Back to 1
Author @mujirin Verifier - Public Public AI enabled
← Back to 1 Verify Mark as read Debunk me Versions Exports locked Locked
Log in to access more pages. Create an account or log in to continue reading more pages.
Log in

Pendahuluan

Pernahkah kamu masuk ke sebuah ruang kelas lalu merasa, “Wah, di sini terang dan enak untuk belajar”? Atau sebaliknya, pernahkah kamu merasa sebuah ruangan terlalu panas, terlalu gelap, terlalu sempit, atau sulit dicari pintunya?

Perasaan seperti itu berhubungan dengan arsitektur.

Dalam buku ini, arsitektur berarti ilmu dan seni merancang ruang, bangunan, dan lingkungan agar dapat dipakai manusia dengan baik. Kata ilmu berarti arsitektur perlu dipikirkan dengan pengetahuan: ukuran, bahan, cahaya, udara, struktur, keselamatan, dan lingkungan. Kata seni berarti arsitektur juga memperhatikan keindahan, suasana, bentuk, warna, dan pengalaman orang yang memakainya. Buku arsitektur terkenal karya Francis D. K. Ching menjelaskan bahwa arsitektur berhubungan dengan cara bentuk dan ruang disusun sehingga manusia dapat menggunakannya dan merasakannya (Ching, 2014).

Bayangkan kamu ingin membuat sudut belajar di rumah. Kamu tidak cukup hanya memilih meja yang bagus. Kamu juga perlu bertanya:

Apakah kursinya nyaman?
Apakah cahayanya cukup untuk membaca?
Apakah udara dapat bergerak sehingga tidak pengap?
Apakah rak buku mudah dijangkau?
Apakah kabel lampu aman dan tidak membuat orang tersandung?
Apakah tempat itu membuatmu senang belajar?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah awal dari cara berpikir arsitek.

Arsitektur Ada di Sekitar Kita

Arsitektur bukan hanya gedung tinggi di kota besar. Arsitektur ada di rumah, sekolah, perpustakaan, masjid, gereja, pura, vihara, taman, pasar, halte, jembatan kecil, bahkan di jalan menuju kelasmu.

Coba ingat pintu kelasmu. Pintu itu bukan benda yang berdiri sendiri. Pintu berhubungan dengan dinding, lantai, jalur berjalan, arah keluar, dan kegiatan orang di dalam kelas. Jika pintu terlalu sempit, murid sulit masuk bersama-sama. Jika pintu terbuka ke arah yang mengganggu jalur berjalan, orang bisa bertabrakan. Jika pintu mudah ditemukan, orang lebih cepat keluar saat keadaan darurat.

Dari contoh sederhana ini, kita belajar satu hal penting: ruang yang baik membantu manusia melakukan kegiatan dengan aman, nyaman, dan tertib.

Dalam arsitektur, ruang berarti tempat yang dapat digunakan atau dirasakan oleh manusia. Ruang bisa berada di dalam bangunan, seperti kamar tidur dan ruang kelas. Ruang juga bisa berada di luar bangunan, seperti halaman sekolah, taman, lapangan, atau teras rumah.

Arsitek Tidak Bekerja Sendirian

Seorang arsitek adalah orang yang belajar dan bekerja untuk merancang bangunan serta ruang. Namun arsitek yang baik tidak bekerja sendirian. Arsitek perlu mendengarkan pengguna bangunan, bekerja sama dengan insinyur struktur, ahli lingkungan, tukang, perencana kota, dan banyak orang lain.

Mengapa perlu bekerja sama?

Karena bangunan bukan hanya gambar indah di kertas. Bangunan harus dapat dibangun, dipakai, dirawat, dan tetap aman. Dalam pekerjaan arsitektur, keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat adalah bagian penting dari tanggung jawab profesi arsitek (International Union of Architects, 2017).

Contohnya, ketika merancang sekolah, arsitek perlu memikirkan murid, guru, penjaga sekolah, orang tua, dan tamu. Murid kelas 1 SD mungkin membutuhkan tangga yang tidak terlalu curam. Guru membutuhkan ruang yang cukup untuk mengajar. Anak yang memakai kursi roda membutuhkan jalur yang dapat dilalui dengan mudah. Saat hujan, semua orang membutuhkan tempat berteduh. Saat terjadi keadaan darurat, semua orang membutuhkan jalur keluar yang jelas.

Jadi, arsitektur selalu bertanya: siapa yang memakai ruang ini, untuk apa, dan bagaimana agar ruang ini membantu mereka?

Indah Saja Tidak Cukup

Bangunan boleh indah. Bahkan, keindahan dapat membuat orang merasa senang dan bangga. Tetapi dalam arsitektur, indah saja tidak cukup.

Sebuah rumah bisa terlihat cantik, tetapi jika sangat panas pada siang hari, penghuninya tidak nyaman. Sebuah tangga bisa terlihat menarik, tetapi jika anak mudah terpeleset, tangga itu berbahaya. Sebuah kelas bisa tampak rapi, tetapi jika terlalu gelap, murid sulit membaca.

