Back to 4
Author @mujirin Verifier - Public Public AI enabled

Apa Maksud “Terlalu Statis”?

Dalam kalimat itu, frasa “terlalu statis” dipakai untuk menjelaskan keterbatasan kata “sejahtera” ketika dibandingkan dengan istilah flourishing. Maksudnya bukan bahwa kata sejahtera salah, buruk, atau tidak penting. Justru dalam konteks kesehatan dan kehidupan baik, “sejahtera” adalah kata yang kuat. World Health Organization, misalnya, mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial, bukan sekadar ketiadaan penyakit atau kelemahan [World Health Organization 2020]. Jadi, buku ini tidak menolak kata “sejahtera”.

Yang ingin dikatakan adalah: “sejahtera” kadang terdengar seperti keadaan yang sudah tercapai dan relatif diam, sedangkan flourishing menekankan kehidupan yang sedang tumbuh, bergerak, matang, dan berkembang.

Bayangkan sebuah foto dan sebuah tanaman. Kata “sejahtera” kadang terasa seperti foto: seseorang berada dalam kondisi cukup aman, cukup sehat, cukup terpenuhi. Itu penting. Namun flourishing lebih mirip tanaman hidup: ia tidak hanya “baik-baik saja”, tetapi juga berakar, bertumbuh, menyesuaikan diri dengan musim, menghasilkan buah, dan terus memerlukan perawatan. Inilah yang dimaksud oleh penulis ketika mengatakan “sejahtera” kadang terdengar terlalu statis.

Statis Berarti Terlihat Diam, Tetap, atau Selesai

Secara sederhana, statis berarti tidak banyak bergerak, tidak berubah, atau tampak tetap. Dalam konteks ini, “terlalu statis” berarti kata “sejahtera” bisa terdengar seolah-olah hidup baik adalah sebuah keadaan tetap: cukup uang, cukup sehat, cukup aman, tidak ada masalah besar, lalu selesai.

Padahal, dalam gagasan flourishing, hidup baik bukan hanya kondisi yang “aman” atau “nyaman”. Hidup baik juga mencakup arah, pertumbuhan, relasi, makna, daya hidup, dan kontribusi. Seseorang bisa tampak sejahtera dari luar—punya pekerjaan, rumah, penghasilan, dan tubuh yang tidak sakit—tetapi di dalam dirinya merasa kosong, kehilangan arah, tidak bertumbuh, atau terputus dari orang lain. Dalam bahasa Corey Keyes, seseorang dapat tidak mengalami gangguan mental klinis, tetapi tetap berada dalam keadaan languishing: hidup terasa redup, kurang bermakna, dan kurang berdaya [Keyes 2002].

Karena itu, buku ini memilih mempertahankan istilah flourishing sambil menjelaskannya sebagai kehidupan yang berkembang secara utuh. Kata “berkembang” menambahkan unsur gerak yang mungkin kurang terasa dalam kata “sejahtera”.

Mengapa “Sejahtera” Belum Cukup untuk Maksud Buku Ini?

Kata “sejahtera” sering dipahami sebagai keadaan hidup yang baik: kebutuhan dasar terpenuhi, tubuh relatif sehat, relasi tidak hancur, dan hidup terasa cukup aman. Ini bukan makna yang keliru. Bahkan dalam kebijakan publik, kesehatan, dan pembangunan sosial, “kesejahteraan” adalah istilah yang penting.

Namun buku ini sedang membahas lebih dari sekadar keadaan “cukup baik”. Buku ini ingin bertanya: apakah hidup sedang bertumbuh ke arah yang lebih manusiawi? Apakah tubuh punya ruang pulih? Apakah perhatian masih bisa hadir? Apakah relasi makin dalam? Apakah pekerjaan memberi kontribusi? Apakah seseorang makin mengenal nilai-nilai yang ingin ia hidupi?

Di sinilah “sejahtera” bisa terasa kurang bergerak. Ia dapat terdengar seperti hasil akhir: saya sudah sejahtera. Sedangkan flourishing lebih terdengar seperti proses: saya sedang bertumbuh, merawat hidup, memperdalam relasi, dan mengarahkan diri pada makna.

Carol Ryff membantu memperjelas hal ini melalui konsep psychological well-being. Ia menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis bukan hanya rasa senang, melainkan mencakup penerimaan diri, relasi positif, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi [Ryff 1989]. Dimensi “pertumbuhan pribadi” dan “tujuan hidup” menunjukkan bahwa hidup baik memiliki unsur dinamis. Orang bukan hanya berada dalam kondisi nyaman, tetapi juga sedang menjadi pribadi yang lebih matang.

