Pendahuluan
Ada cinta yang membuat seseorang lebih rajin shalat, lebih sungguh-sungguh belajar, lebih bertanggung jawab bekerja, dan lebih hati-hati menjaga lisan. Ada pula cinta yang membuat hati gelisah, waktu berantakan, ibadah melemah, dan batas-batas Allah terasa mudah dilanggar. Perasaannya mungkin sama-sama disebut “cinta”, tetapi arah dan buahnya berbeda.
Buku ini ditulis untuk menemani pembaca menata cinta agar tidak hanya indah dirasakan, tetapi juga baik di hadapan Allah. Bukan dengan nada menghakimi, bukan pula dengan anggapan bahwa setiap rasa suka pasti salah. Islam tidak datang untuk mematikan perasaan manusia. Islam datang untuk membimbing perasaan itu agar menjadi rahmat, bukan kerusakan; menjadi ketenangan, bukan kegelisahan; menjadi jalan kedewasaan, bukan pintu dosa.
Dalam bahasa sederhana, cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap bernilai, menenangkan, indah, atau dekat dengan diri kita. Cinta bisa tumbuh karena kebaikan akhlak seseorang, karena kekaguman, karena sering berinteraksi, karena merasa dipahami, atau karena melihat masa depan yang mungkin dibangun bersama. Namun dalam Islam, perasaan tidak otomatis menjadi benar hanya karena terasa kuat. Perasaan perlu dituntun oleh iman, ilmu, adab, dan tanggung jawab.
Di sinilah makna judul buku ini: mencintai dengan ridha Allah. Kata ridha Allah berarti penerimaan dan kerelaan Allah terhadap hamba-Nya. Seorang muslim tidak hanya bertanya, “Apakah dia membuatku bahagia?” tetapi juga bertanya, “Apakah caraku mencintainya membuat Allah ridha?” Pertanyaan kedua inilah yang menjaga cinta agar tidak berubah menjadi pemaksaan, kelalaian, atau dosa.
Allah menggambarkan pernikahan sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya, tempat manusia menemukan ketenteraman, kasih, dan rahmat:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً Wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājal litaskunū ilaihā wa ja‘ala bainakum mawaddataw wa raḥmah. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. (QS Ar-Rum 30:21; terjemahan Kementerian Agama RI 2019)
Ayat ini memberi arah yang lembut: cinta yang diberkahi bukan sekadar rasa ingin memiliki. Ia menuju sakinah, yaitu ketenteraman; mawaddah, yaitu cinta yang hangat dan nyata dalam perhatian; serta rahmah, yaitu kasih sayang yang tidak tega menzalimi. Maka, jika sebuah hubungan terus-menerus membuat seseorang jauh dari Allah, kehilangan harga diri, merusak kehormatan, atau terbiasa berdosa, hubungan itu perlu ditata kembali dengan jujur.
Buku ini tidak mengajak pembaca membenci cinta. Buku ini mengajak pembaca menghormati cinta.
Menghormati cinta berarti tidak mempermainkan perasaan orang lain. Menjaga cinta berarti tidak membuka jalan yang merusak diri dan dirinya. Menghargai orang yang dicintai berarti mengingat bahwa ia bukan milik kita sepenuhnya. Ia adalah hamba Allah, punya martabat, keluarga, masa depan, batas pribadi, dan hak untuk tidak dipaksa.
Misalnya, seseorang mungkin berkata, “Aku mencintainya, maka aku ingin selalu tahu dia sedang apa.” Rasa ingin tahu itu bisa berasal dari perhatian. Namun jika berubah menjadi memeriksa ponselnya tanpa izin, menuntut laporan setiap jam, melarangnya bergaul secara wajar, atau marah ketika ia punya waktu untuk keluarga dan belajar, maka cinta mulai bergeser menjadi kontrol. Dalam Islam, kasih sayang tidak boleh menjadi alasan untuk menzalimi.
Contoh lain: seseorang menyukai teman sekelas atau rekan kerja. Ia merasa lebih semangat belajar atau bekerja karena kehadiran orang itu. Perasaan seperti ini tidak perlu langsung dibenci. Yang perlu dijaga adalah caranya: tidak menggoda secara tidak pantas, tidak mengajak kepada hubungan yang membuka fitnah, tidak membuat janji palsu, tidak mempermainkan harapan, dan tidak menjadikan rasa suka sebagai alasan melalaikan kewajiban.
Di awal perjalanan ini, kita perlu memahami beberapa istilah dasar.
Amanah berarti sesuatu yang dipercayakan dan harus dijaga. Dalam konteks cinta, hati kita adalah amanah dari Allah. Perasaan orang lain juga amanah. Jika seseorang mempercayai kita, bercerita kepada kita, atau membuka sebagian isi hatinya, kita tidak boleh menjadikannya bahan main-main, bahan cerita, atau alat untuk menekan dirinya.