Karena itu, dalam buku ini kita akan sering memakai beberapa kata penting.

Fungsi berarti kegunaan. Contohnya, fungsi kamar tidur adalah untuk beristirahat. Fungsi dapur adalah untuk menyiapkan makanan. Fungsi jendela adalah membantu cahaya dan udara masuk, meskipun bentuk dan cara kerjanya bisa berbeda-beda.

Kenyamanan berarti keadaan ketika tubuh dan pikiran merasa cukup enak untuk melakukan kegiatan. Contohnya, ruang belajar yang tidak terlalu silau, tidak terlalu bising, dan tidak terlalu panas akan terasa lebih nyaman.

Keselamatan berarti keadaan ketika risiko bahaya dikurangi. Contohnya, pegangan tangga membantu orang naik turun dengan lebih aman. Lemari tinggi yang dipasang kuat ke dinding dapat mengurangi kemungkinan jatuh.

Keindahan berarti kualitas yang membuat ruang terasa menyenangkan dilihat, dirasakan, atau dialami. Keindahan dapat muncul dari bentuk, warna, susunan, bahan, cahaya, tanaman, atau keteraturan.

Lingkungan berarti keadaan di sekitar kita: tanah, air, udara, pohon, hewan, manusia, jalan, sungai, dan bangunan lain. Bangunan yang baik tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga pengaruhnya terhadap lingkungan.

Seorang calon arsitek perlu belajar menyeimbangkan semua itu. Rumah yang baik sebaiknya berguna, aman, nyaman, indah, dan peduli lingkungan.

Mengapa Buku Ini Membahas Gempa?

Indonesia adalah negeri yang indah, tetapi juga berada di wilayah tektonik yang aktif. Secara sederhana, lempeng tektonik adalah bagian besar dari kulit luar Bumi yang bergerak sangat perlahan. Gerak lempeng-lempeng ini dapat menyebabkan gempa bumi. Wilayah Indonesia dipengaruhi pertemuan dan gerak beberapa lempeng besar, sehingga banyak daerahnya memiliki bahaya gempa (Hamilton, 1979).

Kamu tidak perlu takut berlebihan. Yang penting adalah belajar dengan benar.

Dalam arsitektur dan teknik bangunan, gempa tidak boleh dianggap sebagai cerita jauh. Bangunan di daerah rawan gempa harus dirancang dengan pengetahuan yang tepat. Di Indonesia, perencanaan ketahanan gempa untuk bangunan gedung dan nongedung diatur dalam standar teknis, salah satunya SNI 1726:2019 (Badan Standardisasi Nasional, 2019).

Untuk anak SD, kita belum perlu menghitung rumus-rumus sulit. Tetapi kita dapat mulai memahami prinsip dasarnya. Misalnya:

Bangunan perlu memiliki jalur beban yang jelas dari atap, lantai, balok, kolom, sampai fondasi.
Bagian-bagian struktur perlu tersambung dengan baik.
Bentuk bangunan yang terlalu rumit dapat membuat perilaku bangunan saat gempa lebih sulit.
Benda berat di rumah dan sekolah sebaiknya tidak mudah jatuh.
Jalur keluar dan titik kumpul perlu diketahui semua orang.

Dalam buku ini, kita akan menyebut istilah ramah gempa untuk menjelaskan bangunan yang dirancang dan dibangun dengan memperhatikan keselamatan terhadap guncangan gempa. Istilah ini bukan berarti bangunan pasti tidak rusak sama sekali. Dalam gempa besar, bangunan dapat rusak. Tujuan penting perancangan tahan gempa adalah mengurangi risiko korban jiwa dan memberi kesempatan orang untuk menyelamatkan diri, sesuai prinsip keselamatan dalam standar bangunan tahan gempa (Badan Standardisasi Nasional, 2019).

Cara Belajar Arsitektur Sejak SD

Belajar arsitektur tidak harus langsung dimulai dari komputer mahal atau gambar yang sangat rumit. Kamu dapat mulai dari hal-hal sederhana.

Mulailah dengan mengamati. Lihat ruang kelasmu. Dari mana cahaya masuk? Apakah udara terasa segar? Di mana orang berjalan? Bagian mana yang sering membuat orang berhenti, menunggu, atau bertabrakan?

Lalu bertanya. Mengapa meja disusun seperti itu? Mengapa jendela ada di sisi tertentu? Mengapa toilet perlu dekat tetapi tidak boleh mengganggu ruang belajar? Mengapa halaman sekolah perlu pohon?

Setelah itu, cobalah menggambar. Gambar tidak harus sempurna. Sketsa sederhana dapat membantu menjelaskan ide. Misalnya, kamu dapat menggambar denah kamar dari atas, lalu menunjukkan posisi pintu, jendela, meja, tempat tidur, dan rak.

