Pendahuluan
Penelitian dimulai dari rasa ingin tahu, tetapi tidak berhenti pada rasa ingin tahu. Dalam kehidupan akademik, rasa ingin tahu harus diubah menjadi pertanyaan yang dapat diteliti, data yang dapat dipertanggungjawabkan, analisis yang jelas, dan laporan yang dapat diperiksa oleh orang lain. Perubahan dari “saya ingin tahu” menjadi “saya memiliki rancangan penelitian yang layak” adalah inti dari buku ini.
Buku Desain Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran disusun untuk membantu pembaca merancang proposal penelitian secara bertahap. Fokus utamanya adalah kerangka kerja yang banyak digunakan dalam pendidikan, ilmu sosial, kesehatan, bisnis, kebijakan publik, dan bidang terapan lain: pendekatan penelitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran sebagaimana dikembangkan dalam tradisi buku Research Design karya John W. Creswell dan J. David Creswell. Dalam edisi keenam, Creswell dan Creswell menempatkan desain penelitian sebagai keterhubungan antara pandangan dunia filosofis, rancangan penyelidikan, metode, serta keputusan praktis dalam proposal penelitian (Creswell & Creswell, 2023).
Pendahuluan ini memberi orientasi awal. Kita akan mulai dari pertanyaan paling dasar: apa yang sebenarnya dirancang ketika seseorang “mendesain penelitian”?
Dari topik menuju desain penelitian
Banyak mahasiswa memulai penelitian dengan topik. Misalnya:
“Saya ingin meneliti penggunaan media sosial oleh mahasiswa.”
Topik seperti ini penting, tetapi belum cukup. Topik baru menunjukkan wilayah minat. Ia belum menjelaskan masalah apa yang hendak diselesaikan, siapa yang akan diteliti, data apa yang diperlukan, bagaimana data dikumpulkan, bagaimana data dianalisis, dan mengapa penelitian itu penting.
Agar topik menjadi penelitian, peneliti perlu mengubahnya menjadi masalah penelitian. Masalah penelitian adalah persoalan intelektual, praktis, sosial, kebijakan, atau teoretis yang membutuhkan penyelidikan sistematis. Misalnya, topik “penggunaan media sosial oleh mahasiswa” dapat dikembangkan menjadi beberapa masalah yang berbeda:
- belum jelas bagaimana mahasiswa tahun pertama membangun identitas akademik melalui media sosial;
- belum diketahui apakah intensitas penggunaan media sosial berhubungan dengan kualitas tidur mahasiswa;
- belum ada instrumen yang sesuai untuk mengukur literasi media sosial pada mahasiswa di suatu konteks lokal;
- belum dipahami mengapa kampanye kesehatan kampus melalui media sosial tidak direspons oleh kelompok mahasiswa tertentu.
Setiap rumusan masalah di atas mengarah pada rancangan yang berbeda. Jika peneliti ingin memahami pengalaman mahasiswa membangun identitas akademik, pendekatan kualitatif mungkin lebih tepat. Jika peneliti ingin menguji hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dan kualitas tidur, pendekatan kuantitatif lebih sesuai. Jika peneliti ingin mengukur pola umum terlebih dahulu lalu mewawancarai mahasiswa untuk menjelaskan hasil statistik yang mengejutkan, metode campuran dapat dipertimbangkan.
Di sinilah desain penelitian menjadi penting. Desain penelitian adalah rencana menyeluruh yang menghubungkan masalah penelitian, tujuan, pertanyaan penelitian, teori, metode pengumpulan data, analisis data, etika, dan bentuk pelaporan. Desain bukan sekadar memilih “wawancara” atau “kuesioner”. Wawancara dan kuesioner hanyalah teknik pengumpulan data. Desain penelitian mencakup logika yang menjelaskan mengapa teknik itu dipilih, bagaimana teknik itu digunakan, data seperti apa yang dihasilkan, dan bagaimana data tersebut menjawab pertanyaan penelitian.
