Version 2 of 2

Pendahuluan

Generated Aksbel book section. · Working · Sep 09, 2026 12:24 · saved by @mujirin

Pendahuluan

Sains material berangkat dari pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi sangat dalam: mengapa suatu material memiliki sifat tertentu, dan bagaimana kita dapat mengubahnya secara terkendali? Mengapa baja dapat dibuat kuat tetapi tetap ulet? Mengapa keramik tertentu sangat tahan temperatur tinggi tetapi rapuh? Mengapa semikonduktor dapat diubah konduktivitas listriknya hanya dengan penambahan dopan dalam jumlah kecil? Mengapa cacat yang secara intuitif tampak sebagai “ketidaksempurnaan” justru dapat menjadi pusat warna, pusat luminesensi, jalur difusi cepat, atau pengendali kekuatan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya dengan menyebut nama material. “Aluminium”, “zircon”, “silikon”, “alumina”, atau “polimer” bukanlah penjelasan. Nama material hanyalah titik awal. Penjelasan ilmiah dimulai ketika kita menelusuri struktur material: bagaimana elektron tersusun, bagaimana atom berikatan, bagaimana kisi kristal terbentuk, bagaimana cacat muncul, bagaimana butir tumbuh, bagaimana antarmuka bergerak, dan bagaimana semua itu dipengaruhi oleh proses sintesis, perlakuan panas, deformasi, lingkungan, serta waktu.

Dalam buku ini, sifat material dipahami sebagai respons material terhadap suatu rangsangan atau kondisi. Jika material diberi gaya, responsnya dapat berupa deformasi elastik, deformasi plastis, retak, atau creep. Jika diberi medan listrik, responsnya dapat berupa arus listrik, polarisasi dielektrik, atau breakdown. Jika diberi cahaya, responsnya dapat berupa absorpsi, refleksi, transmisi, fotoluminesensi, atau perubahan keadaan elektronik. Dengan cara pandang ini, sifat bukan sekadar angka dalam tabel, melainkan konsekuensi dari mekanisme fisis yang bekerja pada skala tertentu.

Kerangka besar yang memandu buku ini adalah hubungan struktur–proses–sifat–kinerja. Dalam literatur sains dan rekayasa material, hubungan antara pemrosesan, struktur, sifat, dan kinerja telah lama dipakai sebagai paradigma inti untuk memahami dan merancang material (National Research Council 1989; Callister dan Rethwisch 2018). Secara konseptual, kita dapat menuliskannya sebagai

\[ \text{kinerja} \approx F(\text{komposisi},\ \text{struktur},\ \text{proses},\ \text{lingkungan},\ \text{waktu},\ \text{geometri}) \]

Persamaan ini bukan hukum universal dengan bentuk fungsi tunggal. Ia adalah peta berpikir. Komposisi menyatakan unsur atau molekul penyusun material. Struktur menyatakan susunan dan keteraturan penyusun itu pada berbagai skala. Proses menyatakan riwayat pembentukan material, misalnya sintering, casting, deposisi film tipis, deformasi plastis, atau annealing. Lingkungan mencakup temperatur, atmosfer, kelembapan, radiasi, tegangan mekanik, dan medan eksternal. Kinerja adalah kemampuan material menjalankan fungsi nyata dalam suatu aplikasi, misalnya ketahanan aus, efisiensi emisi cahaya, stabilitas termal, ketahanan korosi, atau umur fatigue. Pendekatan desain material modern juga menekankan bahwa pemilihan material harus dikaitkan dengan fungsi, batasan, geometri, proses manufaktur, dan biaya, bukan hanya satu nilai sifat tunggal (Ashby 2016).

Mengapa struktur menjadi pusat pembahasan?

Kata struktur dalam buku ini tidak hanya berarti bentuk fisik benda yang dapat dilihat oleh mata. Dalam sains material, struktur memiliki makna bertingkat.

Pada skala paling kecil, ada struktur elektronik, yaitu pengaturan elektron dalam atom, ion, molekul, atau padatan. Struktur elektronik menentukan jenis ikatan dan energi ikatan. Misalnya, ikatan logam yang memiliki elektron terdelokalisasi menjelaskan mengapa banyak logam memiliki konduktivitas listrik tinggi, sedangkan ikatan kovalen kuat dalam jaringan tiga dimensi menjelaskan kekakuan tinggi pada material seperti intan. Pembahasan hubungan antara ikatan atom, struktur elektronik, dan sifat dasar material merupakan fondasi standar dalam sains material (Callister dan Rethwisch 2018).

