Pendahuluan
Belajar Academic English bukan sekadar belajar “bahasa Inggris yang lebih sulit”. Intinya adalah belajar menggunakan bahasa Inggris untuk membangun, menjelaskan, menguji, dan mempertanggungjawabkan gagasan dalam lingkungan akademik. Di kelas, seminar, artikel, esai, laporan, atau presentasi, bahasa Inggris dipakai bukan hanya untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga untuk menunjukkan alasan, bukti, batasan, dan hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lain.
Kalimat seperti ini mungkin terdengar lancar dalam percakapan sehari-hari:
I think online learning is good because students can study at home.
Kalimat itu dapat dipahami, tetapi dalam tulisan akademik biasanya masih perlu dibuat lebih tepat. Misalnya:
Online learning can increase flexibility for students because it allows them to access course materials from different locations and at different times.
Perbedaannya bukan hanya pada panjang kalimat. Kalimat kedua lebih akademik karena klaimnya lebih terbatas, alasannya lebih jelas, dan kosakatanya lebih sesuai dengan konteks pendidikan. Inilah inti buku ini: membantu Anda bergerak dari “saya bisa berbahasa Inggris” menuju “saya bisa memakai bahasa Inggris untuk berpikir dan berkomunikasi secara akademik”.
Academic English sering dipelajari sebagai bagian dari academic literacy, yaitu kemampuan memahami dan menghasilkan teks, argumen, dan praktik komunikasi yang dihargai dalam dunia akademik. Penelitian tentang academic literacies menekankan bahwa menulis akademik bukan hanya soal grammar, tetapi juga soal memahami harapan, tujuan, dan cara berpikir dalam komunitas akademik tertentu (Lea & Street, 1998). Dengan kata lain, mahasiswa atau pembelajar tidak hanya belajar “membuat kalimat benar”, tetapi juga belajar menjawab pertanyaan seperti: Apa klaim saya? Bukti apa yang mendukungnya? Seberapa kuat kesimpulan saya? Bagaimana saya menunjukkan sikap kritis tanpa terdengar kasar?
Mengapa Academic English terasa berbeda?
Bahasa berubah sesuai situasi. Cara kita menulis pesan singkat kepada teman berbeda dari cara kita menulis email resmi kepada dosen. Cara kita berbicara dalam diskusi santai berbeda dari cara kita mempresentasikan hasil penelitian. Perbedaan cara berbahasa menurut situasi ini disebut register. Register mencakup pilihan kata, tingkat formalitas, struktur kalimat, dan cara menyusun informasi.
Perhatikan perbedaan berikut.
Bahasa sehari-hari:
A lot of people don’t like this method because it takes too much time.
Bahasa akademik yang lebih formal:
This method may be considered inefficient by some participants because it requires a substantial amount of time.
Kalimat akademik itu tidak selalu “lebih baik” dalam semua situasi. Jika Anda berbicara dengan teman, kalimat kedua mungkin terdengar terlalu kaku. Namun, dalam laporan akademik, kalimat kedua lebih sesuai karena memakai kata yang lebih spesifik seperti inefficient, participants, dan requires. Ia juga memakai may be considered, yang menunjukkan kehati-hatian. Kehati-hatian semacam ini penting karena tulisan akademik jarang menyatakan sesuatu secara mutlak jika buktinya terbatas.
Dalam kajian bahasa akademik, penulis tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun hubungan dengan pembaca melalui pilihan kata, tingkat kepastian, dan cara mengatur argumen. Hyland menjelaskan bahwa academic discourse melibatkan cara penulis menampilkan pengetahuan, membangun kredibilitas, dan berinteraksi dengan pembaca dalam konteks akademik (Hyland, 2009). Karena itu, Academic English bukan hanya “English plus difficult words”. Ia adalah cara menggunakan bahasa untuk ikut serta dalam percakapan ilmiah dan akademik.
Tujuan buku ini
Buku ini disusun untuk pembelajar umum yang ingin membangun kemampuan Academic English secara bertahap. Anda tidak harus sudah mahir sebelum memulai. Justru buku ini dimulai dari fondasi: apa itu Academic English, bagaimana membuat kalimat yang jelas, bagaimana memahami grammar yang sering muncul dalam tulisan akademik, lalu bagaimana membaca, merangkum, memparafrase, menulis paragraf, menyusun esai, menggunakan sumber, dan berbicara dalam presentasi atau diskusi.
Kita akan sering kembali pada empat keterampilan utama: membaca, menulis, berbicara, dan berpikir akademik.
Membaca akademik berarti membaca dengan tujuan. Anda tidak hanya bertanya, “Apa arti teks ini?” tetapi juga, “Apa tesis penulis? Apa bukti yang dipakai? Apakah klaimnya kuat? Bagian mana yang definisi, bagian mana yang interpretasi?”