Contoh sederhana:
Jika seorang peneliti ingin mengetahui persentase mahasiswa yang mengalami stres akademik tinggi, ia membutuhkan pengukuran yang konsisten pada banyak responden. Survei kuantitatif dapat digunakan.
Jika peneliti ingin memahami bagaimana mahasiswa memaknai stres akademik dalam kehidupan sehari-hari, ia membutuhkan cerita, pengalaman, dan interpretasi partisipan. Wawancara kualitatif mungkin lebih sesuai.
Jika peneliti ingin mengetahui pola tingkat stres mahasiswa lalu memahami alasan di balik pola tersebut, ia dapat menggabungkan survei dan wawancara dalam desain metode campuran.
Dengan demikian, desain penelitian adalah seni sekaligus disiplin berpikir. Ia menuntut kreativitas, tetapi kreativitas itu harus tetap dapat diperiksa secara metodologis.
Tiga pendekatan besar: kualitatif, kuantitatif, dan campuran
Buku ini membahas tiga pendekatan utama.
Penelitian kualitatif adalah pendekatan yang bertujuan memahami makna, pengalaman, proses, praktik sosial, atau dunia kehidupan partisipan secara mendalam. Data kualitatif biasanya berbentuk kata-kata, cerita, dokumen, gambar, catatan observasi, atau artefak. Dalam penelitian kualitatif, peneliti sering memasuki latar alamiah, berinteraksi dengan partisipan, dan menafsirkan makna yang muncul dari data. Creswell dan Poth menjelaskan bahwa penelitian kualitatif mencakup berbagai tradisi rancangan, seperti naratif, fenomenologi, teori berlandaskan data, etnografi, dan studi kasus (Creswell & Poth, 2018).
Contohnya, seorang peneliti ingin memahami pengalaman guru baru ketika menghadapi kelas pertama mereka. Ia tidak cukup hanya menghitung jumlah guru yang merasa cemas. Ia perlu mendengar cerita mereka, memahami situasi sekolah, melihat relasi dengan murid dan kolega, serta menafsirkan bagaimana pengalaman itu membentuk identitas profesional mereka.
Penelitian kuantitatif adalah pendekatan yang menggunakan pengukuran numerik untuk mendeskripsikan gejala, menguji hubungan antarvariabel, membandingkan kelompok, atau menguji pengaruh suatu perlakuan. Istilah variabel berarti karakteristik yang dapat bervariasi antarindividu, kelompok, waktu, atau situasi. Contohnya adalah motivasi belajar, pendapatan, usia, tingkat kecemasan, skor literasi, atau frekuensi penggunaan aplikasi.
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti biasanya merumuskan variabel dengan jelas, menentukan cara mengukurnya, memilih sampel, mengumpulkan data numerik, lalu menganalisisnya dengan teknik statistik. Misalnya, peneliti dapat menguji apakah terdapat perbedaan skor kemampuan membaca antara siswa yang belajar dengan metode A dan siswa yang belajar dengan metode B. Di sini, desain harus menjelaskan siapa pesertanya, bagaimana kelompok dibentuk, bagaimana kemampuan membaca diukur, dan analisis statistik apa yang digunakan.
Metode campuran adalah pendekatan yang mengintegrasikan data kuantitatif dan kualitatif dalam satu studi. Kata kunci di sini adalah integrasi. Metode campuran bukan sekadar menambahkan wawancara setelah survei, atau menaruh kutipan partisipan di samping angka statistik. Peneliti harus menjelaskan mengapa kedua jenis data dibutuhkan, kapan masing-masing data dikumpulkan, bagian mana yang lebih diprioritaskan, dan bagaimana hasil keduanya digabungkan untuk menghasilkan pemahaman yang lebih kuat. Literatur metode campuran menekankan bahwa kombinasi kuantitatif dan kualitatif dapat memberi jawaban yang lebih lengkap ketika satu jenis data saja tidak cukup menjawab masalah penelitian (Tashakkori & Teddlie, 2010).