Pada skala atomik, ada struktur kristal, yaitu susunan atom atau ion yang berulang secara periodik dalam ruang. Struktur kristal bukan sekadar “pola cantik”; ia menentukan arah mana yang rapat atomnya, bidang mana yang mudah menjadi bidang slip, bagaimana gelombang elastik merambat, dan bagaimana sinar-X, neutron, atau elektron terdifraksi. Karena itu, kristalografi menjadi bahasa yang diperlukan untuk membaca struktur material. Dalam kristalografi, istilah seperti kisi, basis, sel satuan, simetri, indeks Miller, dan grup ruang digunakan untuk menyatakan keteraturan atomik secara presisi. Hubungan antara simetri struktur dan anisotropi sifat—yaitu ketergantungan sifat pada arah—dibahas secara sistematis dalam literatur struktur dan sifat material (Newnham 2005).

Pada skala yang sedikit lebih besar, ada cacat kristal. Cacat bukan berarti material “gagal”; cacat berarti adanya penyimpangan dari keteraturan ideal. Contohnya adalah vakansi, atom interstisial, atom substitusi, dislokasi, stacking fault, batas butir, dan antarmuka fasa. Cacat-cacat ini dapat mengubah sifat secara dramatis. Satu jenis cacat titik dapat mengubah warna kristal. Dislokasi memungkinkan logam mengalami deformasi plastis pada tegangan jauh lebih rendah daripada kekuatan geser kristal ideal. Batas butir dapat memperkuat material, mempercepat difusi, atau menjadi lokasi awal korosi. Teori dislokasi, misalnya, menjadi landasan untuk memahami plastisitas kristal dan mekanisme penguatan logam (Hull dan Bacon 2011).

Pada skala mikro hingga meso, ada mikrostruktur. Mikrostruktur adalah susunan fasa, butir, pori, presipitat, tekstur, retak mikro, dan antarmuka yang biasanya diamati dengan mikroskop optik, SEM, TEM, EBSD, atau teknik karakterisasi lain. Dua material dengan komposisi kimia sama dapat memiliki sifat sangat berbeda karena mikrostrukturnya berbeda. Baja dengan ukuran butir halus, distribusi presipitat tertentu, dan riwayat perlakuan panas tertentu tidak memiliki sifat yang sama dengan baja berkomposisi sama tetapi berbutir kasar dan mengandung fasa berbeda. Inilah alasan diagram fasa, difusi, kinetika transformasi, dan pemrosesan mikrostruktur menjadi bagian penting dari buku ini. Evolusi fasa dan mikrostruktur akibat transformasi termal maupun difusional dibahas luas dalam kerangka transformasi fasa modern (Porter, Easterling, dan Sherif 2009).

Dari material sebagai benda menuju material sebagai sistem

Dalam penggunaan sehari-hari, material sering dianggap sebagai benda pasif: sepotong logam, bubuk keramik, film tipis, kristal semikonduktor, atau polimer padat. Dalam buku ini, material dipandang sebagai sistem fisis. Sistem fisis adalah bagian dari alam yang kita batasi untuk dianalisis menggunakan besaran, hukum, model, dan pengukuran. Material sebagai sistem fisis memiliki energi, entropi, komposisi, struktur, cacat, antarmuka, dan respons terhadap lingkungan.

Cara pandang ini penting karena material tidak “memiliki” sifat secara mutlak. Sifat selalu terkait dengan kondisi pengukuran. Modulus elastik diukur pada rezim deformasi kecil. Konduktivitas listrik bergantung pada temperatur, konsentrasi pembawa muatan, dan hamburan. Luminesensi bergantung pada panjang gelombang eksitasi, pusat aktivator, cacat perangkap, transfer energi, dan quenching. Ketangguhan retak bergantung pada geometri retak, laju pembebanan, temperatur, dan mikrostruktur. Karena itu, pada tingkat doktoral, pernyataan seperti “material A lebih baik daripada material B” belum cukup. Pertanyaan yang lebih ilmiah adalah: lebih baik untuk fungsi apa, pada lingkungan apa, dalam rentang waktu apa, dengan mekanisme pembatas apa, dan berdasarkan bukti karakterisasi apa?

