:
Kesabaran kadang hanya berupa tangan yang tidak jadi membanting pintu.
Kalimat kedua lebih konkret. Ia tidak hanya menyebut konsep “kesabaran”, tetapi memberi tubuh pada konsep itu: tangan, pintu, dorongan marah yang ditahan. Inilah salah satu tugas bahasa sastra dalam esai kebajikan: membuat gagasan dapat dilihat, didengar, dan dirasakan.
Martha C. Nussbaum, dalam pembahasannya tentang hubungan sastra dan filsafat moral, menekankan bahwa karya sastra dapat menolong kita melihat kehidupan etis dalam kerumitan situasi konkret, bukan hanya sebagai prinsip umum yang terpisah dari pengalaman manusia (Nussbaum, 1990). Bagi penulis esai, ini pelajaran penting. Jika ingin menulis tentang belas kasih, jangan hanya mendefinisikan belas kasih. Tunjukkan wajah orang yang menunggu, kursi kosong di ruang tamu, pesan yang tidak dijawab, atau nasi yang tetap disisihkan untuk seseorang yang belum pulang.
Gagasan menjadi lebih kuat ketika memperoleh bentuk.
Puitis, jernih, dan filosofis
Subjudul buku ini menyebut tiga sifat: puitis, jernih, dan filosofis. Ketiganya perlu berjalan bersama.
Puitis berarti memiliki kepekaan terhadap citraan, irama, pilihan kata, dan gema batin. Citraan adalah gambaran indrawi dalam bahasa: sesuatu yang dapat seolah-olah dilihat, didengar, disentuh, dicium, atau dirasakan. Misalnya, “rasa bersalah” adalah gagasan; “sendok yang terus diaduk dalam cangkir meski gula sudah larut” adalah citraan yang mungkin menyiratkan gelisah. Puitis bukan berarti setiap kalimat harus menjadi puisi. Puitis berarti bahasa tidak mati.
Jernih berarti dapat dipahami. Keindahan yang mengaburkan pikiran bukan keindahan yang matang. Jika pembaca tidak tahu apa yang sedang Anda katakan, mungkin masalahnya bukan pada kedalaman gagasan, melainkan pada kabut kalimat. Kejernihan menuntut ketepatan: siapa melakukan apa, apa yang dipikirkan, apa yang diragukan, dan mengapa hal itu penting.
Filosofis berarti berani bertanya sampai ke akar. Filsafat, dalam arti dasar yang kita pakai di buku ini, adalah kegiatan memeriksa makna, alasan, nilai, dan cara kita memahami hidup. Tulisan filosofis tidak selalu memakai istilah berat. Sebuah pertanyaan sederhana dapat sangat filosofis: “Apakah memaafkan selalu berarti kembali percaya?” Atau: “Jika seseorang berbuat baik karena ingin dipuji, apakah kebaikannya kehilangan nilai?” Atau: “Apakah keberanian berarti tidak takut, atau tetap bertindak dengan benar meskipun takut?”
Ketiganya saling menjaga. Yang puitis memberi daya rasa. Yang jernih memberi arah. Yang filosofis memberi kedalaman.
Jika hanya puitis, esai dapat menjadi kabut indah. Jika hanya jernih, esai dapat menjadi laporan yang kering. Jika hanya filosofis, esai dapat menjauh dari tubuh kehidupan. Esai kebajikan yang baik berusaha menyatukan ketiganya: ia berpikir dengan terang, merasakan dengan halus, dan berbicara dengan bahasa yang bernapas.
Dari hidup sehari-hari menuju makna
Banyak orang merasa tidak punya bahan untuk menulis karena mengira tulisan yang baik harus datang dari pengalaman luar biasa. Padahal, esai sering lahir dari perhatian yang luar biasa terhadap pengalaman biasa.
Perhatikan beberapa kemungkinan berikut.
Seseorang melihat ayahnya selalu mematikan lampu teras sebelum tidur. Dari kebiasaan kecil itu, ia menulis tentang tanggung jawab: tindakan yang tidak disaksikan orang lain, tetapi tetap dilakukan karena rumah perlu dijaga.
Seseorang gagal mengucapkan terima kasih kepada guru lamanya. Bertahun-tahun kemudian, ia menulis tentang rasa syukur yang terlambat, tentang bagaimana kebaikan orang lain kadang baru kita pahami setelah kesempatan membalasnya hilang.
