Determinisme: Ketika Sebab Dianggap Terlalu Sederhana
Dalam kalimat “Tetapi pemahaman evolusi harus dibedakan dari determinisme biologis,” kata determinisme menunjuk pada cara berpikir yang menganggap bahwa suatu hal sudah “ditentukan” secara pasti oleh satu sumber penyebab. Dalam konteks ini, yang sedang dibahas adalah determinisme biologis: pandangan bahwa sifat sosial, moral, intelektual, atau politik manusia ditentukan secara langsung oleh biologi—misalnya oleh gen, otak, hormon, ras, jenis kelamin, atau warisan evolusioner.
Penjelasan semacam itu tampak sederhana dan meyakinkan, tetapi justru karena terlalu sederhana ia berbahaya secara ilmiah. Antropologi modern tidak menolak bahwa manusia adalah makhluk biologis. Tubuh, otak, sistem saraf, hormon, kapasitas bahasa, kebutuhan makan, reproduksi, usia, penyakit, dan kematian semuanya nyata secara biologis. Namun antropologi menolak gagasan bahwa biologi secara langsung dan tunggal menentukan cara manusia berpikir, bermoral, berpolitik, bekerja, berkeluarga, atau membangun kebudayaan.
Arti umum determinisme
Secara umum, determinisme adalah pandangan bahwa suatu peristiwa atau keadaan terjadi karena sudah ditentukan oleh sebab-sebab sebelumnya. Dalam filsafat, determinisme sering dibahas sebagai gagasan bahwa jika seluruh keadaan awal dan hukum alam diketahui, maka masa depan dapat diprediksi sepenuhnya. Tetapi dalam ilmu-ilmu sosial, kata ini sering dipakai lebih longgar: suatu penjelasan disebut deterministik ketika ia menganggap satu faktor sebagai penentu utama yang hampir tidak memberi ruang bagi sejarah, pilihan, kebudayaan, lingkungan, kebetulan, atau perubahan.
Misalnya, jika seseorang berkata, “Kelompok manusia tertentu miskin karena sifat biologis mereka,” itu adalah contoh cara berpikir deterministik-biologis. Penjelasan seperti ini melompat terlalu cepat dari tubuh ke nasib sosial. Ia mengabaikan sejarah kolonialisme, akses pendidikan, ketimpangan tanah, kebijakan negara, diskriminasi, jaringan ekonomi, bahasa, gender, dan berbagai kondisi sosial lain yang membentuk kehidupan manusia.
Dalam antropologi, keberatan terhadap determinisme bukan berarti semua hal bebas dari sebab. Antropologi tetap mencari sebab, pola, dan hubungan. Bedanya, antropologi biasanya memahami sebab sebagai majemuk, berlapis, dan kontekstual. Suatu praktik manusia jarang dapat dijelaskan hanya dengan satu penyebab.
Evolusi bukan determinisme biologis
Bagian induk dokumen sedang menjelaskan evolusi manusia. Di sini penting sekali membedakan dua hal. Evolusi adalah teori ilmiah tentang perubahan sifat-sifat yang diwariskan dalam populasi dari generasi ke generasi. Darwin menjelaskan salah satu mekanismenya, yaitu seleksi alam: variasi yang membantu organisme bertahan hidup dan bereproduksi dalam kondisi tertentu dapat menjadi lebih umum dalam populasi [Darwin 1859].
Namun teori evolusi tidak berkata bahwa perilaku sosial manusia hari ini ditentukan secara sederhana oleh gen. Evolusi menjelaskan asal-usul kapasitas biologis manusia, tetapi kapasitas itu selalu berkembang dan dipakai dalam lingkungan sosial tertentu. Manusia memiliki kapasitas biologis untuk belajar bahasa, tetapi bahasa apa yang ia kuasai—Indonesia, Jawa, Bugis, Inggris, Arab, Mandarin, atau bahasa isyarat—ditentukan oleh lingkungan sosial tempat ia tumbuh. Tubuh manusia memungkinkan makan, tetapi apa yang dianggap makanan enak, pantas, suci, haram, sehat, atau mewah dipelajari melalui kebudayaan.
Jadi, biologi memberi kemungkinan, batas, dan kecenderungan tertentu, tetapi tidak dengan sendirinya menentukan bentuk sosial yang spesifik. Inilah inti perbedaan antara mengakui evolusi dan jatuh ke dalam determinisme biologis.
Contoh: tubuh biologis dan makna sosial
Ambil contoh jenis kelamin dan gender. Manusia memiliki dimensi biologis seperti kromosom, hormon, organ reproduksi, dan ciri tubuh tertentu. Tetapi pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, aturan berpakaian, harapan tentang kepemimpinan, cara mengasuh anak, atau makna “maskulin” dan “feminin” tidak dapat dibaca langsung dari biologi. Semua itu dibentuk oleh sejarah, agama, ekonomi, hukum, keluarga, pendidikan, media, dan konflik sosial.