Contohnya, survei menemukan bahwa mahasiswa generasi pertama di perguruan tinggi memiliki tingkat keterlibatan akademik lebih rendah dibanding mahasiswa lain. Namun angka itu belum menjelaskan mengapa. Peneliti kemudian mewawancarai sebagian mahasiswa generasi pertama untuk memahami hambatan keluarga, ekonomi, bahasa akademik, atau rasa tidak memiliki tempat di kampus. Hasil kuantitatif memberi pola umum; hasil kualitatif membantu menjelaskan makna dan proses di balik pola itu.
Proposal penelitian sebagai argumen
Proposal penelitian bukan hanya dokumen administratif. Proposal adalah argumen. Ia berusaha meyakinkan pembaca bahwa:
- ada masalah yang penting untuk diteliti;
- masalah itu belum cukup dijawab oleh penelitian sebelumnya;
- tujuan dan pertanyaan penelitian dirumuskan dengan jelas;
- pendekatan dan metode yang dipilih sesuai;
- penelitian dapat dilakukan secara etis dan realistis;
- hasil penelitian berpotensi memberi kontribusi.
Kata argumen di sini tidak berarti perdebatan keras. Dalam tulisan akademik, argumen berarti rangkaian alasan yang disusun secara logis dan didukung oleh bukti. Sebuah proposal yang baik tidak hanya berkata, “Saya akan melakukan wawancara.” Ia menjelaskan mengapa wawancara diperlukan, siapa yang diwawancarai, mengapa mereka relevan, bagaimana pertanyaan disusun, bagaimana data dianalisis, dan bagaimana hak partisipan dilindungi.
Misalnya, bandingkan dua kalimat berikut.
Kalimat pertama:
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara.
Kalimat kedua:
Penelitian ini menggunakan rancangan fenomenologi karena bertujuan memahami esensi pengalaman mahasiswa penyandang disabilitas dalam mengakses layanan akademik. Data akan dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan mahasiswa yang mengalami langsung fenomena tersebut, kemudian dianalisis untuk menemukan pernyataan signifikan, unit makna, dan tema pengalaman bersama.
Kalimat kedua lebih kuat karena menunjukkan hubungan antara tujuan, rancangan, partisipan, data, dan analisis. Itulah yang akan dilatih sepanjang buku ini: menyusun proposal sebagai argumen metodologis yang koheren.
Mengapa pandangan dunia filosofis perlu dibahas?
Sebagian pembaca mungkin bertanya, “Mengapa buku desain penelitian perlu membahas filsafat? Bukankah yang penting adalah teknik?”
Pertanyaan itu wajar. Namun dalam penelitian, teknik tidak pernah sepenuhnya netral. Cara peneliti memandang realitas, pengetahuan, nilai, dan tujuan penelitian memengaruhi desain yang ia pilih. Creswell dan Creswell membahas empat pandangan dunia yang sering digunakan untuk memahami orientasi penelitian: postpositivisme, konstruktivisme, transformatif, dan pragmatisme (Creswell & Creswell, 2023).
Istilah pandangan dunia filosofis berarti seperangkat asumsi dasar tentang apa yang dianggap nyata, bagaimana pengetahuan diperoleh, apa peran nilai dalam penelitian, dan untuk apa penelitian dilakukan. Michael Crotty menjelaskan bahwa proses penelitian selalu terkait dengan asumsi epistemologis, perspektif teoretis, metodologi, dan metode; dengan kata lain, pilihan teknik penelitian berdiri di atas dasar pemikiran yang lebih dalam (Crotty, 1998).
Contoh sederhana dapat membantu.
Jika seorang peneliti bekerja dengan orientasi postpositivis, ia mungkin berangkat dari gagasan bahwa realitas dapat diteliti secara empiris, meskipun pengetahuan manusia selalu bersifat sementara dan dapat keliru. Ia mungkin merancang survei atau eksperimen untuk menguji hipotesis dengan prosedur yang terkontrol.