Seseorang iri kepada temannya yang lebih berhasil. Ia tidak langsung menulis, “Iri hati itu buruk.” Ia menelusuri rasa panas di dada, senyum yang dibuat-buat, kalimat pujian yang setengah tulus, lalu bertanya: apa yang sebenarnya saya inginkan ketika saya iri? Pengakuan? Keadilan? Bukti bahwa hidup saya tidak sia-sia?
Di sini tampak bahwa esai kebajikan bukan hanya menulis tentang sifat baik, melainkan juga tentang kelemahan yang mengelilinginya. Kebajikan menjadi menarik justru karena manusia tidak sempurna. Keberanian muncul karena ada takut. Kesetiaan berarti sesuatu karena ada godaan untuk pergi. Kerendahan hati bernilai karena ego selalu ingin naik ke panggung.
Dalam buku ini, pengalaman bukan bahan mentah yang dibiarkan begitu saja. Pengalaman akan kita olah melalui pengamatan, ingatan, pertanyaan, struktur, bahasa, dan revisi. Sebuah pengalaman baru menjadi esai ketika penulis menemukan hubungan antara kejadian konkret dan makna yang lebih luas.
Untuk siapa buku ini ditulis
Buku ini ditulis untuk pembaca umum yang ingin menulis dengan lebih halus, lebih jernih, dan lebih bermakna. Anda tidak harus menjadi kritikus sastra, filsuf, atau penulis profesional. Yang diperlukan adalah kesediaan memperhatikan hidup dan kejujuran untuk tidak berpura-pura lebih bijaksana daripada diri sendiri.
Jika Anda pernah menyimpan pertanyaan setelah percakapan selesai, buku ini untuk Anda.
Jika Anda pernah merasa sebuah kejadian kecil mengandung makna yang belum sanggup Anda rumuskan, buku ini untuk Anda.
Jika Anda ingin menulis tentang kebaikan tanpa terdengar menggurui, tentang luka tanpa tenggelam dalam keluhan, tentang harapan tanpa menjadi manis berlebihan, buku ini juga untuk Anda.
Di sepanjang bab, kita akan belajar mengenali tema kebajikan dalam sastra, mengubah pengalaman menjadi renungan, membentuk suara penulis, memakai metafora moral, menyusun gagasan tanpa menggurui, membuka dan menutup esai dengan kuat, serta merevisi tulisan sebagai latihan kesabaran dan ketelitian. Pada akhirnya, tujuan buku ini bukan hanya agar Anda memahami esai kebajikan, melainkan agar Anda mampu menulis satu esai yang utuh: puitis, bernalar, manusiawi, dan layak dibagikan.
Sikap dasar penulis esai kebajikan
Sebelum masuk ke bab-bab berikutnya, ada satu sikap dasar yang perlu kita bawa: kerendahan hati.
Kerendahan hati dalam menulis bukan berarti merendahkan kemampuan diri. Kerendahan hati berarti mengakui bahwa pengalaman kita terbatas, bahwa orang lain mungkin melihat sesuatu yang luput dari pandangan kita, dan bahwa kebenaran moral sering perlu didekati perlahan. Penulis esai kebajikan tidak berdiri di menara tinggi sambil menunjuk kesalahan manusia. Ia duduk di antara manusia lain, memeriksa dirinya sendiri, lalu berkata dengan hati-hati: “Mungkin di sinilah saya mulai mengerti.”
Sikap ini akan memengaruhi nada tulisan. Nada adalah kesan sikap penulis yang terdengar melalui pilihan kata, irama kalimat, dan cara memperlakukan pembaca. Nada dapat terasa lembut, sinis, hangat, dingin, angkuh, jenaka, murung, atau penuh hormat. Dalam esai kebajikan, nada yang baik biasanya tidak berteriak. Ia cukup jelas untuk dipercaya, cukup rendah hati untuk tidak menindas, dan cukup hangat untuk mengundang pembaca berpikir bersama.
Sebagai contoh, bandingkan dua cara menulis tentang kesalahan:
Orang yang tidak mau meminta maaf adalah orang yang tidak punya kebesaran jiwa.