Sebagai contoh, ambil material keramik. Keramik sering dikenal keras dan tahan temperatur tinggi. Namun pernyataan ini terlalu umum. Alumina, zirconia, silikon karbida, zircon, dan berbagai fosfor keramik memiliki struktur kristal, ikatan, cacat, dan respons fisis yang berbeda. Keramik yang baik untuk isolator termal belum tentu baik untuk komponen optik. Keramik yang cocok sebagai matriks luminesen belum tentu cocok sebagai material struktural penahan beban. Perbedaannya tidak hanya terletak pada komposisi, tetapi pada struktur kristal, kemurnian fasa, ukuran butir, porositas, dopan, cacat, dan proses pembentukannya.

Contoh lain muncul pada semikonduktor. Silikon intrinsik memiliki konsentrasi pembawa muatan yang berbeda dari silikon yang didoping. Penambahan dopan bukan sekadar “menambahkan impuritas”; dopan menciptakan tingkat energi dan mengubah konsentrasi elektron atau lubang. Namun efek dopan tidak dapat dipahami tanpa struktur pita energi, keadaan cacat, antarmuka, dan temperatur. Dengan demikian, sifat listrik bukan hanya sifat kimia, melainkan sifat fisis yang muncul dari struktur elektronik dan struktur kristal.

Mengapa buku ini dimulai dari ikatan atom?

Buku ini disusun dari bawah ke atas. Kita mulai dari ikatan atom bukan karena semua masalah material dapat diselesaikan hanya dengan mekanika kuantum sederhana, tetapi karena ikatan memberikan asal-usul banyak besaran fisis: energi kohesi, panjang ikatan, modulus elastik, temperatur lebur, konduktivitas listrik, respons optik, dan stabilitas struktur.

Ikatan atom adalah interaksi yang membuat atom-atom berada bersama dalam keadaan energi lebih rendah dibandingkan jika terpisah jauh. Jika dua atom saling mendekat, energi potensial totalnya berubah karena adanya tarik-menarik dan tolak-menolak. Jarak kesetimbangan muncul ketika gaya total nol dan energi potensial minimum. Kelengkungan kurva energi potensial di sekitar minimum berkaitan dengan kekakuan ikatan; secara konseptual, ikatan yang kurva energinya lebih curam biasanya menghasilkan modulus elastik yang lebih tinggi. Hubungan kualitatif antara energi ikatan, jarak antaratom, dan sifat elastik dibahas dalam buku teks sains material klasik (Callister dan Rethwisch 2018).

Dari ikatan, kita bergerak ke struktur kristal. Dari struktur kristal, kita bergerak ke simetri dan bidang kristalografi. Dari bidang kristalografi, kita memahami difraksi dan deformasi. Dari cacat, kita memahami difusi, plastisitas, luminesensi, dan konduksi. Dari termodinamika dan kinetika, kita memahami mengapa fasa terbentuk dan bagaimana mikrostruktur berevolusi. Dari mikrostruktur, kita kembali ke sifat dan kinerja.

Dengan kata lain, buku ini tidak disusun sebagai kumpulan topik terpisah. Setiap bab adalah simpul dalam satu jaringan argumen:

  1. Ikatan menentukan kecenderungan struktur.
  2. Struktur menentukan kemungkinan cacat dan anisotropi.
  3. Cacat dan antarmuka menentukan jalur transport, deformasi, dan transformasi.
  4. Proses menentukan populasi cacat, fasa, ukuran butir, tekstur, dan porositas.
  5. Mikrostruktur menentukan sifat terukur.
  6. Sifat menentukan batas kinerja dalam aplikasi nyata.

Peran karakterisasi: melihat, mengukur, dan menafsirkan

Dalam penelitian material, kita tidak cukup mengatakan bahwa suatu struktur “mungkin” terbentuk. Kita harus menunjukkan bukti. Karakterisasi adalah proses memperoleh informasi tentang struktur, komposisi, cacat, fasa, dan sifat material melalui teknik eksperimen. Difraksi sinar-X dapat mengidentifikasi fasa kristalin dan parameter kisi. SEM dapat menampilkan morfologi permukaan dan mikrostruktur. TEM dapat mengungkap cacat, presipitat, dan struktur pada skala nanometer. EDS dan WDS membantu menganalisis komposisi unsur. EBSD memberi informasi orientasi kristal dan tekstur. XPS dapat memberi informasi kimia permukaan. Raman dan FTIR dapat mendeteksi mode vibrasi dan ikatan tertentu. Spektroskopi fotoluminesensi mengukur emisi cahaya akibat transisi elektronik.