Kemudian buat model atau maket. Maket adalah tiruan kecil dari bangunan atau ruang. Kamu dapat membuatnya dari kertas, kardus bekas, atau stik es krim dengan bantuan orang dewasa. Dari maket, kamu bisa melihat apakah bangunanmu stabil, apakah ruangnya cukup, dan apakah bentuknya mudah dipahami.

Terakhir, biasakan memperbaiki rancangan. Arsitek jarang berhasil dengan satu gambar pertama. Mereka mencoba, mendengarkan masukan, menemukan masalah, lalu memperbaiki desainnya. Jika maketmu miring, itu bukan kegagalan. Itu tanda bahwa kamu sedang belajar seperti perancang sungguhan.

Apa yang Akan Kamu Pelajari?

Buku ini akan menuntunmu pelan-pelan.

Kamu akan mulai dari mengenal arti arsitektur dan mengamati ruang di sekitar. Setelah itu, kamu akan belajar tentang ukuran tubuh manusia, bentuk dasar, susunan ruang, dan gambar arsitektur sederhana. Kamu akan belajar membaca denah rumah dan sekolah, memahami cahaya serta udara, mengenal bahan bangunan, dan mengetahui mengapa bangunan bisa berdiri.

Kemudian kita akan belajar tentang struktur melalui contoh jembatan, menara, dan rumah kartu. Kita juga akan membahas Indonesia dan gempa bumi, bangunan ramah gempa, serta keselamatan di rumah dan sekolah.

Sesudah itu, kamu akan mengenal rumah tradisional Nusantara, iklim tropis, arsitektur hijau, kota dan kampung, aksesibilitas, warna, tekstur, suara, dan perasaan di dalam ruang. Pada bagian akhir, kamu akan belajar cara arsitek memecahkan masalah, membuat maket, dan mengerjakan proyek mini: merancang sudut belajar, rumah aman dan sehat, serta sekolah impian.

Semua itu tidak dimaksudkan agar kamu langsung menjadi arsitek dewasa hari ini. Tujuannya adalah menumbuhkan rasa ingin tahu, ketelitian, kepedulian, dan keberanian berpikir.

Sikap Seorang Calon Arsitek Muda

Jika kamu ingin belajar arsitektur, latihlah lima sikap ini.

Pertama, peka melihat sekitar. Perhatikan hal-hal kecil: lantai licin, pintu sulit dibuka, kursi terlalu tinggi, ruang terlalu gelap, atau pohon yang membuat halaman lebih teduh.

Kedua, peduli kepada orang lain. Ruang yang baik bukan hanya enak untuk diri sendiri. Ruang yang baik juga memikirkan adik kecil, orang tua, teman yang berbeda tinggi badan, teman yang sulit berjalan, dan orang yang baru pertama kali datang.

Ketiga, berani bertanya. Pertanyaan sederhana sering membuka ide besar. “Mengapa jendela di sini?” “Mengapa atapnya miring?” “Mengapa kelas ini panas?” “Bagaimana jika pintu keluarnya lebih jelas?”

Keempat, teliti dan sabar. Menggambar garis lurus, mengukur meja, membuat maket, dan memperbaiki rancangan membutuhkan kesabaran. Ketelitian adalah teman keselamatan.

Kelima, mau bekerja sama. Bangunan dibuat oleh banyak orang. Arsitektur mengajarkan bahwa ide yang baik perlu didiskusikan, diuji, dan diperbaiki bersama.

Mari Mulai dari Ruang Terdekat

Sebelum masuk ke Bab 1, coba lakukan latihan kecil ini.

Duduklah di salah satu ruang yang sering kamu pakai, misalnya kamar, ruang tamu, kelas, atau teras. Lihat sekeliling dengan tenang. Pilih satu benda, misalnya kursi, pintu, jendela, meja, atau lampu. Tanyakan:

Benda ini dipakai untuk apa?
Siapa yang paling sering memakainya?
Apakah ukurannya cocok?
Apakah letaknya membantu atau mengganggu?
Apakah benda ini aman?
Apakah ada cara membuatnya lebih baik?

Jika kamu sudah mulai bertanya seperti itu, kamu sudah mulai berpikir seperti calon arsitek.

Arsitektur dimulai dari perhatian. Dari perhatian, lahir pertanyaan. Dari pertanyaan, lahir ide. Dari ide yang diuji dan diperbaiki, lahir ruang yang lebih baik untuk manusia dan lingkungan.

Mari kita mulai perjalanan ini.

References

Badan Standardisasi Nasional. (2019). SNI 1726:2019: Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan nongedung. Badan Standardisasi Nasional.

Ching, F. D. K. (2014). Architecture: Form, Space, and Order (4th ed.). Wiley.

Hamilton, W. (1979). Tectonics of the Indonesian Region (U.S. Geological Survey Professional Paper 1078). U.S. Geological Survey.

International Union of Architects. (2017). UIA Accord on Recommended International Standards of Professionalism in Architectural Practice. International Union of Architects.

τ TheoryTrace