Menulis akademik berarti menyusun gagasan agar pembaca dapat mengikuti arah berpikir Anda. Anda perlu membuat klaim, memberi alasan, menyajikan bukti, menjelaskan hubungan antaride, dan menutup dengan kesimpulan yang sesuai.
Berbicara akademik berarti menyampaikan gagasan secara jelas dalam presentasi, seminar, atau diskusi kelas. Ini mencakup kemampuan membuka pembicaraan, memberi tanda transisi, menjawab pertanyaan, meminta klarifikasi, dan berbeda pendapat secara sopan.
Berpikir akademik berarti membiasakan diri untuk tidak berhenti pada opini pertama. Anda belajar bertanya: Apa dasar pendapat ini? Apakah ada penjelasan lain? Apakah data cukup? Apakah istilah yang digunakan sudah jelas? Kebiasaan berpikir seperti ini membuat bahasa Anda lebih tajam karena bahasa akademik bertumbuh dari pikiran yang tertata.
Academic English bukan tentang menjadi “seperti penutur asli”
Salah satu hambatan umum dalam belajar Academic English adalah anggapan bahwa tujuannya adalah terdengar seperti native speaker. Anggapan ini tidak tepat. Tujuan yang lebih produktif adalah menjadi komunikator akademik yang jelas, tepat, sopan, kritis, dan dapat dipahami.
Dalam dunia akademik modern, bahasa Inggris digunakan oleh sangat banyak orang dari berbagai latar bahasa. Yang penting bukan aksen yang sempurna atau gaya yang terlalu rumit, melainkan kemampuan menyampaikan gagasan secara akurat dan bertanggung jawab. Dalam konteks English for Academic Purposes, pembelajar dibantu untuk memahami tugas akademik nyata, seperti menjelaskan data, menulis argumen, membaca artikel, dan menyusun tulisan berbasis sumber (Swales & Feak, 2012).
Artinya, Anda tidak perlu menunggu sampai “sempurna” untuk mulai menulis atau berbicara. Anda dapat memulai dengan kalimat sederhana tetapi jelas:
This paper discusses the effects of social media on students’ reading habits.
Lalu, seiring waktu, Anda belajar membuat klaim yang lebih spesifik:
This paper argues that frequent social media use may reduce students’ sustained reading time, although its effects vary depending on purpose, platform, and study habits.
Kalimat kedua lebih akademik bukan karena lebih panjang semata, tetapi karena lebih berhati-hati. Ia memakai may, membatasi ruang klaim, dan menunjukkan bahwa efeknya tidak sama untuk semua kondisi. Inilah salah satu ciri penting tulisan akademik: klaim harus sejalan dengan bukti dan batasan yang tersedia.
Dari kalimat ke argumen
Banyak pembelajar memulai dari grammar, dan grammar memang penting. Namun, grammar dalam buku ini tidak diperlakukan sebagai kumpulan aturan terpisah. Grammar adalah alat untuk membangun makna.
Misalnya, perhatikan dua kalimat berikut:
The researcher interviewed ten students.
Ten students were interviewed by the researcher.
Keduanya benar secara grammar, tetapi fokusnya berbeda. Kalimat pertama menekankan the researcher. Kalimat kedua menekankan ten students. Dalam tulisan akademik, pilihan seperti ini penting. Jika paragraf sedang membahas metode penelitian, kalimat pasif mungkin lebih sesuai karena fokusnya pada prosedur. Jika paragraf sedang membahas peran peneliti, kalimat aktif mungkin lebih jelas.
Dengan cara yang sama, tanda baca, klausa, frasa nomina, dan struktur paralel bukan sekadar detail teknis. Semuanya membantu pembaca mengikuti gagasan Anda. Kalimat yang tidak jelas dapat membuat argumen tampak lemah, meskipun idenya sebenarnya baik.
Bandingkan:
Students who study online often have problems which affect motivation and they cannot focus and this makes learning difficult.
Kalimat itu dapat dipahami, tetapi terlalu padat dan kurang tertata. Versi yang lebih jelas:
Students who study online often face problems that affect their motivation. For example, limited interaction and distractions at home may reduce their ability to focus, which can make learning more difficult.
Versi kedua membagi gagasan menjadi dua kalimat, memberi contoh, dan menjelaskan hubungan sebab-akibat dengan lebih hati-hati. Inilah keterampilan yang akan terus dilatih: membuat bahasa menjadi jalan yang terang bagi pembaca, bukan labirin.
Kosakata akademik: bukan hanya kata sulit
Kosakata akademik sering disalahpahami sebagai daftar kata panjang yang harus dihafal. Padahal, yang lebih penting adalah memahami cara kata bekerja dalam konteks. Satu kata dapat memiliki pasangan yang lazim, bentuk keluarga kata, dan tingkat formalitas tertentu.
Misalnya, kata significant dalam tulisan akademik tidak selalu berarti “penting” secara umum. Dalam konteks statistik, statistically significant memiliki makna teknis: hasil yang kecil kemungkinannya muncul jika hipotesis nol benar, dengan syarat metode dan asumsi statistiknya sesuai. Karena itu, pembelajar perlu berhati-hati agar tidak menerjemahkan kata secara otomatis tanpa melihat konteks.
Contoh lain adalah collocation, yaitu kecenderungan kata tertentu muncul bersama kata lain. Dalam bahasa Inggris akademik, kita lebih sering menemukan ungkapan seperti:
conduct research
pose a question
provide evidence
reach a conclusion
play a role
Jika seseorang menulis do a research, pembaca mungkin masih memahami maksudnya, tetapi bentuk yang lebih lazim adalah conduct research atau do research tanpa artikel a. Pembelajaran kosakata yang baik memperhatikan bentuk, makna, penggunaan, dan hubungan antarkata; Nation menekankan bahwa mengetahui sebuah kata mencakup aspek bentuk, makna, dan penggunaan, bukan hanya terjemahan tunggalnya (Nation, 2013).
Karena itu, dalam buku ini Anda akan belajar menggunakan kamus, memperhatikan contoh kalimat, dan membaca pola bahasa akademik yang sering berulang. Tujuannya bukan membuat tulisan terdengar rumit, tetapi membuatnya tepat.
Membaca sebagai dialog dengan teks
Dalam konteks akademik, membaca bukan kegiatan pasif. Anda tidak hanya menerima informasi dari penulis; Anda berdialog dengan teks. Anda bertanya, menandai, meragukan, membandingkan, dan menyimpulkan.
Misalnya, ketika membaca kalimat berikut:
Urban green spaces may improve mental health by increasing opportunities for physical activity and social interaction.
Pembaca akademik dapat bertanya:
Apakah klaimnya mutlak atau berhati-hati? Kata may menunjukkan bahwa klaimnya tidak mutlak. Apa mekanismenya? Kalimat menyebut dua kemungkinan: aktivitas fisik dan interaksi sosial. Apa yang masih perlu dibuktikan? Kita perlu melihat data, metode penelitian, dan apakah faktor lain ikut berpengaruh.
Cara membaca seperti ini akan membantu Anda saat menulis. Penulis yang baik biasanya juga pembaca yang aktif. Ketika Anda terbiasa melihat struktur argumen orang lain, Anda akan lebih mudah membangun argumen sendiri.
Menggunakan sumber dengan jujur dan cerdas
Academic English hampir selalu berhubungan dengan sumber: buku, artikel jurnal, laporan, data, atau pendapat ahli. Namun, menggunakan sumber bukan berarti menumpuk kutipan. Sumber dipakai untuk mendukung, memperluas, membandingkan, atau menantang gagasan.
Ada tiga keterampilan dasar yang akan dibahas nanti: summary, paraphrase, dan synthesis.
Summary berarti menyampaikan inti sumber secara ringkas. Jika satu artikel menjelaskan lima faktor penyebab stres mahasiswa, summary mungkin hanya menyebut gagasan utamanya.
Paraphrase berarti menyampaikan gagasan sumber dengan susunan bahasa Anda sendiri tanpa mengubah makna. Parafrase bukan mengganti beberapa kata dengan sinonim, melainkan membangun ulang kalimat berdasarkan pemahaman.
Synthesis berarti menggabungkan beberapa sumber untuk menunjukkan hubungan di antara mereka. Misalnya, Anda membaca tiga artikel tentang pembelajaran online. Artikel pertama membahas fleksibilitas waktu, artikel kedua membahas isolasi sosial, dan artikel ketiga membahas kualitas akses internet. Sintesis yang baik tidak menulis tiga ringkasan terpisah, tetapi menjelaskan gambaran besar: pembelajaran online memberi fleksibilitas, tetapi manfaatnya bergantung pada dukungan sosial dan akses teknologi.
Keterampilan ini penting karena integritas akademik menuntut kita membedakan antara gagasan sendiri dan gagasan orang lain. Dalam buku ini, sitasi akan dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab intelektual, bukan sekadar aturan format.
Kesalahan adalah bagian dari proses belajar
Banyak pembelajar takut menulis karena khawatir grammar salah. Kekhawatiran itu wajar, tetapi tidak boleh menghentikan proses belajar. Tulisan akademik yang baik hampir selalu lahir melalui revisi. Draf pertama jarang langsung kuat. Bahkan penulis berpengalaman pun memperbaiki struktur, memperjelas klaim, mengganti kata, memotong kalimat, dan menata ulang paragraf.