Namun karakterisasi bukan sekadar menghasilkan gambar atau spektrum. Data harus ditafsirkan dengan model yang benar. Puncak difraksi sinar-X, misalnya, tidak otomatis berarti “material murni”; puncak minor dapat tersembunyi, fasa amorf mungkin tidak tampak kuat, dan pelebaran puncak dapat berasal dari ukuran kristalit, regangan mikro, atau instrumen. Dasar difraksi sinar-X, termasuk hukum Bragg, faktor struktur, dan pelebaran puncak, dibahas secara klasik oleh Cullity dan Stock (2001). Karena itu, salah satu tujuan buku ini adalah melatih pembaca untuk membaca data karakterisasi sebagai bukti ilmiah, bukan sebagai dekorasi hasil penelitian.

Pada tingkat doktoral, karakterisasi juga harus dikaitkan dengan pertanyaan penelitian. Jika pertanyaannya adalah apakah dopan masuk ke kisi atau membentuk fasa sekunder, maka difraksi saja mungkin belum cukup; perlu kombinasi analisis parameter kisi, spektroskopi, mikroskopi, dan mungkin pemodelan. Jika pertanyaannya adalah apakah peningkatan kekerasan berasal dari ukuran butir atau presipitasi, maka data kekerasan harus dikaitkan dengan ukuran butir, fasa, distribusi presipitat, dan mekanisme deformasi. Jika pertanyaannya adalah mengapa intensitas luminesensi menurun pada konsentrasi dopan tinggi, maka perlu mempertimbangkan quenching konsentrasi, cacat perangkap, jarak antaraktivator, dan transfer energi.

Termodinamika dan kinetika: stabil atau sempat terbentuk?

Dua kata kunci yang akan berulang dalam buku ini adalah termodinamika dan kinetika. Termodinamika menjawab pertanyaan tentang kemungkinan dan stabilitas: keadaan mana yang memiliki energi bebas lebih rendah, fasa mana yang stabil pada temperatur dan komposisi tertentu, serta apakah suatu transformasi memiliki gaya pendorong. Kinetika menjawab pertanyaan tentang laju dan jalur: seberapa cepat atom berdifusi, seberapa cepat nukleus fasa baru tumbuh, apakah transformasi terhambat oleh energi aktivasi, dan apakah keadaan metastabil dapat bertahan lama.

Perbedaan ini sangat penting. Suatu fasa mungkin tidak stabil secara termodinamika pada temperatur kamar, tetapi tetap ada karena transformasinya sangat lambat. Sebaliknya, suatu fasa mungkin stabil secara termodinamika, tetapi tidak terbentuk selama proses sintesis karena atom tidak memiliki mobilitas cukup atau jalur transformasinya terhambat. Dalam transformasi fasa, konsep nukleasi, pertumbuhan, difusi, dan energi antarmuka diperlukan untuk menjelaskan mengapa mikrostruktur tertentu muncul dalam riwayat proses tertentu (Porter, Easterling, dan Sherif 2009).

Contoh sederhana adalah pendinginan cepat. Jika lelehan didinginkan perlahan, atom memiliki waktu untuk berdifusi dan membentuk fasa kesetimbangan. Jika didinginkan sangat cepat, struktur metastabil, gelas, martensit, atau mikrostruktur halus dapat terbentuk bergantung pada sistem materialnya. Di sini, struktur akhir bukan hanya akibat komposisi, tetapi akibat kompetisi antara gaya pendorong termodinamika dan hambatan kinetik.

Mengapa cacat perlu dipelajari secara serius?

Pada pandangan pertama, kristal ideal tampak sebagai objek utama kristalografi. Namun material nyata hampir selalu mengandung cacat. Pada banyak kasus, sifat penting justru dikendalikan oleh cacat.

Vakansi memungkinkan difusi substitusional. Atom interstisial dapat memperkuat logam atau mengubah sifat listrik. Dislokasi mengendalikan deformasi plastis. Batas butir dapat menjadi penghalang gerak dislokasi, tetapi juga jalur difusi cepat. Cacat permukaan dapat menjadi lokasi adsorpsi, oksidasi, atau inisiasi korosi. Dalam material luminesen, pusat aktivator dan cacat perangkap dapat menentukan panjang gelombang emisi, intensitas, waktu hidup, dan afterglow. Dalam semikonduktor, cacat dapat bertindak sebagai donor, akseptor, pusat rekombinasi, atau perangkap pembawa muatan.