Jika peneliti bekerja dengan orientasi konstruktivis, ia lebih menekankan bahwa makna dibangun oleh manusia melalui pengalaman dan interaksi sosial. Ia mungkin menggunakan wawancara mendalam untuk memahami bagaimana partisipan menafsirkan pengalaman mereka.
Jika peneliti bekerja dengan orientasi transformatif, ia tidak hanya ingin memahami dunia, tetapi juga memperhatikan ketidakadilan, relasi kuasa, dan kelompok yang terpinggirkan. Penelitian dapat diarahkan untuk memberi suara kepada kelompok tertentu atau mendukung perubahan sosial.
Jika peneliti bekerja dengan orientasi pragmatis, ia menekankan pertanyaan “apa yang bekerja untuk menjawab masalah penelitian?” Orientasi ini sering mendukung metode campuran karena peneliti memilih prosedur berdasarkan kegunaan data untuk menjawab masalah, bukan berdasarkan kesetiaan pada satu tradisi metode saja.
Pandangan dunia tidak perlu diperlakukan sebagai label kaku. Dalam proposal, yang terpenting adalah kemampuan peneliti menjelaskan asumsi yang mendukung desainnya. Pembaca proposal perlu melihat bahwa pilihan metode tidak dibuat secara acak.
Etika sebagai bagian dari mutu penelitian
Penelitian melibatkan manusia, data, institusi, komunitas, dan konsekuensi sosial. Karena itu, etika bukan tambahan di akhir proposal. Etika adalah bagian dari mutu penelitian.
Etika penelitian adalah prinsip dan prosedur yang melindungi martabat, keselamatan, hak, privasi, dan kesejahteraan pihak-pihak yang terlibat atau terdampak oleh penelitian. Salah satu dokumen penting dalam sejarah etika penelitian adalah The Belmont Report, yang merumuskan tiga prinsip utama: penghormatan terhadap pribadi, beneficence atau upaya memaksimalkan manfaat dan meminimalkan risiko, serta keadilan dalam distribusi beban dan manfaat penelitian (National Commission for the Protection of Human Subjects of Biomedical and Behavioral Research, 1979).
Dalam praktik proposal, etika tampak dalam banyak keputusan konkret:
- bagaimana peneliti meminta persetujuan partisipan;
- bagaimana peneliti menjelaskan risiko dan manfaat;
- bagaimana identitas partisipan dilindungi;
- bagaimana data disimpan;
- bagaimana kelompok rentan diperlakukan;
- bagaimana konflik kepentingan diungkapkan;
- bagaimana peneliti menghindari plagiarisme, fabrikasi data, dan falsifikasi hasil.
Contohnya, penelitian tentang pengalaman korban kekerasan tidak cukup hanya “menarik secara akademik”. Peneliti harus mempertimbangkan risiko retraumatisasi, keamanan partisipan, kerahasiaan data, prosedur rujukan bantuan, dan kepekaan bahasa dalam wawancara. Penelitian yang secara teknis rapi tetapi merugikan partisipan tetap merupakan penelitian yang buruk.
Cara buku ini akan menuntun pembaca
Buku ini disusun sebagai jalur belajar dari fondasi menuju proposal yang siap diuji. Bagian awal membangun cara berpikir: apa itu desain penelitian, bagaimana memilih pendekatan, apa peran pandangan dunia filosofis, bagaimana merumuskan masalah, bagaimana meninjau pustaka, bagaimana menggunakan teori, bagaimana menulis secara akademik, dan bagaimana menjaga etika.
Setelah itu, buku masuk ke komponen inti proposal: model pendahuluan, pernyataan tujuan, pertanyaan penelitian, hipotesis, dan tujuan operasional. Bagian ini penting karena banyak proposal gagal bukan karena teknik analisisnya rumit, tetapi karena sejak awal masalah, tujuan, dan pertanyaan penelitiannya tidak selaras.