Adab berarti tata cara yang baik, pantas, dan bermartabat dalam bersikap. Adab bukan sekadar sopan di permukaan. Adab mencakup kesadaran bahwa setiap ucapan dan tindakan punya akibat. Contohnya, menolak seseorang dengan lembut adalah adab. Mengungkapkan perasaan dengan tujuan yang jelas adalah adab. Tidak menyebarkan isi percakapan pribadi adalah adab.
Akhlak berarti keadaan batin yang tampak dalam perilaku. Orang yang berakhlak baik bukan hanya tahu kalimat yang manis, tetapi juga berusaha jujur, amanah, sabar, tidak merendahkan, dan tidak menyakiti. Dalam cinta, akhlak terlihat ketika seseorang tetap menghormati orang yang dicintai meskipun keinginannya tidak terpenuhi.
Niat adalah arah batin dari sebuah perbuatan: untuk apa dan karena siapa sesuatu dilakukan. Dalam Islam, niat sangat penting karena amal lahiriah yang sama dapat memiliki nilai berbeda bergantung pada tujuan batinnya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ Innamal-a‘mālu bin-niyyāt. Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niatnya. (HR Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907; terjemahan makna)
Karena itu, ketika seseorang berkata, “Aku ingin dekat dengannya,” pertanyaan lanjutannya adalah: dekat untuk apa? Untuk membangun jalan halal dengan tanggung jawab? Atau untuk menikmati perhatian tanpa kejelasan? Untuk saling menumbuhkan kebaikan? Atau untuk mengisi sepi dengan cara yang membuat hati makin jauh dari Allah?
Buku ini akan berjalan pelan-pelan dari dasar itu. Bab-bab awal akan membantu kita melihat cinta sebagai amanah, menata niat, dan memahami batas halal dan haram. Setelah itu, pembahasan akan bergerak ke adab komunikasi, kecemburuan, penghormatan terhadap orang yang dicintai, menjaga kehormatan, serta cara menghadapi rindu, jarak, penolakan, dan patah hati. Bagian akhir akan mengajak pembaca membangun kebiasaan ruhani dan pribadi yang lebih matang agar cinta tidak hanya menjadi perasaan, tetapi juga jalan memperbaiki diri.
Namun sebelum masuk lebih jauh, ada satu hal penting: buku ini bukan pengganti bimbingan ulama, orang tua yang bijak, wali, konselor, atau pihak berwenang ketika masalah yang dihadapi sudah berat. Jika ada kekerasan, ancaman, pemaksaan, pelecehan, pemerasan, atau tekanan yang membuat seseorang tidak aman, jangan menanggungnya sendirian. Mencari pertolongan bukan tanda lemahnya iman. Menjaga diri dari kezaliman adalah bagian dari ikhtiar yang benar.
Pembaca juga tidak perlu merasa harus sempurna sebelum membaca buku ini. Banyak orang belajar tentang cinta justru setelah pernah keliru: terlalu berharap, terlalu dekat, terlalu cemburu, terlalu bergantung, atau pernah menyakiti dan disakiti. Islam membuka pintu taubat dan perbaikan. Yang penting bukan berpura-pura tidak pernah salah, melainkan mau kembali kepada Allah, memperbaiki cara, dan tidak menjadikan kesalahan sebagai kebiasaan.
Allah mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh gengsi, status, atau siapa yang paling dicintai manusia, melainkan oleh ketakwaan:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ Inna akramakum ‘indallāhi atqākum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (QS Al-Hujurat 49:13; terjemahan Kementerian Agama RI 2019)
Takwa berarti kesadaran untuk menjaga diri dalam ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam urusan cinta, takwa bukan berarti hati menjadi dingin. Takwa berarti hati tetap hangat, tetapi langkahnya dijaga. Takwa membuat seseorang mampu berkata, “Aku mencintaimu, maka aku tidak ingin menyeretmu kepada dosa.” Takwa juga membuat seseorang mampu berkata kepada dirinya sendiri, “Aku rindu, tetapi aku tidak harus melanggar batas untuk membuktikan rindu.”
Inilah nada utama buku ini: lembut, tetapi jelas; penuh harapan, tetapi tidak menipu diri; menghargai perasaan, tetapi tetap tunduk kepada Allah. Semoga setiap halaman membantu pembaca mencintai dengan lebih jernih: tidak tergesa-gesa, tidak merusak, tidak merendahkan diri, dan tidak melupakan tujuan hidup yang lebih besar.
Karena pada akhirnya, cinta yang baik bukan hanya bertanya, “Apakah aku mendapatkannya?” Cinta yang baik juga bertanya, “Apakah aku menjadi hamba Allah yang lebih baik karenanya?”
References
Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Hadis no. 1.
Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019.
Muslim ibn al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim. Hadis no. 1907.