Karena itu, buku ini tidak memperlakukan cacat sebagai lampiran setelah struktur ideal. Cacat adalah bagian inti dari struktur material. Teori dislokasi, misalnya, menjelaskan mengapa kristal logam dapat dideformasi secara plastis melalui gerak garis cacat, bukan melalui pergeseran serentak seluruh bidang atom (Hull dan Bacon 2011). Konsep ini menjadi dasar untuk memahami work hardening, solid solution strengthening, precipitation hardening, dan grain refinement pada bab-bab berikutnya.

Material nyata: dari zircon hingga material superkeras

Buku ini akan berulang kali menghubungkan teori dengan material nyata. Hal ini penting karena sains material bukan hanya ilmu tentang struktur ideal, tetapi juga ilmu tentang material yang disintesis, diproses, dikarakterisasi, dan digunakan.

Zircon \(\mathrm{ZrSiO_4}\), misalnya, dapat dibahas sebagai keramik silikat dengan struktur kristal tertentu, respons termal tertentu, dan kemungkinan peran sebagai matriks atau material fungsional. Material luminesen memerlukan pemahaman tentang struktur kristal, dopan, pusat aktivator, cacat, transfer energi, dan interaksi cahaya–material. Material superkeras menghubungkan ikatan kuat, struktur kristal, densitas elektron, mikrostruktur, cacat, dan mekanisme deformasi. Logam dan paduan menonjolkan peran dislokasi, presipitasi, tekstur, dan transformasi fasa. Polimer menuntut perhatian pada rantai molekul, kristalinitas, transisi gelas, dan viskoelastisitas. Semikonduktor mempertemukan struktur pita, dopan, cacat, dan antarmuka elektronik.

Dengan contoh-contoh tersebut, pembaca diharapkan tidak hanya menghafal kategori material, tetapi mampu mengajukan pertanyaan struktur–sifat yang tajam. Misalnya:

  • Struktur kristal apa yang memungkinkan sifat ini muncul?
  • Cacat apa yang paling mungkin mengendalikan respons fisis?
  • Apakah sifat yang diukur berasal dari bulk, batas butir, permukaan, atau fasa minor?
  • Proses mana yang mengubah ukuran butir, porositas, tekstur, atau distribusi dopan?
  • Karakterisasi apa yang dapat membedakan dua mekanisme yang bersaing?
  • Apakah interpretasi data konsisten dengan termodinamika dan kinetika sistem?

Pertanyaan seperti ini adalah inti pembelajaran tingkat doktoral.

Dari eksperimen menuju desain berbasis data dan simulasi

Sains material modern semakin bergerak menuju integrasi eksperimen, teori, komputasi, dan data. Simulasi berbasis teori fungsi kerapatan dapat memperkirakan struktur elektronik dan energi relatif. Dinamika molekul dapat menelusuri gerak atom pada skala waktu tertentu. Model phase-field dapat menggambarkan evolusi mikrostruktur. Pembelajaran mesin dapat membantu menemukan pola dalam ruang komposisi dan proses yang sangat besar. Inisiatif Materials Genome menekankan percepatan penemuan dan penerapan material melalui integrasi komputasi, eksperimen, dan data digital (National Science and Technology Council 2011).

Namun pendekatan berbasis data tidak menggantikan pemahaman fisis. Model pembelajaran mesin yang memprediksi sifat tanpa memahami struktur dapat berguna secara praktis, tetapi mudah menyesatkan jika data bias, ruang komposisi sempit, atau variabel proses tidak tercatat. Sebaliknya, pengetahuan tentang ikatan, kristalografi, cacat, termodinamika, dan mikrostruktur membantu kita memilih fitur yang bermakna, menilai kewajaran prediksi, dan merancang eksperimen validasi. Karena itu, bab terakhir buku ini tidak berdiri terpisah dari bab-bab awal; ia justru menggabungkan semua konsep fundamental untuk membangun strategi desain material.

Cara berpikir yang diharapkan dari pembaca

Buku ini ditujukan untuk pembaca tingkat lanjut, khususnya S3 atau doktoral, tetapi tetap membangun istilah dari awal agar kerangka berpikirnya konsisten. Pada tingkat ini, tujuan belajar bukan hanya mampu menyelesaikan soal, melainkan mampu membangun argumen ilmiah yang dapat diuji.

Argumen ilmiah dalam sains material biasanya memiliki bentuk seperti ini:

“Proses tertentu menghasilkan struktur tertentu; struktur tersebut mengubah mekanisme tertentu; mekanisme tersebut menjelaskan sifat yang terukur; bukti karakterisasi mendukung hubungan tersebut; alternatif penjelasan telah dipertimbangkan.”

Sebagai contoh, pernyataan “sintering pada temperatur lebih tinggi meningkatkan kekerasan” masih belum cukup. Argumen yang lebih kuat adalah: sintering pada temperatur lebih tinggi menurunkan porositas dan meningkatkan ikatan antarpartikel; penurunan porositas mengurangi konsentrasi cacat makroskopik yang menjadi lokasi konsentrasi tegangan; densifikasi tersebut terkonfirmasi oleh pengukuran densitas dan citra mikrostruktur; peningkatan kekerasan berkorelasi dengan densifikasi, tetapi perlu dipisahkan dari kemungkinan pertumbuhan butir atau perubahan fasa. Argumen kedua lebih ilmiah karena menghubungkan proses, struktur, mekanisme, data, dan sifat.

Demikian pula, pernyataan “doping meningkatkan luminesensi” harus diperjelas. Doping apa? Masuk ke situs kristal mana? Mengubah keadaan oksidasi apa? Membentuk pusat aktivator atau fasa sekunder? Apakah ada konsentrasi optimum? Apakah terjadi quenching pada konsentrasi tinggi? Apakah spektrum eksitasi dan emisi konsisten dengan transisi elektronik yang diusulkan? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa pemahaman struktur adalah syarat untuk menafsirkan sifat optik secara bertanggung jawab.

Peta perjalanan buku

Bab 1 akan membangun paradigma struktur–proses–sifat–kinerja secara eksplisit. Bab 2 hingga Bab 8 membentuk fondasi struktur: ikatan atom, termodinamika, struktur kristal, simetri, indeks Miller, difraksi, dan karakterisasi. Bab 9 hingga Bab 12 membahas cacat dan difusi, yaitu mekanisme yang membuat material nyata berbeda dari kristal ideal. Bab 13 hingga Bab 15 membahas diagram fasa, transformasi, dan pemrosesan mikrostruktur. Bab 16 hingga Bab 22 menghubungkan struktur dengan sifat mekanik, termal, listrik, magnetik, optik, permukaan, korosi, dan tribologi. Bab 23 mengintegrasikan konsep pada keluarga material nyata. Bab 24 menutup dengan perancangan material berbasis data, simulasi, dan studi kasus penelitian.

Urutan ini sengaja dibuat kumulatif. Ketika nanti membahas kekuatan luluh, kita akan kembali ke dislokasi dan batas butir. Ketika membahas konduktivitas termal, kita akan kembali ke phonon, cacat, dan hamburan pada antarmuka. Ketika membahas luminesensi, kita akan kembali ke struktur elektronik, dopan, dan cacat. Ketika membahas korosi, kita akan kembali ke permukaan, antarmuka, energi bebas, dan transport ion. Dengan demikian, setiap bab bukan ruang tertutup, melainkan bagian dari satu peta konseptual.

Tujuan akhir buku ini adalah agar pembaca mampu melihat material bukan sebagai daftar nama dan sifat, melainkan sebagai sistem berstruktur yang dapat dianalisis, diukur, dimodelkan, dan dirancang. Jika setelah membaca buku ini pembaca mulai bertanya, “struktur apa yang bertanggung jawab atas sifat ini?” dan “proses apa yang dapat mengubah struktur itu secara terkendali?”, maka tujuan utama pendahuluan ini telah tercapai.

References

Ashby, M. F. 2016. Materials Selection in Mechanical Design. 5th ed. Oxford: Butterworth-Heinemann.

Callister, W. D., Jr., and D. G. Rethwisch. 2018. Materials Science and Engineering: An Introduction. 10th ed. Hoboken, NJ: Wiley.

Cullity, B. D., and S. R. Stock. 2001. Elements of X-Ray Diffraction. 3rd ed. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.

Hull, D., and D. J. Bacon. 2011. Introduction to Dislocations. 5th ed. Oxford: Butterworth-Heinemann.

National Research Council. 1989. Materials Science and Engineering for the 1990s: Maintaining Competitiveness in the Age of Materials. Washington, DC: National Academies Press.

National Science and Technology Council. 2011. Materials Genome Initiative for Global Competitiveness. Washington, DC: Executive Office of the President of the United States.

Newnham, R. E. 2005. Properties of Materials: Anisotropy, Symmetry, Structure. Oxford: Oxford University Press.

Porter, D. A., K. E. Easterling, and M. Y. Sherif. 2009. Phase Transformations in Metals and Alloys. 3rd ed. Boca Raton, FL: CRC Press.

τ TheoryTrace