Version 2 of 2

grammar

AI explanation generated from custom prompt. · Working · Sep 18, 2026 08:08 · saved by @mujirin

Apa Itu Grammar?

Dalam bagian pendahuluan, kata grammar muncul di antara vocabulary, pronunciation, speaking, listening, reading, dan writing. Ini penting karena buku tersebut sedang menekankan satu prinsip dasar: bahasa adalah alat untuk menyampaikan makna. Jadi, ketika kita bertanya “apa itu grammar?”, jawabannya sebaiknya tidak berhenti pada “grammar adalah aturan bahasa.” Jawaban itu benar, tetapi belum lengkap. Grammar lebih tepat dipahami sebagai sistem pola yang membantu kita menyusun kata agar makna menjadi jelas.

Jika vocabulary memberi kita bahan berupa kata, maka grammar membantu kita mengatur bahan itu. Misalnya, kita punya tiga kata: I, coffee, dan like. Jika disusun menjadi:

I like coffee.

maknanya jelas: “Saya suka kopi.” Tetapi jika kata-kata itu disusun secara acak:

Coffee like I.

pendengar mungkin bingung, karena susunannya tidak mengikuti pola umum bahasa Inggris. Dari contoh sederhana ini, kita dapat melihat bahwa grammar bukan sekadar rumus untuk ujian. Grammar membantu pendengar atau pembaca mengetahui siapa melakukan apa, kapan sesuatu terjadi, dan bagaimana hubungan antarbagian kalimat.

Grammar sebagai Cara Mengatur Makna

Dalam bahasa Inggris, perubahan kecil dalam grammar dapat mengubah makna. Perhatikan dua kalimat berikut:

She likes coffee.
She liked coffee.

Kedua kalimat memakai kata yang hampir sama. Namun likes menunjukkan kebiasaan atau fakta sekarang, sedangkan liked menunjukkan masa lalu. Jadi, grammar membantu menunjukkan waktu.

Contoh lain:

The dog bites the man.
The man bites the dog.

Kata-katanya hampir sama, tetapi susunannya berubah. Akibatnya, maknanya juga berubah. Pada kalimat pertama, anjing menggigit orang. Pada kalimat kedua, orang menggigit anjing. Di sini, grammar bekerja melalui urutan kata. Dalam bahasa Inggris, urutan kata sering sangat penting karena biasanya pola dasarnya adalah:

Subject + Verb + Object
pelaku + tindakan + sasaran

Misalnya:

Rina reads a book.

Rina adalah subject, yaitu orang yang dibicarakan atau yang melakukan tindakan. Reads adalah verb, yaitu tindakan. A book adalah object, yaitu sesuatu yang dikenai tindakan. Dengan memahami pola seperti ini, kita lebih mudah membuat kalimat yang dapat dipahami.

Ahli bahasa dan pengajar bahasa sering melihat grammar bukan hanya sebagai daftar larangan, tetapi sebagai bagian dari kemampuan berkomunikasi. Dalam gagasan communicative competence, kemampuan bahasa mencakup kemampuan membuat kalimat yang benar sekaligus memakai bahasa secara sesuai dengan situasi [Canale & Swain 1980]. Artinya, grammar penting, tetapi grammar bekerja bersama makna, sopan santun, tujuan, dan konteks.

Grammar Bukan Selalu Sama dengan Bahasa Indonesia

Bagi pembelajar Indonesia, grammar bahasa Inggris kadang terasa sulit bukan karena “aneh”, tetapi karena sistemnya berbeda dari bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kita dapat berkata:

Saya makan nasi.
Kemarin saya makan nasi.
Besok saya makan nasi.

Kata kerja makan tidak berubah. Waktu biasanya ditunjukkan oleh kata seperti kemarin, sekarang, atau besok. Dalam bahasa Inggris, kata kerja sering berubah atau dibantu oleh bentuk lain:

I eat rice.
Yesterday, I ate rice.
Tomorrow, I will eat rice.

Di sini, eat berubah menjadi ate untuk masa lalu, dan will eat dipakai untuk masa depan. Inilah bagian dari grammar bahasa Inggris yang disebut tense, yaitu cara bahasa menandai waktu atau hubungan waktu dalam kalimat.

Contoh lain adalah penggunaan to be. Dalam bahasa Indonesia, kita bisa berkata:

Dia dokter.

Kalimat ini sudah lengkap dan alami. Tetapi dalam bahasa Inggris, kita perlu mengatakan:

She is a doctor.
He is a doctor.

Kata is tidak punya terjemahan langsung yang selalu tampak dalam bahasa Indonesia, tetapi dalam grammar bahasa Inggris, kata itu diperlukan untuk kalimat seperti ini. Jadi, ketika pembelajar Indonesia lupa memakai is, itu bukan karena tidak berpikir logis. Penyebabnya sering karena sistem bahasa Indonesia dan bahasa Inggris memang berbeda.

Grammar Membantu Ketepatan, Tetapi Tidak Harus Menunggu Sempurna

Buku induk menekankan bahwa pembelajar tidak harus hafal semua aturan grammar sebelum mulai memakai bahasa Inggris. Ini sikap yang sehat. Dalam pembelajaran bahasa kedua, mengetahui aturan dan mampu memakai aturan secara lancar adalah dua hal yang berhubungan, tetapi tidak selalu muncul bersamaan [Lightbown & Spada 2013].