Contoh lain adalah kecerdasan. Otak jelas merupakan organ biologis yang penting bagi belajar. Tetapi prestasi sekolah seseorang tidak bisa dijelaskan hanya dari gen atau ukuran otak. Ia juga dipengaruhi oleh gizi, kesehatan masa kecil, bahasa yang digunakan di rumah dan sekolah, kualitas guru, keamanan lingkungan, kelas sosial, rasisme, motivasi, waktu belajar, dan cara masyarakat mendefinisikan “cerdas”. Kritik terhadap pengukuran kecerdasan yang terlalu biologis telah lama menjadi bagian dari perdebatan ilmu sosial dan biologi manusia [Gould 1981; Lewontin, Rose, and Kamin 1984].
Dengan kata lain, determinisme biologis sering keliru karena mengambil sesuatu yang memang memiliki aspek biologis, lalu menyimpulkan bahwa aspek biologis itulah penentu langsung dan utama. Padahal hubungan antara tubuh dan kehidupan sosial biasanya melewati proses perkembangan, pembelajaran, institusi, simbol, dan kekuasaan.
Mengapa antropologi menolak penyederhanaan ini?
Penolakan antropologi terhadap determinisme biologis memiliki sejarah panjang. Franz Boas, salah satu tokoh penting antropologi modern, menentang gagasan bahwa perbedaan ras dapat dipakai untuk menjelaskan tingkat kebudayaan atau kemampuan moral dan intelektual suatu kelompok secara sederhana. Ia menekankan pentingnya sejarah, bahasa, lingkungan, dan kebudayaan dalam memahami variasi manusia [Boas 1940; Stocking 1968].
Penolakan ini bukan hanya masalah teori, tetapi juga masalah etika dan politik. Determinisme biologis sering dipakai untuk membenarkan ketimpangan. Jika kemiskinan, penjajahan, perbudakan, subordinasi perempuan, atau diskriminasi ras dianggap akibat “kodrat biologis”, maka struktur sosial yang tidak adil tampak seolah-olah alamiah. Antropologi justru bertanya: siapa yang menyebut sesuatu sebagai kodrat? Dalam konteks sejarah apa klaim itu muncul? Siapa yang diuntungkan jika ketimpangan dianggap alami?
Namun kita juga harus hati-hati. Menolak determinisme biologis tidak berarti menolak biologi. Antropologi biologis tetap mempelajari fosil hominin, variasi manusia, adaptasi, genetika populasi, primata, penyakit, pertumbuhan, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Yang ditolak adalah lompatan dari “ada dasar biologis” menjadi “semuanya sudah ditentukan oleh biologi.”
Cara membaca klaim deterministik
Jika dalam sebuah teks muncul kalimat seperti “manusia melakukan X karena gen,” “perempuan secara alami selalu Y,” atau “kelompok tertentu secara biologis lebih Z,” pembaca antropologi perlu memperlambat penilaian. Pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah biologi berperan, tetapi bagaimana biologi berperan, melalui mekanisme apa, dalam kondisi sosial apa, dan dengan bukti apa.
Klaim yang lebih hati-hati biasanya berbunyi seperti ini: “Faktor biologis tertentu dapat memengaruhi kemungkinan perilaku tertentu, tetapi pengaruh itu dimediasi oleh perkembangan, lingkungan, pembelajaran, sejarah, dan kebudayaan.” Rumusan seperti ini memang lebih panjang, tetapi lebih dekat dengan kenyataan manusia yang kompleks.
Dalam kerangka buku induk, kata “determinisme” berfungsi sebagai peringatan. Pembaca diajak memahami manusia secara holistik: sebagai tubuh biologis sekaligus pembuat makna, pengguna bahasa, anggota masyarakat, pewaris sejarah, dan pelaku perubahan. Evolusi membantu menjelaskan manusia sebagai spesies. Tetapi untuk memahami kehidupan manusia secara penuh, evolusi harus dihubungkan dengan kebudayaan, sejarah, lingkungan, dan kekuasaan—bukan dijadikan penjelasan tunggal yang menutup semua pertanyaan lain.
References
Boas, Franz. 1940. Race, Language, and Culture. New York: Macmillan.
Darwin, Charles. 1859. On the Origin of Species by Means of Natural Selection. London: John Murray.
Gould, Stephen Jay. 1981. The Mismeasure of Man. New York: W. W. Norton.
Lewontin, Richard C., Steven Rose, and Leon J. Kamin. 1984. Not in Our Genes: Biology, Ideology, and Human Nature. New York: Pantheon Books.
Stocking, George W., Jr. 1968. Race, Culture, and Evolution: Essays in the History of Anthropology. New York: Free Press.