Karena itu, buku ini membedakan tiga kegiatan penting: revising, editing, dan proofreading.
Revising berarti memperbaiki isi dan organisasi. Misalnya, Anda menyadari bahwa paragraf kedua tidak mendukung thesis statement, lalu memindahkannya atau menggantinya.
Editing berarti memperbaiki bahasa pada tingkat kalimat dan paragraf. Misalnya, Anda mengecek tense, agreement, pilihan kata, atau hubungan antarkalimat.
Proofreading berarti pemeriksaan akhir untuk kesalahan kecil seperti ejaan, tanda baca, kapitalisasi, atau format sitasi.
Perbedaan ini penting. Jika argumen masih belum jelas, memperbaiki koma tidak akan menyelesaikan masalah utama. Sebaliknya, jika isi sudah kuat tetapi banyak kesalahan kecil, proofreading menjadi sangat berguna.
Cara menggunakan buku ini
Buku ini bergerak dari fondasi menuju penerapan. Bab awal membantu Anda memahami apa itu Academic English dan bagaimana membangun kalimat yang jelas. Bab berikutnya memperkuat grammar inti, kosakata, dan strategi membaca. Setelah itu, buku masuk ke keterampilan menulis: merangkum, memparafrase, mensintesis, membangun paragraf, dan menyusun esai. Bagian tengah dan akhir membahas argumen, sumber, gaya akademik, literature review sederhana, data, presentasi, diskusi, revisi, dan akhirnya proyek akademik kecil.
Anda tidak perlu menguasai semuanya sekaligus. Belajar Academic English lebih mirip membangun kebiasaan daripada menghafal satu paket aturan. Setiap kali Anda membaca teks akademik, coba cari klaim utamanya. Setiap kali menulis paragraf, coba pastikan ada satu ide pusat. Setiap kali memakai sumber, coba jelaskan hubungan antara sumber itu dan gagasan Anda. Setiap kali berbicara dalam diskusi, coba gunakan ungkapan yang sopan dan terstruktur.
Misalnya, daripada hanya berkata:
I disagree.
Dalam diskusi akademik, Anda dapat mengatakan:
I see your point, but I would like to question whether the evidence is sufficient to support that conclusion.
Ungkapan ini tetap menunjukkan ketidaksetujuan, tetapi dengan cara yang lebih sopan dan akademik. Anda tidak menyerang orangnya; Anda menilai kekuatan buktinya.
Sikap belajar yang dibutuhkan
Ada tiga sikap yang akan sangat membantu Anda sepanjang buku ini.
Pertama, sabar terhadap proses. Kemampuan akademik tidak tumbuh dari satu kali membaca. Anda perlu berulang kali melihat contoh, mencoba, salah, memperbaiki, dan mencoba lagi.
Kedua, teliti terhadap makna. Dalam Academic English, satu kata kecil dapat mengubah kekuatan klaim. Must, may, might, usually, in some cases, dan under certain conditions tidak memiliki makna yang sama. Kalimat “This causes anxiety” lebih kuat daripada “This may contribute to anxiety.” Perbedaan kecil seperti ini menentukan apakah klaim Anda terlalu kuat atau sudah cukup hati-hati.
Ketiga, terbuka terhadap revisi. Revisi bukan tanda gagal. Revisi adalah cara penulis berpikir ulang. Ketika Anda memperbaiki tulisan, Anda bukan hanya memperbaiki bahasa; Anda juga memperbaiki pemahaman.
Pada akhirnya, tujuan buku ini sederhana tetapi penting: membantu Anda merasa lebih percaya diri menggunakan bahasa Inggris dalam kegiatan akademik. Percaya diri bukan berarti tidak pernah salah. Percaya diri berarti tahu apa yang sedang Anda lakukan, tahu cara memperbaiki kesalahan, dan tahu bagaimana menyampaikan gagasan dengan lebih jelas dari waktu ke waktu.
Mari mulai dari pertanyaan dasar: apa sebenarnya Academic English, dan mengapa ia berbeda dari English sehari-hari?
References
Hyland, K. (2009). Academic Discourse: English in a Global Context. Continuum.
Lea, M. R., & Street, B. V. (1998). Student writing in higher education: An academic literacies approach. Studies in Higher Education, 23(2), 157–172.
Nation, I. S. P. (2013). Learning Vocabulary in Another Language (2nd ed.). Cambridge University Press.
Swales, J. M., & Feak, C. B. (2012). Academic Writing for Graduate Students: Essential Tasks and Skills (3rd ed.). University of Michigan Press.