Pendahuluan
Anak yang baik, pernahkah kamu merasa senang sekali karena mendapat hadiah? Pernahkah kamu merasa sedih karena mainan rusak, teman tidak mau bermain, atau doa yang kamu minta belum terjadi?
Di dalam hidup, kita mengalami banyak hal. Ada yang membuat kita tersenyum. Ada juga yang membuat kita ingin menangis. Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak berjalan sendirian. Mukmin artinya orang yang beriman kepada Allah. Ia percaya bahwa Allah melihatnya, mendengarnya, menyayanginya, dan mengetahui semua keadaannya.
Buku ini mengajakmu belajar dengan hati tenang. Kita akan belajar tiga hal penting: akidah, takdir, dan doa.
Akidah adalah keyakinan yang kuat di dalam hati. Keyakinan itu bukan hanya kata-kata di mulut, tetapi kepercayaan yang membuat kita mengenal Allah dan ingin taat kepada-Nya. Dalam Islam, iman mencakup percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik maupun yang buruk. Enam pokok iman ini disebut dalam hadis Jibril yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim (Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis Jibril).
Misalnya, ketika kamu berkata, “Allah Maha Mendengar,” maka kamu belajar yakin bahwa Allah mendengar doamu, walaupun kamu berdoa pelan di dalam hati. Ketika kamu berkata, “Allah Maha Mengetahui,” kamu belajar yakin bahwa Allah tahu apa yang kamu butuhkan, bahkan sebelum kamu bisa mengatakannya dengan rapi.
Takdir adalah ketetapan Allah. Allah mengetahui segala sesuatu, dan Allah menetapkan segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Al-Qur’an mengajarkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan ketetapan (Al-Qur’an, Al-Qamar 54:49). Ini bukan untuk membuat kita takut. Justru ini mengajarkan bahwa hidup kita berada dalam pengetahuan Allah Yang Maha Bijaksana.
Contohnya, kamu sudah belajar untuk ujian. Kamu membaca, mengulang pelajaran, dan meminta bantuan ayah atau ibu. Setelah itu, hasil ujian keluar. Jika nilaimu baik, kamu bersyukur. Jika nilaimu belum seperti yang kamu harapkan, kamu tidak putus asa. Kamu belajar lagi. Kamu tahu bahwa Allah menyukai hamba-Nya yang berusaha dan sabar.
Doa adalah memohon kepada Allah. Saat berdoa, kita mengakui bahwa kita membutuhkan Allah. Kita bisa meminta pertolongan, ampunan, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, hati yang baik, dan keselamatan. Allah berfirman bahwa Dia dekat dan mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya (Al-Qur’an, Al-Baqarah 2:186). Allah juga memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya (Al-Qur’an, Ghafir 40:60).
Contohnya, sebelum belajar kamu bisa berdoa, “Ya Allah, berilah aku ilmu yang bermanfaat.” Saat takut, kamu bisa berkata, “Ya Allah, jagalah aku.” Saat melakukan kesalahan, kamu bisa berkata, “Ya Allah, ampunilah aku.” Doa membuat hati kita ingat kepada Allah.
Mungkin kamu pernah bertanya, “Kalau Allah sudah mengetahui semuanya, mengapa kita masih berdoa?”
Pertanyaan itu bagus. Buku ini akan membantumu memahami jawabannya perlahan-lahan. Allah memang Maha Mengetahui. Tetapi Allah juga menyukai hamba yang berdoa. Doa bukan karena Allah tidak tahu. Doa adalah cara kita mendekat kepada Allah. Doa juga termasuk sebab kebaikan. Maksudnya, Allah menjadikan doa sebagai jalan agar kebaikan datang kepada hamba-Nya.
Perhatikan contoh sederhana ini. Ibu tahu kamu lapar. Tetapi ibu tetap senang ketika kamu berkata dengan sopan, “Bu, boleh aku makan?” Ucapanmu menunjukkan kebutuhan, adab, dan kedekatan. Tentu Allah tidak sama dengan makhluk. Allah Maha Sempurna. Namun contoh ini membantu kita memahami bahwa meminta dengan baik dapat menunjukkan hati yang lembut dan percaya.
Buku ini juga akan mengajarkan bahwa beriman kepada takdir tidak berarti kita diam saja. Seorang mukmin tetap berusaha. Kalau ingin pandai membaca, ia belajar. Kalau ingin sehat, ia menjaga tubuhnya. Kalau ingin menjadi anak saleh, ia belajar taat, berkata jujur, dan berbuat baik. Setelah berusaha, ia bertawakal kepada Allah.
Tawakal artinya berusaha melakukan yang baik, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Misalnya, kamu memakai helm ketika naik motor bersama orang tua. Itu usaha menjaga keselamatan. Lalu kamu berdoa agar Allah melindungi perjalananmu. Setelah itu, hatimu tenang karena kamu sudah berusaha dan berserah kepada Allah.
Di dalam buku ini, kita tidak akan terburu-buru. Kita akan belajar sedikit demi sedikit. Kita mulai dari mengenal Allah Yang Maha Pengasih. Lalu kita belajar apa itu akidah, rukun iman, takdir, usaha, doa, tawakal, sabar, dan syukur. Semuanya akan disambungkan seperti untaian manik-manik yang indah.
Jika suatu bagian terasa sulit, tidak apa-apa. Kamu boleh berhenti sebentar. Kamu boleh bertanya kepada ayah, ibu, guru, atau orang dewasa yang memahami agama Islam dengan baik. Belajar agama bukan lomba cepat-cepatan. Belajar agama adalah perjalanan untuk mengenal Allah dengan hati yang lembut.
Semoga setelah membaca buku ini, kamu dapat berkata:
“Aku beriman kepada Allah. Aku percaya kepada takdir Allah. Aku tetap berusaha. Aku berdoa kepada Allah. Aku ingin menjadi mukmin yang tenang.”
Mari kita mulai dengan nama Allah.
References
Al-Qur’an al-Karim. Ayat yang dikutip: Al-Baqarah 2:186; Al-Qamar 54:49; Ghafir 40:60.
Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Kitab al-Iman, hadis Jibril tentang iman, Islam, ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat.