InfoCreate an account or log in to access more pages.
Back to 1
Author @mujirin Verifier - Public Public AI enabled
← Back to 1 Verify Mark as read Debunk me Versions Exports locked Locked
Log in to access more pages. Create an account or log in to continue reading more pages.
Log in

Pendahuluan

Bayangkan Anda sedang berada di rumah, di sekolah, di tempat ibadah, di kantor, di halte, atau di pusat perbelanjaan. Seseorang tiba-tiba jatuh. Orang-orang mendekat, tetapi tidak ada yang yakin harus melakukan apa. Ada yang memanggil namanya. Ada yang panik. Ada yang mencari minyak angin. Ada yang merekam. Dalam beberapa menit pertama itu, keputusan sederhana dapat sangat berarti: memastikan tempat aman, mengecek apakah korban merespons, meminta bantuan, menilai napas, lalu memulai RJP bila korban tidak bernapas normal.

Buku ini ditulis untuk momen seperti itu.

Bantuan Hidup Dasar, atau sering disingkat BHD, adalah pertolongan awal untuk mempertahankan kehidupan seseorang sampai bantuan medis yang lebih lengkap datang. Dalam bahasa internasional, istilah yang sering dipakai adalah Basic Life Support. Kata “dasar” bukan berarti tidak penting. Justru tindakan dasar seperti memanggil bantuan lebih awal, melakukan kompresi dada, dan menggunakan AED bila tersedia adalah bagian utama dari rantai pertolongan pada henti jantung. Pedoman resusitasi modern menekankan bahwa penolong awam dapat berperan besar melalui pengenalan henti jantung, aktivasi sistem gawat darurat, RJP dini, dan defibrilasi dini bila AED tersedia (American Heart Association, 2020; Olasveengen et al., 2021).

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita pahami beberapa istilah inti.

Henti jantung adalah keadaan ketika jantung tidak lagi memompa darah secara efektif ke otak dan organ penting lain. Korban biasanya tidak sadar dan tidak bernapas normal. Kadang masih tampak seperti menarik napas satu-satu, berat, megap-megap, atau seperti “mengorok”. Ini dapat disebut napas agonal, yaitu gerakan napas tidak normal yang sering muncul pada awal henti jantung. Napas agonal bukan napas normal. Bila korban tidak sadar dan tidak bernapas normal, penolong harus menganggap keadaan itu sebagai henti jantung sampai terbukti sebaliknya dan segera memulai RJP sesuai kemampuan.

RJP, atau resusitasi jantung paru, adalah tindakan menolong korban henti jantung dengan menekan dada secara berulang, dan pada keadaan tertentu memberi napas bantuan. Tujuannya bukan “menghidupkan orang” secara ajaib, melainkan membantu mengalirkan darah yang masih mengandung oksigen ke otak dan jantung sampai jantung dapat kembali bekerja atau sampai tenaga kesehatan mengambil alih. Pada orang dewasa yang tiba-tiba kolaps, penolong awam yang tidak terlatih atau tidak nyaman memberi napas bantuan tetap dianjurkan melakukan kompresi dada saja, karena kompresi yang segera dan terus-menerus lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa (American Heart Association, 2020; Olasveengen et al., 2021).

AED, singkatan dari automated external defibrillator, adalah alat yang dapat menganalisis irama jantung tertentu dan memberi instruksi apakah kejut listrik diperlukan. AED dirancang agar dapat digunakan oleh penolong awam dengan mengikuti instruksi suara atau gambar pada alat. Namun dalam situasi nyata di Indonesia, AED belum tentu tersedia di rumah, sekolah, tempat ibadah, kantor kecil, jalan raya, atau fasilitas umum tertentu. Karena itu buku ini tidak membuat pertolongan bergantung pada AED saja. Bila AED ada, gunakan. Bila AED tidak ada, tindakan terpenting tetap: panggil bantuan dan lakukan RJP berkualitas.

Istilah lain yang sering membingungkan adalah serangan jantung. Serangan jantung berbeda dari henti jantung. Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke sebagian otot jantung terganggu, biasanya karena sumbatan pembuluh darah koroner. Korban serangan jantung dapat masih sadar, masih bernapas, dan mengeluh nyeri dada, sesak, mual, keringat dingin, atau rasa tertekan di dada. Henti jantung adalah keadaan ketika jantung tidak memompa darah secara efektif dan korban tidak sadar serta tidak bernapas normal. Serangan jantung dapat menyebabkan henti jantung, tetapi keduanya bukan hal yang sama. Perbedaan ini akan dibahas lebih lengkap dalam Bab 9.