Misalnya, seseorang mungkin tahu bahwa kalimat yang benar adalah:

She goes to school every day.

Namun ketika berbicara cepat, ia masih berkata:

She go to school every day.

Kesalahan ini umum. Ia menunjukkan bahwa pembelajar sedang berada dalam proses mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan berbahasa. Karena itu, grammar sebaiknya dipelajari melalui contoh, latihan, dan penggunaan nyata, bukan hanya melalui hafalan rumus.

Tujuan awal belajar grammar bukan membuat pembelajar takut salah, melainkan membuat pesan lebih jelas sedikit demi sedikit. Jika Anda berkata:

Yesterday I go to school.

orang mungkin masih memahami maksud Anda, terutama karena ada kata yesterday. Tetapi bentuk yang lebih tepat adalah:

Yesterday I went to school.

Perbaikan ini membuat kalimat lebih akurat dan lebih alami dalam bahasa Inggris.

Grammar dalam Bentuk Sederhana

Untuk pemula, grammar dapat dipahami melalui beberapa pertanyaan dasar. Pertama, siapa atau apa yang dibicarakan? Ini berhubungan dengan subject. Kedua, apa tindakan atau keadaannya? Ini berhubungan dengan verb. Ketiga, kapan terjadi? Ini berhubungan dengan tense atau penanda waktu. Keempat, apakah kalimatnya pernyataan, pertanyaan, atau larangan? Ini berhubungan dengan bentuk kalimat.

Bandingkan:

You are a student.
Are you a student?

Kalimat pertama adalah pernyataan. Kalimat kedua adalah pertanyaan. Kata-katanya hampir sama, tetapi susunannya berubah. Grammar membantu kita membedakan apakah seseorang sedang memberi informasi atau meminta informasi.

Contoh lain:

I can swim.
I cannot swim.
Can you swim?

Kata can menunjukkan kemampuan. Ketika ditambah not, maknanya menjadi tidak mampu. Ketika can diletakkan di depan subject, kalimat berubah menjadi pertanyaan. Dari sini terlihat bahwa grammar sering bekerja melalui perubahan kecil yang teratur.

Grammar yang Berguna untuk Komunikasi

Karena bahasa adalah alat untuk menyampaikan makna, grammar sebaiknya selalu dihubungkan dengan penggunaan nyata. Misalnya, pola:

I need ...

dapat langsung dipakai dalam kehidupan sehari-hari:

I need a pen.
I need more time.
I need to call my manager.

Di sini, grammar membantu kita mengembangkan satu pola menjadi banyak kalimat. Kita tidak hanya menghafal “rumus”, tetapi belajar memakai pola untuk menyampaikan kebutuhan.

Pendekatan seperti ini sejalan dengan pandangan bahwa grammar dalam pengajaran bahasa perlu dihubungkan dengan bentuk, makna, dan penggunaan [Larsen-Freeman & Celce-Murcia 2015]. Bentuk menjawab pertanyaan “seperti apa susunan kalimatnya?” Makna menjawab “apa artinya?” Penggunaan menjawab “kapan dan dalam situasi apa kalimat ini cocok?”

Misalnya:

Give me your pen.
Could I borrow your pen, please?

Secara grammar, keduanya dapat dipahami. Namun secara penggunaan, kalimat kedua lebih sopan dalam banyak situasi. Jadi, belajar grammar yang baik tidak hanya bertanya “benar atau salah?”, tetapi juga “apakah kalimat ini cocok untuk situasi ini?”

Kesimpulan: Grammar Adalah Jembatan, Bukan Penghalang

Grammar adalah sistem pola yang membantu kita menyusun kata menjadi kalimat bermakna. Grammar menunjukkan hubungan antara orang, tindakan, benda, waktu, dan situasi. Dalam bahasa Inggris, grammar terlihat dalam urutan kata, perubahan kata kerja, penggunaan to be, bentuk pertanyaan, bentuk negatif, artikel seperti a dan the, preposisi seperti in, on, dan at, serta banyak pola lain.

Namun grammar tidak perlu dipandang sebagai tembok yang menakutkan. Grammar lebih baik dipandang sebagai jembatan: jembatan antara kata-kata yang terpisah dan pesan yang jelas. Anda tidak harus menguasai seluruh grammar sebelum mulai berbicara atau menulis. Mulailah dari pola kecil yang sering dipakai, pahami maknanya, lalu gunakan dalam kalimat nyata. Dari sana, grammar akan menjadi alat bantu komunikasi, bukan sekadar aturan yang membuat takut salah.

References

Canale, M., & Swain, M. (1980). Theoretical bases of communicative approaches to second language teaching and testing. Applied Linguistics, 1(1), 1–47.

Larsen-Freeman, D., & Celce-Murcia, M. (2015). The Grammar Book: Form, Meaning, and Use for English Language Teachers (3rd ed.). National Geographic Learning.

Lightbown, P. M., & Spada, N. (2013). How Languages are Learned (4th ed.). Oxford University Press.

Thornbury, S. (1999). How to Teach Grammar. Longman.

τ TheoryTrace