Kalimat ini mungkin benar dalam sebagian keadaan, tetapi nadanya cepat menghakimi. Sekarang bandingkan:
Saya mulai curiga bahwa sebagian dari kita tidak sulit meminta maaf karena tidak tahu salah, melainkan karena takut setelah kata “maaf” diucapkan, kita tidak lagi punya tempat bersembunyi.
Kalimat kedua tidak membebaskan manusia dari tanggung jawab, tetapi memberi ruang untuk memahami. Ia lebih esaiistis: berpikir, meraba, dan mengajak.
Cara memakai buku ini sebagai latihan
Buku ini sebaiknya tidak hanya dibaca, tetapi dipraktikkan. Setiap bab akan lebih berguna jika Anda menyiapkan buku catatan atau dokumen khusus untuk mengumpulkan bahan esai. Tulislah peristiwa kecil yang menarik perhatian Anda: percakapan di pasar, wajah seseorang di ruang tunggu, pesan singkat yang membuat Anda diam lama, kebiasaan keluarga, kegagalan menepati janji, atau kebaikan kecil yang tidak sempat dibalas.
Jangan buru-buru menilai apakah bahan itu “besar” atau “kecil”. Dalam esai, ukuran bahan tidak selalu menentukan kedalaman tulisan. Yang menentukan adalah cara melihat.
Latihan awal yang dapat Anda lakukan sekarang sederhana. Pilih satu kebajikan: kejujuran, kesabaran, keberanian, kasih, keadilan, kerendahan hati, atau kebijaksanaan. Lalu ingat satu peristiwa kecil yang berhubungan dengannya. Tulis tiga hal:
Pertama, apa yang terjadi secara konkret. Jangan mulai dari kesimpulan. Tulis adegannya.
Kedua, apa yang Anda rasakan atau pikirkan saat itu. Sertakan keraguan, rasa malu, atau kebingungan jika ada.
Ketiga, pertanyaan apa yang muncul dari peristiwa itu. Pertanyaan inilah yang kelak dapat menjadi jantung esai.
Misalnya, untuk tema kesabaran:
Peristiwa: Saya menunggu balasan pesan dari seorang teman selama tiga hari.
Perasaan: Saya marah, tetapi juga takut terlihat membutuhkan.
Pertanyaan: Apakah kesabaran selalu berarti menunggu, atau kadang berarti berani bertanya dengan jujur?
Dari tiga baris seperti ini, sebuah esai dapat tumbuh.
Undangan awal
Menulis esai kebajikan adalah cara belajar melihat hidup dengan lebih teliti. Ia melatih kita agar tidak terlalu cepat menyimpulkan, tidak terlalu mudah menghakimi, dan tidak terlalu malas mencari kata yang tepat. Dalam prosesnya, kita mungkin menemukan bahwa menulis bukan hanya kegiatan menyusun kalimat, tetapi juga latihan menjadi manusia yang lebih sadar.
Buku ini tidak akan memberi rumus ajaib. Ia akan memberi jalan. Di jalan itu, Anda akan diajak membaca pengalaman, menimbang gagasan, memilih bahasa, mengatur struktur, dan memperbaiki tulisan dengan sabar. Kadang prosesnya lambat. Tetapi kelambatan tertentu justru baik bagi tulisan yang ingin menyentuh hal-hal penting.
Sebab kebajikan sendiri jarang tumbuh secara tergesa-gesa.
Ia tumbuh seperti cahaya pagi: mula-mula tipis, lalu perlahan memperlihatkan bentuk benda-benda. Tugas penulis esai adalah memperhatikan cahaya itu, menamainya tanpa merusaknya, dan membagikannya kepada pembaca dengan bahasa yang cukup indah untuk dikenang dan cukup jernih untuk dipercaya.
References
Adorno, Theodor W. Notes to Literature, Volume One. Translated by Shierry Weber Nicholsen. Columbia University Press, 1991.
Aristotle. Nicomachean Ethics. Translated by Terence Irwin. 2nd ed., Hackett Publishing, 1999.
Montaigne, Michel de. The Complete Essays. Translated by M. A. Screech. Penguin Classics, 1991.
Nussbaum, Martha C. Love’s Knowledge: Essays on Philosophy and Literature. Oxford University Press, 1990.