Mengapa menit pertama begitu penting? Otak membutuhkan aliran darah yang membawa oksigen. Saat jantung berhenti memompa secara efektif, aliran darah ke otak turun drastis. Karena itu, semakin cepat orang di sekitar korban mengenali keadaan, memanggil bantuan, dan memulai RJP, semakin besar peluang korban memperoleh pertolongan yang bermakna sebelum bantuan lanjutan datang. Rantai tindakan ini—pengenalan dini, panggilan darurat, RJP dini, defibrilasi bila tersedia, dan perawatan lanjutan—menjadi inti banyak pedoman bantuan hidup dasar internasional (American Heart Association, 2020; Olasveengen et al., 2021).

Namun buku ini juga realistis. Kita belajar dalam konteks Indonesia.

Di sebagian tempat, ambulans mungkin tidak datang secepat yang kita harapkan. Nomor darurat dapat berbeda efektivitasnya antarwilayah. Indonesia memiliki sistem penanggulangan gawat darurat terpadu yang mencakup layanan kegawatdaruratan medis melalui 119 dan jejaring Public Safety Center atau PSC di daerah (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016). Banyak daerah juga mengenalkan 112 sebagai nomor panggilan darurat umum, tetapi ketersediaan dan responsnya perlu diketahui sesuai wilayah masing-masing (Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, n.d.). Karena itu, salah satu kebiasaan siap menolong adalah menyimpan nomor darurat setempat: ambulans, rumah sakit terdekat, puskesmas, keamanan lingkungan, pemadam kebakaran, atau pengelola gedung.

Buku ini juga tidak mengandaikan semua alat dan obat tersedia. Di beberapa pedoman internasional, nalokson dibahas untuk dugaan overdosis opioid bila obat tersebut tersedia dan penolong memang dilatih menggunakannya; Organisasi Kesehatan Dunia juga membahas pemberian nalokson oleh orang yang mungkin menyaksikan overdosis opioid dalam konteks program yang sesuai (World Health Organization, 2014). Tetapi dalam pembelajaran BHD untuk orang awam di Indonesia, kita tidak boleh menunda tindakan utama karena mencari obat yang belum tentu tersedia. Bila korban tidak sadar dan tidak bernapas normal, langkah yang tetap penting adalah memanggil bantuan dan memulai RJP.

Peta utama buku ini adalah DRSABCD. Ini adalah cara mengingat urutan berpikir penolong:

Danger berarti menilai bahaya. Jangan menjadi korban berikutnya. Contohnya, jangan langsung menyentuh korban yang masih terhubung dengan sumber listrik, jangan masuk ke jalan raya tanpa mengamankan lalu lintas, dan jangan masuk ke air deras bila tidak terlatih melakukan penyelamatan air.

Response berarti mengecek respons. Panggil korban dengan suara jelas, lalu tepuk bahu dengan aman. Pada bayi, rangsang dengan lembut, misalnya menyentuh telapak kaki, bukan mengguncang tubuh.

Send for help berarti memanggil bantuan. Jika ada orang lain, tunjuk orang tertentu: “Bapak berbaju biru, tolong telepon 119 atau 112. Ibu, tolong cari AED kalau ada. Mas, bantu kosongkan area.” Perintah yang jelas lebih efektif daripada berteriak umum, “Tolong!”

Airway berarti membuka jalan napas. Pada orang tidak sadar, lidah dan jaringan lunak dapat menghalangi jalan napas. Penolong awam akan belajar cara sederhana membuka jalan napas tanpa memasukkan jari sembarangan ke mulut korban.

Breathing berarti menilai napas. Kita akan belajar membedakan napas normal, tidak bernapas, dan napas agonal. Ini penting karena banyak orang menunda RJP ketika melihat korban tampak “masih menarik napas”, padahal napas itu tidak normal.

CPR berarti melakukan RJP. Untuk korban dewasa yang tidak sadar dan tidak bernapas normal, tindakan utama adalah kompresi dada yang kuat dan cepat, dengan jeda sesedikit mungkin.

Defibrillation berarti menggunakan AED bila tersedia. AED memberi instruksi langkah demi langkah. Penolong harus memastikan tidak ada yang menyentuh korban saat alat menganalisis irama jantung dan saat kejut listrik diberikan.