Contoh Konkret: Sejahtera tetapi Tidak Flourishing

Misalnya, seseorang memiliki pekerjaan tetap, gaji cukup, rumah nyaman, dan tidak sedang sakit berat. Dalam bahasa sehari-hari, ia mungkin disebut sejahtera. Tetapi setiap hari ia merasa dikejar, tidak punya waktu untuk keluarga, kehilangan rasa ingin tahu, tidak pernah belajar hal baru, dan merasa hidupnya hanya mengulang kewajiban. Ia aman, tetapi tidak bertumbuh. Ia berfungsi, tetapi tidak hidup dengan penuh.

Contoh ini menunjukkan mengapa penulis berhati-hati memakai kata “sejahtera”. Kata itu mungkin menangkap sisi stabilitas, tetapi belum tentu menangkap sisi pertumbuhan.

Sebaliknya, seseorang yang sedang menghadapi tantangan hidup belum tentu gagal flourishing. Ia mungkin belum nyaman secara sempurna, tetapi memiliki relasi yang menopang, tujuan yang jelas, kebiasaan pulih yang sehat, kemampuan belajar dari kesulitan, dan keberanian memperbaiki hidup sedikit demi sedikit. Dalam kerangka buku ini, orang semacam itu bisa lebih dekat dengan flourishing daripada orang yang tampak mapan tetapi batinnya mati rasa.

Ini penting: flourishing bukan berarti hidup sempurna. Ia bukan kehidupan tanpa sedih, tanpa stres, tanpa konflik, atau tanpa beban. Flourishing lebih tepat dipahami sebagai kehidupan yang memiliki kondisi cukup baik untuk terus bertumbuh secara utuh.

Hubungannya dengan Tema “Ritme Lambat”

Frasa “terlalu statis” juga cocok dengan tema besar buku: tempo hidup. Buku ini tidak hanya bertanya apakah seseorang “baik-baik saja”, tetapi apakah ritme hidupnya mendukung pertumbuhan. Jika hidup terlalu cepat, seseorang mungkin tetap produktif secara luar, tetapi kehilangan ruang untuk memulihkan tubuh, memperhatikan batin, merawat relasi, dan memikirkan arah hidup.

Dengan kata lain, buku ini ingin menggeser perhatian dari pertanyaan yang terlalu sempit:

“Apakah saya tidak sakit?”

menuju pertanyaan yang lebih dalam:

“Apakah hidup saya memiliki ritme yang memungkinkan saya bertumbuh?”

Kata “sejahtera” kadang menjawab pertanyaan pertama: apakah kondisi saya cukup baik? Tetapi flourishing menjawab pertanyaan kedua: apakah hidup saya sedang berkembang secara sehat, bermakna, dan berkelanjutan?

Batas Penafsiran Ini

Perlu dicatat bahwa kesan “terlalu statis” adalah penilaian bahasa dalam konteks buku ini, bukan kebenaran mutlak tentang kata “sejahtera”. Dalam banyak tulisan akademik dan kebijakan kesehatan, “kesejahteraan” dapat dipakai secara luas dan dinamis. Bahkan istilah Inggris well-being sering mencakup dimensi emosional, psikologis, sosial, dan perkembangan diri [Keyes 2002; Ryff 1989]. Jadi, yang sedang dilakukan penulis bukan membuktikan bahwa “sejahtera” selalu statis, melainkan menjelaskan mengapa untuk tujuan buku ini, kata tersebut terasa belum cukup.

Pilihan kata flourishing dipakai karena ia membawa nuansa yang lebih hidup: seperti bunga yang mekar, pohon yang bertumbuh, atau manusia yang makin utuh. Maka “terlalu statis” berarti: kata “sejahtera” kadang terlalu menekankan keadaan baik yang sudah ada, sementara buku ini ingin menekankan proses hidup yang terus bertumbuh, pulih, berelasi, bermakna, dan berkontribusi.

References

Keyes, C. L. M. (2002). The mental health continuum: From languishing to flourishing in life. Journal of Health and Social Behavior, 43(2), 207–222. https://doi.org/10.2307/3090197

Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069–1081. https://doi.org/10.1037/0022-3514.57.6.1069

World Health Organization. (2020). Basic Documents (49th ed.). World Health Organization.

τ TheoryTrace