Bagian berikutnya membahas pendekatan kuantitatif. Pembaca akan mempelajari variabel, definisi operasional, pengukuran, reliabilitas, validitas, populasi, sampel, survei, eksperimen, kuasi-eksperimen, dan prosedur proposal kuantitatif. Semua istilah ini akan dibangun dari dasar. Misalnya, sebelum membahas validitas instrumen, buku akan menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pengukuran dan mengapa pengukuran dalam ilmu sosial tidak sesederhana membaca panjang meja dengan penggaris.
Kemudian buku beralih ke pendekatan kualitatif. Pembaca akan mempelajari karakteristik penelitian kualitatif dan lima rancangan utama: naratif, fenomenologi, teori berlandaskan data, etnografi, dan studi kasus. Setiap rancangan memiliki tujuan dan logika sendiri. Fenomenologi, misalnya, tidak sama dengan studi kasus; etnografi tidak sama dengan sekadar observasi; teori berlandaskan data tidak sama dengan “membuat teori bebas dari bacaan”. Perbedaan-perbedaan ini akan dijelaskan dengan contoh.
Setelah itu, buku membahas metode campuran. Pembaca akan mempelajari desain konvergen, sekuensial eksplanatori, sekuensial eksploratori, dan desain kompleks. Fokusnya bukan hanya “menggabungkan metode”, tetapi menjelaskan kapan penggabungan itu diperlukan, bagaimana data diintegrasikan, dan bagaimana kesimpulan akhir dibangun dari dua jenis bukti.
Pada bagian akhir, buku membantu pembaca menyatukan semua komponen menjadi proposal penelitian yang siap diuji. Tujuannya bukan membuat proposal yang tampak panjang, melainkan proposal yang jelas, kokoh, etis, dan metodologis.
Sikap belajar yang disarankan
Agar buku ini bermanfaat, bacalah dengan sikap seorang perancang, bukan hanya pembaca. Setiap kali menemukan konsep, tanyakan:
Jika saya sedang menulis proposal sendiri, keputusan apa yang harus saya buat berdasarkan konsep ini?
Misalnya, ketika membaca tentang pandangan dunia filosofis, jangan hanya menghafal definisi postpositivisme atau konstruktivisme. Tanyakan: “Apa asumsi saya tentang pengetahuan? Apakah pertanyaan penelitian saya lebih cocok dijawab dengan angka, pengalaman, atau keduanya?” Ketika membaca tentang tinjauan pustaka, jangan hanya mengumpulkan artikel. Tanyakan: “Kesenjangan apa yang benar-benar muncul dari literatur, dan bagaimana penelitian saya menanggapinya?” Ketika membaca tentang etika, jangan hanya menulis “penelitian ini menjaga kerahasiaan”. Tanyakan: “Risiko apa yang mungkin dialami partisipan, dan prosedur apa yang benar-benar melindungi mereka?”
Buku ini tidak bertujuan membuat pembaca memilih satu pendekatan dan merendahkan pendekatan lain. Penelitian kualitatif, kuantitatif, dan campuran memiliki kekuatan serta keterbatasan masing-masing. Peneliti yang matang bukan peneliti yang selalu memakai metode favoritnya, melainkan peneliti yang mampu memilih desain yang paling sesuai dengan masalah, tujuan, konteks, sumber daya, dan tanggung jawab etis.
Pada akhirnya, desain penelitian yang baik adalah desain yang dapat menjawab pertanyaan penting dengan cara yang jelas, dapat dipertanggungjawabkan, dan menghormati manusia yang terlibat di dalamnya. Itulah orientasi utama buku ini.
References
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2023). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (6th ed.). SAGE Publications.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Crotty, M. (1998). The foundations of social research: Meaning and perspective in the research process. SAGE Publications.
National Commission for the Protection of Human Subjects of Biomedical and Behavioral Research. (1979). The Belmont report: Ethical principles and guidelines for the protection of human subjects of research. U.S. Department of Health, Education, and Welfare.
Tashakkori, A., & Teddlie, C. (Eds.). (2010). SAGE handbook of mixed methods in social & behavioral research (2nd ed.). SAGE Publications.