Urutan ini bukan hafalan kosong. Ini adalah alat berpikir. Dalam keadaan panik, manusia mudah lupa. DRSABCD membantu kita kembali ke langkah paling aman: amankan diri, cek respons, panggil bantuan, buka jalan napas, nilai napas, mulai RJP, gunakan AED bila ada.

Buku ini ditujukan untuk orang awam: orang tua, siswa, guru, pengurus tempat ibadah, satpam, pegawai kantor, pengemudi, pedagang, relawan, pelatih olahraga, petugas fasilitas umum, dan siapa pun yang mungkin berada di dekat korban. Anda tidak harus menjadi dokter atau perawat untuk memulai pertolongan dasar. Tetapi Anda juga perlu tahu batasnya. Penolong awam tidak diminta mendiagnosis penyakit secara lengkap, memberi obat sembarangan, melakukan tindakan medis invasif, atau mengambil risiko berbahaya. Tugas penolong awam adalah mengenali keadaan yang mengancam nyawa, memanggil bantuan, melakukan tindakan dasar yang aman, dan menyerahkan korban kepada petugas yang lebih terlatih.

Membaca buku ini adalah langkah awal, bukan pengganti latihan praktik. RJP paling baik dipelajari dengan latihan langsung menggunakan manekin dan bimbingan instruktur, karena tubuh perlu belajar posisi tangan, kedalaman tekanan, irama kompresi, dan cara mengurangi jeda. Namun pemahaman tertulis tetap penting. Dengan membaca, Anda membangun peta mental: apa yang harus dicari, apa yang harus dihindari, kapan harus mulai, dan kapan harus berhenti.

Sikap yang kita bangun dalam buku ini sederhana: tenang, aman, jelas, dan bertindak.

Tenang bukan berarti tidak takut. Banyak penolong tetap takut. Tenang berarti mampu melakukan satu langkah berikutnya walaupun takut.

Aman berarti tidak nekat. Jika lokasi berbahaya, Anda boleh menunggu bantuan khusus sambil memanggil layanan darurat dan mengarahkan orang lain menjauh.

Jelas berarti memberi instruksi yang spesifik. Dalam kerumunan, orang sering menunggu orang lain bertindak. Kalimat seperti “Anda, tolong telepon 119 sekarang” lebih berguna daripada teriakan umum.

Bertindak berarti tidak menunda pertolongan penting karena menunggu keadaan sempurna. Jika korban tidak sadar dan tidak bernapas normal, mulai RJP. Jika AED tersedia, gunakan. Jika AED tidak tersedia, lanjutkan RJP sampai bantuan datang, Anda kelelahan, lokasi menjadi tidak aman, atau korban mulai bernapas normal.

Pada bab-bab berikutnya, kita akan berjalan pelan-pelan. Kita mulai dari tujuan Bantuan Hidup Dasar, lalu mengenal rantai keselamatan, menjaga keselamatan penolong, memakai DRSABCD, mengecek respons, memanggil bantuan di Indonesia, membuka jalan napas, menilai pernapasan, membedakan serangan jantung dan henti jantung, melakukan RJP pada dewasa, anak, dan bayi, menggunakan AED, menghadapi tersedak, serta menyesuaikan tindakan pada kejadian khusus seperti tenggelam, sengatan listrik, trauma, kehamilan, dan dugaan overdosis.

Harapannya, setelah menyelesaikan buku ini, Anda tidak hanya tahu istilah. Anda mampu berkata dalam hati saat melihat kejadian gawat darurat: “Saya tahu langkah pertama. Saya akan memastikan aman. Saya akan cek respons. Saya akan panggil bantuan. Saya akan nilai napas. Jika perlu, saya akan mulai RJP.”

Itulah awal dari seorang penolong yang siap.

References

American Heart Association. (2020). Highlights of the 2020 American Heart Association Guidelines for CPR and ECC. American Heart Association.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (n.d.). Layanan Nomor Panggilan Darurat 112. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Olasveengen, T. M., Semeraro, F., Ristagno, G., Castren, M., Handley, A., Kuzovlev, A., Monsieurs, K. G., Raffay, V., Smyth, M., Soar, J., Svavarsdóttir, H., & Perkins, G. D. (2021). European Resuscitation Council Guidelines 2021: Basic Life Support. Resuscitation, 161, 98–114.

World Health Organization. (2014). Community management of opioid overdose. World Health Organization.

τ TheoryTrace